
Setelah drama kehilangan Sistem Spin dan pemberian Sistem yang menakjubkan itu sudah selesai.
Rendi pergi membersihkan diri, selepas itu menyiapkan barang-barangnya yang akan ia bawa ke jakarta besok.
Kali ini Rendi tidak akan melupakan Sistem Spin lagi, ia menaruhnya di tas bersama dengan emas yang akan di bawanya ke Jakarta. Tentu Rendi memisahnya di kantong yang tidak bercampur dengan emas tersebut.
"Semuanya sudah siap, nanti aku beli tas kecil saja buat menyimpan ponsel dan Sistem Spin, tunggu dulu, di toko bajuku ada gak yah tas kecil seperti itu?" Rendi kepikiran dengan toko bajunya.
Rendi kemudian langsung menelpon Soni untuk menanyakan tas kecil yang ia maksud.
"Halo bos, ada yang bisa saya bantu?" ucap Soni saat mengangkat panggilan Rendi.
"Itu Pak Soni, apa di toko ada tas kecil slempang?" tanya Rendi langsung ke intinya.
"Tas kecil Slempang?" Soni seperti berpikir sebentar, kemudian ia yang mengerti maksud Rendi menjawab. "tidak ada bos, tapi kalau bos mau, saya bisa mencarikannya untuk anda."
"Gitu yah, ya sudah tolong Carikan, nanti uangnya aku ganti, sekalian kirim ke kontrakan aku." ucap Rendi sopan.
"Baik bos, nanti saya suruh karyawan untuk mengantarnya." jawab Soni bersungguh-sungguh.
"Terimakasih." Rendi langsung mematikan ponselnya.
__ADS_1
Selepas menelpon Soni, Rendi berbaring di tempat tidurnya, rasanya menunggu esok hari sangatlah lama, hingga akhirnya Rendi memutuskan untuk pergi jalan-jalan dengan motornya.
Rendi sengaja tidak menghubungi Novi ataupun Sulis, ia ingin waktunya di habiskan seorang diri saja.
Rendi mengendarai motornya tanpa arah, tanpa terasa ia sampai di pemakaman kedua orang tua dan neneknya.
Tentu saja Rendi langsung berhenti di sana, ia sudah sangat lama tidak menengok makam orang tuanya, sehingga ia merasa sangat bersalah.
"Lama sekali aku tidak kemari." gumam Rendi saat turun dari motornya.
Ia berjalan ke arah makam orang tuanya, makam tersebut walaupun di desa tapi tergolong terawat, karena kuncen kuburan dengan baik merawat makam-makam tersebut.
Saat Rendi beberapa meter lagi akan sampai di makam orang tuanya, ia di kejutkan dengan seorang wanita memakai pakaian serba hitam yang sedang menabur bunga di sana.
"Maaf, anda siapa yah? Ke ...." Rendi belum selesai bicara wanita tersebut tampak terkejut, tanpa menoleh ke arah Rendi ia berlari meninggalkan Rendi dengan cepat.
Sontak saja Rendi kaget, padahal ia bertanya baik-baik, tapi orang tersebut lari tunggang-langgang seperti maling saja.
Rendi melihat orang tersebut yang terus berlari tanpa menoleh, ia tidak mengejarnya, karena tidak merasa kenal dengan orang tersebut.
"Siapa orang itu? Apakah dia salah makam?" gumam Rendi.
__ADS_1
Rendi menghela napas, ia mendekat ke makam kedua orang tua dan neneknya, saat ia jongkok melihat makam tersebut. Ia mengerutkan kening saat yang di tabur bunga cuma makam Ayah dan Neneknya, sementara makam Ibunya tidak di taburi bunga.
"Sepertinya dia memang salah makam." Rendi tidak curiga sama sekali dengan orang itu.
Rendi melupakan orang tersebut, ia membacakan doa untuk ketiga orang tuanya itu dengan kusyuk.
Selepas selesai membacakan doa, Rendi memegang batu nisan Neneknya. "Nek, Rendi sekarang sudah memiliki banyak uang, Rendi juga sudah punya banyak teman, kehidupan Rendi sudah tidak seperti dulu lagi, ini semua berkat Nenek yang selalu mendoakan Rendi dulu."
Tanpa terasa bulir bening menetes dari pelupuk mata Rendi, ia benar-benar rindu dengan neneknya. Untuk Ayah dan Ibunya juga rindu tapi tidak serindu dengan neneknya yang telah merawatnya.
"Jika saja Rendi bisa menikmati kehidupan yang layak ini bersama nenek, tentu kebahagian Rendi akan sangat sempurna. Rendi sangat rindu dengan Nenek."
Tangis bocah SMA itu tidak tertahankan lagi di makam Neneknya, ia menangis sejadi-jadinya, teringat dengan masa lalu yang begitu pahit, masa lalu yang penuh dengan penderitaan.
Semua kenangan pahit yang ia alami sewaktu Neneknya masih hidup jelas masih terukir di dalam ingatannya, walaupun kehidupannya yang sekarang sudah berubah seratus delapan puluh derajat, tapi hal tersebut tidak bisa langsung menghapus begitu saja kenangan-kenangan pahit itu.
Dari kejauhan, wanita yang tadi di makam Rendi, ia menyaksikan Rendi yang sedang menangis tersedu-sedu di makam Neneknya.
Wanita itu terlihat ikut menitihkan air matanya. Terlihat tangannya mengepal, ada sedikit semburat ekspresi bersalah di wajahnya. Namun, ia segera pergi dari sana.
Wanita itu naik mobilnya dengan air mata berlinang. "jalan pak, Kita langsung pulang ke Jakarta!"
__ADS_1
"Baik Nyonya!" jawab sang Sopir patuh.