
Ke esokan harinya ....
Setelah berpesta semalaman, seperti biasa bawahan Rendi terkapar sampai pagi.
Rendi kali ini bangun pukul enam tiga puluh, berbeda saat ia di Jakarta yang selalu bangun kesiangan.
Saat Rendi bangun, ia mendengar suara orang mandi, ia yakin kalau itu adalah Hendri, karena sopirnya itu sangat perfeksionis masalah waktu.
Benar saja tidak berselang lama, Hendri keluar dari kamar mandi, ia melihat Rendi yang sudah menunggunya untuk gantian mandi.
"Eh, bos sudah bangun?" ucap Hendri sedikit terkejut.
"Hari ini aku sekolah, ya harus bangun pagi dong, sudah aku mau mandi dulu," Rendi bergegas masuk ke kamar mandi.
Sementara itu Hendri bergegas mengenakan pakaian untuk mengantar Rendi ke sekolah.
Harisman dan yang lainnya masih belum bangun, Hendri yang melihat itu menggelengkan kepalanya, tapi melihat Rendi saja tidak membangunkan mereka, jadi ia juga membiarkan Harisman dan yang lainnya tetap tidur.
Hendri keluar dari kontrakan, ia berencana membereskan sampah sisa semalam sambil menunggu Rendi, tapi ia sedikit terkejut saat sampah di sana semuanya sudah di bungkus ke dalam plastik semua, hanya tinggal membuangnya saja.
"Anak-anak ini ternyata rapi juga, walaupun tampangnya sangar-sangar," ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Hendri bergegas ke mobil, ia menghela napas lega saat melihat mobil bosnya masih terparkir di dekat gang, ia masuk ke mobil dan memanaskan mesinnya.
Tidak berselang lama, Rendi datang dengan sudah mengenakan seragam rapi anak SMA. Handri yang melihat itu, iya baru teringat kalau bosnya masih bocah.
"Kita langsung berangkat, bos?" tanya Hendri sopan.
Rendi mengangguk, Mobil pun langsung jalan menuju sekolahan Rendi, tentu dengan Rendi yang memberikan petunjuk pada Hendri.
Hanya butuh waktu lima belas menit saja, mobil sampai di sekolahan Rendi, nampak terlihat teman-teman Rendi memerhatikan mobilnya.
Mereka semua tentu penasaran siapa yang naik mobil tersebut, pasalnya mereka tahu kalau mobil Fortuner hampir tidak ada di kampung.
"Oh ... Rendi, pantas saja mobil itu berhenti di sini."
"Gila yah, ternyata diam-diam Rendi kaya banget!"
"Bener tuh, kalian tahu kedai nasi goreng sangar dekat perempatan pasar larangan, bukan? Itu katanya milik Rendi!"
"Astaga, jadi dia sekaya itu yah, mana nasi goreng di sana enak dan ngantrinya edan lama banget!"
Teman-teman Rendi tentu langsung membicarakannya, mengingat sekarang ia sudah menjadi icon sekolah SMA Larangan.
__ADS_1
Rendi yang mendengar pembicaraan teman-temannya saat berjalan, ia tidak menggubrisnya, lebih baik ia tidak terlibat sama sekali, daripada harus di interogasi oleh mereka.
Hendri membawa mobilnya pulang ke kontrakan, karena Rendi menyuruhnya untuk pulang, dan menjemputnya saat ia mau pulang.
...***...
Di kampung Karbal, tempat Rendi dulu hidup susah, terlihat mobil polisi yang menyeret orang terkaya di sana.
Ayah Sulis yang merupakan juragan bawang di sana, ia menghela napas saat melihat orang tersebut di bawa ke kantor Polisi.
"Bapak tahu kenapa Pak Kadrun di tangkap Polisi?" tanya Ibu Sulis ke suaminya.
"Bapak juga tidak tahu Bu, tapi katanya Pak Kadrun selama ini bergaul dengan para penjudi, ia kalah judi dan membacok orang tersebut hingga tewas!"
"Astaga, kejam amat Pak," seru Ibu Novi.
"Begitulah Bu, orang kalau sudah tersesat ya begitu, sudah tidak perduli baik buruknya lagi, apa lagi semua sawah Pak Kadrun juga ludes di jual, hartanya sekarang hanya tinggal rumah saja!" ucap Ayah Sulis tidak berdaya.
Alasan kenapa Sawah Pak Kadrun menjadi milik Rendi dari hadiah Sistem Spin, itu semua karena Pak Kadrun menjual sawahnya secara online, ia ingin cepat-cepat mendapatkan uang, untuk berjudi, karena itulah pihak Sistem Spin bergerak dengan cepat dan membeli semua sawah Pak Kadrun dan hasilnya seperti sekarang. Hartanya hilang, di tambah harus mendekam dalam penjara.
Sudah dari dulu, Judi itu tidak di anjurkan, walaupun awalnya hanya sebatas senang-senang saja, tapi lebih baik jangan mencobanya, karena orang jika sudah mencoba pasti akan timbul rasa penasaran nantinya dan akhirnya ya kaya Pak Kadrun, yang seharusnya tinggal duduk manis menikmati Kekayaannya, sekarang dia harus merasakan dinginnya kamar tanpa alas tersebut.
__ADS_1