
Hari itu juga Rusdianto langsung berangkat ke Brebes, tepatnya di desa Karbal. Bukan hanya karena ia akan menjalankan tugasnya, tapi Rusdi ingin bertemu Rendi yang memiliki julukan pebisnis cerdas.
Sulaeman juga langsung menyiapkan alat-alat yang di butuhkan, sementara Rindi menelpon pihak pemborong, semua itu di lakukan dengan cepat, bisa di katakan kerja mereka sangat cepat.
Jika ada pekerja konstruksi yang bilang kalau itu semua mustahil bisa di lakukan satu hari, tapi di dunia Rendi tidak ada yang tidak mungkin, mendapatkan perusahaan dengan cara mengklik sebuah benda saja bisa, apa lagi ini yang menyuruh para bawahannya.
...***...
Sementara PT Spin Konstruksi sedang ribut dengan pengaturannya, Rendi malah sedang asyik bermain ponselnya sambil menunggu Hendri pulang membelikan pesanannya.
Tidak berselang lama Hendri pulang membawa pesanan Rendi, ia bergegas masuk ke dalam kontrakan.
"Maaf lama, saya hampir saja nyasar bos," ucapnya seraya duduk dan menaruh makanan yang ia beli di hadapan Rendi.
"Lah, kok bisa? Memangnya kamu lewat mana?" tanya Rendi memastikan.
"Tadi saya lewat gang satu bos, untung tadi ada orang yang ikut pesta, terus aku di tunjukkin gang ini," jawabnya sambil membuka aneka jajanan yang ia beli.
Rendi mengerutkan keningnya. "Mobil segede itu, kamu tidak melihatnya?"
"Namanya juga orang lupa bos, habisnya di sini banyak gang sih."
__ADS_1
Rendi menghela napas, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, ternyata para bawahannya, ada saja yang selalu bertingkah aneh.
Mereka berdua menikmati jajanan yang di beli Hendri, Rendi sesekali melihat ponselnya, ia membalas pesan dari Novi, Sulis dan Fina.
...***...
Sementara itu, Rusdi yang sudah berangkat dari Jakarta sejak siang tadi, ia sampai di Brebes saat sudah jam delapan malam.
Rusdi yang berangkat bersama dengan bawahannya, ia masuk ke desa karang bale. Rusdi langsung ke RT setempat untuk mencari tempat tinggal sementara dan bertanya kondisi jalan Kampung Karbal.
Setelah bertanya-tanya pada Pak RT dan ia sudah mengetahui garis besarnya, ia kemudian menuju rumah kosong yang di kontrakkan oleh pemiliknya.
Rusdi dan bawahannya yang tidak tahu kalau rumah kontrakan itu sudah kosong lama, mereka bodo amat, yang penting dapat tempat murah untuk menginap.
"Hotel, Hotel! Gaji kamu berapa, sok-sokan mau tidur di Hotel, sudah di sini saja yang murah!" tegur Rusdi pada bawahannya itu.
Mobil mereka masuk ke dalam halaman Rumah, Rusdi yang tidak percaya adanya jurig, ia dengan santai masuk ke dalam rumah tersebut, berbeda dengan bawahannya yang dari tadi sudah ketakutan.
"Apaan sih Tomo!" bentak Rusdi karena anak buahnya terus menguntitnya dari belakang.
"Aku takut bos," jawabnya dengan tangan gemetaran.
__ADS_1
"Takut-takut! Malu tuh sama burung yang sudah brewokan!" bentak Rusdi lagi.
Tomo tersenyum getir, ia mau tidak mau masuk ke dalam rumah tersebut bersama Rusdi yang terlihat begitu santai saat masuk ke sana.
Terlihat dalam rumah tersebut cukup terawat, hanya saja memang kosong, tidak ada perabotan rumah yang menghiasi setiap ruangan.
"Rumah ini bersih juga," Rusdi yang melihat tikar, ia langsung menggelarnya di lantai, kemudian menaruh tasnya dan duduk sambil bersender di dinding.
Tomo masih ketakutan, ia menyapu pandangannya ke setiap sudut ruangan tersebut, sambil duduk di sebelah Rusdi.
"Sudah tidur saja, besok baru kita survei langsung dan berikan datanya pada Pak Sulaeman!" perintah Rusdi lembut pada bawahannya.
Tomo mengangguk, ia merebahkan tubuhnya di tikar, sambil meringkuk. Baru saja ia merebahkan tubuhnya tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah.
Klontang!
Suara tersebut sangat kerasa, seperti kaleng yang terkena lemparan batu. Sontak saja Tomo langsung terbangun dan memeluk Rusdi.
Rusdi juga ikut terkejut, ia melepaskan pelukan Tomo dan bergegas keluar dari rumah, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Rusdi membuka pintu dengan perlahan, sementara Tomo mengikutinya dari belakang dengan tubuh gemetaran.
__ADS_1
Saat mereka membuka pintu terlihat sesosok orang berpakaian putih di depan Pintu.
"Se-Se...." belum selesai bicara Tomo sudah jatuh pingsan.