
Rendi sadar kalau dirinya yang sudah bergerak melakukan reformasi pada kampung Karbal, jelas akan membuat riak para orang-orang rakus.
Walikota yang datang padanya, ia anggap sebagai peringatan pada dirinya agar selalu bersikap hati-hati dengan kehidupannya sekarang.
"Bos, siapa dia?" tanya Hendri saat Walikota sudah pergi.
"Walikota," jawab Rendi santai.
"Walikota?! Bos serius?" tanya Hendri terkejut.
Rendi menatap bawahannya itu. "Memangnya aku pernah berbohong padamu?"
Hendri menelan ludah, ia menggelengkan kepalanya dengan takut, saat melihat Rendi bertanya dengan dingin.
Rendi kembali fokus melihat layar ponselnya, ia sekarang sudah mulai mengecek perusahaannya melalui ponsel. Laporan keuangan semua perusahaannya di kirimkan padanya lewat email, setelah ia meminta para CEO yang memegang perusahaannya untuk mengirimkan itu setiap akhir bulan.
...***...
Satu Minggu berlalu dengan cepat, hari ini Rendi akan berangkat ke Jakarta, ia mengembalikan kunci kontrakan pada Pak Toto, semua barang-barangnya juga di hibahkan pada para bawahannya.
__ADS_1
Sulis, Novi, Harisman dan yang lainnya ada di sana, karena mereka di beritahu Rendi kalau mulai hari itu ia akan tinggal di Jakarta, untuk sesegera mungkin mewujudkan mimpinya.
"Sulis, kamu wanita yang tangguh, terus gapai apa yang kamu inginkan," ucap Rendi sambil tersenyum.
Sulis mengangguk. "Pasti Ren, aku pasti akan mewujudkan mimpiku!" jawabnya mantap.
Rendi tersenyum simpul, ia kemudian menoleh ke arah Novi. "Nov, aku tunggu kamu di Jakarta, kalau nanti sudah di sana hubungi aku."
Novi mengangguk. "Sampai ketemu lagi Ren," ucap Novi dengan sedih.
Rendi memeluk kedua gadis, agar mereka tidak terlalu bersedih, dan tetap tegar meskipun akan jarang ketemu dengannya.
"Hei, kita tidak akan berpisah selamanya, aku juga akan sesekali pulang kemari, kalian jangan bersedih seperti ini, dan kamu Harisman, aku serahkan bisnis Nasi goreng ke tangan kamu, buatlah bisnis ini semakin berkembang agar bisa merekrut orang-orang yang membutuhkan pekerjaan," ucap Rendi sambil menepuk bahu Harisman.
Harisman memeluk Rendi. "Terimakasih banyak bos, berkat anda, kami sekarang sudah benar-benar menjadi orang, kami tidak akan pernah melupakan kebaikan anda."
Rendi menepuk-nepuk bahu Harisman, ia juga sebenarnya sedih jika harus meninggalkan mereka semua, tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mau terpaku dengan kenyamanan hidup di sana, ia harus mencapai mimpinya yang lebih besar lagi.
Rendi melepaskan pelukannya, ia naik ke dalam mobil sambil melambaikan tangan pada mereka semua. Sulis dan Novi terlihat paling sedih, menatap kepergian Rendi, tapi mengingat Rendi sudah menjabarkan semua cita-citanya pada mereka berdua, keduanya tidak menahan Rendi sama sekali.
__ADS_1
Mobil pun mulai jalan meninggalkan mereka semua. Terlihat semuanya melambaikan tangan pada Rendi, begitupun Rendi, hingga mobil Rendi benar-benar sudah menjauh.
Terlihat salah satu bawahan Harisman menyeringai saat mobil Rendi sudah tidak terlihat lagi, ia juga mengirim pesan pada seseorang.
Tidak ada yang mencurigainya sama sekali, kenapa tiba-tiba ia menyeringai seperti itu.
...***...
Selama satu Minggu belakangan, Rendi tidak mengambil hadiah dari Sistem, itu semua karena ia terlalu sibuk untuk menyiapkan segala sesuatu untuk kembali ke Jakarta dan mengecek semua perusahaannya. Namun, Sistem tidak rusak sama sekali, karena memang jika Rendi tidak mengambil hadiah itu tidak masalah, yang pasti setiap hari Sistem selalu aktif.
Di dalam mobil, saat mobil sidah masuk tol, Rendi baru teringat dengan Sistemnya, ia mengambil Sistem tersebut sambil tersenyum.
"Sudah satu Minggu aku melupakanmu, mari kita lihat, apa yang akan kamu beri padaku sekarang," ucap Rendi lirih.
Rendi menekan Sistem, seperti biasa jarum Spin berputar dengan cepat, setelah itu berhenti. Bersamaan dengan itu mobil tiba-tiba meledak.
Booommm
Suara ledakan sangat besar terjadi, api berkobar sangat besar, asap pun mengepul tebal ke langit.
__ADS_1
Kebetulan jalan tol sedang sepi, sehingga tidak ada yang melihat mobil Rendi meledak sangat hebat.