
Mereka berdua tanpa merasa bersalah sama sekali pulang ke apartemen.
Mei Ning sepanjang pulang dari tugas keduanya itu, wajahnya cemberut terus, wanita itu sudah bosan menahan diri untuk tidak menggoda Rendi.
"Kamu kenapa? Apa sembelit?" tanya Rendi pongah ketika masuk dalam apartemen.
"Gak, aku capek! Mau istirahat!" ucap Mei Ning sambil mendengus kesal.
Rendi menarik tangan Mei Ning, ia langsung mengecup bibir Mei Ning. Sontak saja wanita itu terkejut, tapi sesaat kemudian ia langsung membalas dengan rakus.
Rendi melepaskan pagutannya, tampak ekspresi kecewa dari wanita itu tersirat jelas dari wajahnya.
Rendi mengusap bibir Mei Ning. "Itu hadiah untuk kerja rapi kamu, jangan meminta lebih," ucap Rendi sambil tersenyum kemudian meninggalkan wanita itu ke tempat tidurnya.
Mei Ning menghentak-hentakan kakinya, padahal ia berharap lebih, tapi Rendi malah mengakhirinya begitu saja. Namun, sekarang perasaan wanita itu sedikit berbunga, setidaknya sudah ada lampu hijau dari Rendi.
Berbeda dengan Mei Ning, Rendi tahu betul kalau wanita itu sangat menginginkan dirinya, karena itulah ia memberikan kecupan tersebut, tujuannya agar Mei Ning semangat dalam melakukan tugasnya dan mengira akan ada hadiah lain yang akan di berikannya.
Ternyata dugaan Rendi benar, kalau Mei Ning benar-benar sangat senang walau hanya melakukannya hal tersebut.
Rendi mulai mengatur rencana lainnya. Namun, tiba-tiba ponselnya berbunyi, nomor tidak di kenal yang menghubunginya.
Rendi mengernyitkan dahi, ia menatap layar sebentar kemudian mengangkatnya. "Siapa ini?" tanya Rendi langsung.
"Rendi, Ini aku Novi!" ucap Novi di seberang telepon.
__ADS_1
"Loh, nomor kamu ganti?" tanya Rendi lagi.
"Iya, ponselku hilang di kampus, jadi aku beli ponsel baru, makanya aku langsung menghubungi kamu," jawab Novi tidak berdaya.
"Oh gitu yah, ya sudah aku save yah," ucap Pria itu lembut.
"Oke, ngomong-ngomong kapan kamu pulang? Jangan lama-lama Ren," rengek Novi.
Rendi menghela napas. "Nanti juga aku pulang, sudah yah aku masih ada kerjaan,"
"Ya sudah deh, hati-hati kerjanya beb! Bye." Novi mematikan ponselnya.
Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut, ia kemudian menyimpan nomor Novi di kontaknya.
Mei Ning memerhatikan Rendi yang sesudah menelpon sambil tersenyum-senyum sendiri, ia yakin itu kekasihnya. Wanita itu merasa cemburu, karena ia juga ingin mengobrol mesra dengan pria yang di kaguminya itu.
Sementara itu, di Hotel tempat Suryono menginap setelah sore hari, tampak pelayan Hotel membersihkan kamar sebelah, tentu saja hal tersebut membuat pengawal yang berjaga di depan pintu merasa janggal.
"Tunggu! Bukankah kamar ini ada penghuninya?" tanya pengawal langsung.
"Maaf Tuan, tamu di sini sudah Cek out tadi pagi," jawab pelayan.
"Sial!" pengawal tersebut langsung ke kamar bosnya. Ia menggunakan kunci cadangan yang sudah di berikan petugas Hotel.
"Tuan!" pengawal terkejut ketika tuan mereka mati gancet dengan mulut berbusa.
__ADS_1
Pengawal mencari sesuatu dari sana, tidak ada apa-apa, hanya ada jendela balkon yang terbuka akibat tarikan selang Mei Ning yang sengaja ia lakukan agar asap racun keluar dari sana terbawa angin.
"Brengsek! Cepat lihat CCTV, cari pelakunya!" perintahnya geram.
Pengawal itu menggertakkan giginya, ia tidak menyangka akan kecolongan seperti itu, padahal mereka sudah berjaga dengan ketat.
Pengawal kemudian mengingat wanita yang keluar dari kamar itu, ia langsung menghubungi orang yang bisa melukis wajah seseorang hanya dengan ungkapan saja.
Hotel tersebut di buat Heboh oleh kematian Suryono, Polisi setempat juga berdatangan untuk melakukan olah TKP.
Sayangnya tidak di temukan apapun di sana, bahan makanan atau minuman pilin tidak ada yang beracun sama sekali.
Berita kematian tersebut langsung menyeruak ke kelompok mafia lainnya, tentu saja kali ini mereka yakin kalau ada yang sedang mengincar mereka.
Disebuah hot bintang lima, seorang pria paruh baya yang sedang menghisap cerutu, sedang duduk di sofa dengan para bawahannya yang sedang menunggu perintah.
"Cari orang yang berani menghabisi Suryono, hidup atau mati, aku ingin tahu sekuat apa orang ini!" perintahnya ketus.
"Tuan, sepertinya orang ini sangat profesional, kita juga perlu profesional juga untuk melakukan pekerjaan ini," ucap tangan kanan Pria tersebut.
Pria paruh baya itu mengangguk mengerti. "Kamu benar, cepat hubungi Xiongshou ! Dia pasti bisa melakukan tugas ini dengan baik!" perintah Pria itu penuh percaya diri.
"Baik Tuan!"
Nama Xiongshou memang sudah menggema di seluruh kalangan Mafia, karena itulah ia selalu mendapatkan banyak tugas pembunuhan dari mereka, tapi tentu saja untuk menghubungi Xiongshou hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki nomornya.
__ADS_1
Yang tidak pria itu ketahui, Xiongshou yang terkenal itu orang yang sedang bersama Rendi, ya itu Mei Ning.