
Fina tentu saja terkejut saat melihat Rendi ada di rumahnya, sedang bercanda dengan Ibunya.
"Rendi! Astaga, jadi ini alasan kamu menolak aku?" ucap Fina sambil menutup mulutnya tidak percaya.
Rendi mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu Fin?" tanyanya bingung.
"Ini, kamu berduaan dengan Ibuku selama aku pergi jalan dengan temanku, jangan-jangan kalian...."
"Fina! Apa maksudmu? Menuduh Ibu yang bukan-bukan?" tegur Sera kepada anak tirinya itu.
"Benar kata Ibu, jangan menuduh orang sembarangan, tidak baik itu," timpal Rendi.
Fina tersenyum kecut, ia sadar telah melakukan kesalahan, hingga akhirnya meminta maaf dan duduk di samping Sera.
"Jadi, kenapa kamu ke sini Ren? Kangen yah sama aku," Fina menaik turunkan alisnya.
"Fin, Rendi itu anak kandung ibu, kalian itu saudara," ucap Sera sambil mengusap punggung Fina.
Kepala Fina langsung berdengung, ketika mendengar perkataan Ibunya. Ia tidak percaya kalau Rendi adalah anak kandung Ibunya.
Fina menatap Rendi lekat-lekat, ia kemudian menoleh ke arah Ibunya dan bertanya. "Ibu sedang bercanda kan? Bukankah Ibu mengatakan kalau Ibu tidak punya anak selama ini?!"
Fina tentu saja tidak percaya dengan perkataan orang yang telah merawatnya sejak kecil itu, karena tiba-tiba mengatakan Rendi anaknya.
__ADS_1
Sera bingung mau menjelaskannya kepada Fina seperti apa, karena ia memang telah menutupi keberadaan Rendi selama ini.
"Ibu tidak berbohong Fin, ini adalah foto keluarga kami." Rendi menunjukan foto pemberian Ibunya, menaruhnya di meja." Yang di tengah itu Nenek aku, selama ini aku tinggal dengannya, sebelum dia meninggal. Ibu meninggalkan aku sejak kecil, sehingga aku tidak mengenali wajahnya sama sekali, setelah melihat foto ini, aku percaya kalau dia Ibuku, dan ini foto bayiku yang di gendong oleh Nenek."
Rendi menunjukkan foto itu tanpa ragu kepada Fina, jelas saja Fina hanya bisa menatap Ibunya dengan sedih, ternyata wanita yang telah membesarkannya itu sejak kecil, menyimpan sebuah rahasia besar yang tidak ia dan Ayahnya tahu.
"Kenapa Ibu berbohong pada kami, Bu?" tanya Fina yang mulai menitihkan air matanya.
"Karena Ibu sudah terlanjur jatuh cinta dengan Ayahmu, Ibu tahu telah melakukan kesalahan besar, membohongi kalian dan Rendi, Ibu terlalu egois."
ers
Sera kembali menangis, ia menyadari kesalahannya sangat fatal. Rendi menghampirinya dan memeluk orang yang telah melahirkannya tersebut. Tidak ada dendam sama sekali, ia begitu tulus menerima Ibunya, terlepas dari kesalahan yang di buat olehnya.
"Ren, lebih baik kamu pulang dulu, biar Ibu bicarakan ini dengan Fina dan suami Ibu terlebih dahulu, nanti Ibu datang ke rumah kamu," ucapnya dengan lembut.
Rendi mengangguk mengerti, ia pun pamit pulang, meninggalkan rumah Ibunya, walaupun sebenarnya ia masih ingin di sana.
Rendi pulang ke rumahnya, hari itu ia cukup senang, setidaknya kerinduannya sudah sedikit terobati.
...***...
Malam harinya Rendi sedang terbaring di tempat tidurnya, tiba-tiba ia mendengar batin seseorang.
__ADS_1
Bersenang-senanglah dulu, malam ini akan menjadi malam terakhir untukmu, Rendi Murdianto!
Sontak saja Rendi terkejut, ia seketika menoleh ke arah balkon, terlihat seseorang yang tadi mengintip dan langsung menyembunyikan dirinya.
Rendi tersenyum, ia mematikan ponselnya juga lampu kamar, dan pura-pura tidur.
Pembunuh bayaran tersenyum, karena ia sebentar lagi akan melakukan rencananya yang ia kira sudah berjalan dengan sangat lancar.
Rendi menyelimuti dirinya, setelah beberapa saat ia pura-pura mendengkur halus, agar aktingnya tambah sempurna.
Sesuai dugaan pembunuh bayaran perlahan membuka balkon dengan hati-hati. Suara langkah kaki terdengar di telinga Rendi, tapi ia membiarkannya.
Pembunuh bayaran menyeringai di gelapnya kamar tersebut sambil mengeluarkan jarum suntik, dengan hati-hati ia menyuntikkan sesuatu kepada Rendi.
Suntikkan tersebut sudah masuk ke dalam tubuh Rendi, tapi ketika ia mau pergi, Rendi menarik tangan pembunuh bayaran, hingga pembunuh bayaran tersebut terkejut.
Rendi langsung mengunci pembunuh bayaran dengan memiting lehernya dan tubuhnya menggunakan kaki di tempat tidurnya.
Tangan kiri Rendi mennggerayangi tubuh pembunuh bayaran tersebut yang sedang berontak, untuk mengantisipasi ia tidak membawa senjata.
Tapi ia tidak sengaja memegang benda kenyal di dada pembunuh bayaran. "Eh, kok kenyal?"
"Aw... Brengsek singkirkan tanganmu dari situ!" bentak pembunuh bayaran tersebut yang ternyata seorang wanita.
__ADS_1
Tapi Rendi yang sudah keasyikan memainkan benda kenyal tersebut sampai lupa diri, sehingga membuat pembunuh bayaran mendesah lemah.