Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Antisipasi


__ADS_3

Jika ada yang menyukai, pasti ada yang membenci. Pro, kontra itu selalu ada seperti keadaan damai yang di alami negara Rendi sekarang.


Seorang pengusaha dari China yang merupakan Taipan di sana, ia merasa kesal dengan kebijakan Malik, karenanya ia tidak bisa bebas membuka bisnis di negara tersebut.


Di kediaman Taipan tersebut, tampak ia sedang duduk kesal di kursinya.


"Xie Jie! Apa tidak ada orang yang mampu membunuh Malik di dunia ini?!" tanyanya kesal kepada Asistennya.


"Tuan, jangan berpikiran seperti itu, takutnya ada yang mendengar," jawab Asistennya khawatir.


"Biar sajalah! Gara-gara Malik semua rencana yang sudah aku susun rapi semuanya berantakan! Sudah bagus kita bisa membuka bisnis di sana!" raungnya kesal.


"Tuan, tenangkan diri anda," Xie Jie tampak ketakutan, pasalnya ia mendengar kalau bawahan Malik di sebar ke berbagai negara, untuk mengantisipasi ada orang-orang yang akan menyerangnya.


Tampak pria itu benar-benar marah, padahal menurutnya pasar Indonesia sangat bagus. Orang-orangnya juga mudah terjerumus dengan hal-hal yang tidak perlu.


Xie Jie hanya tersenyum kecut, ia tidak tahu harus berbuat apa. Mau bagaimana pun dirinya hanyalah bawahan.


"Xie Jie, coba kamu hubungi Luo Rou, siapa tahu dia punya kenalan pembunuh bayaran yang hebat!" perintahnya tegas.


"Baik tuan!" jawab Xie Jie patuh.

__ADS_1


Xie Jie yang menghubungi Luo Rou tampak ia serius bertanya kepada orang di seberang telepon. Tuannya itu mendengarkan sambil duduk.


Tampak Xie Jie sangat bersemangat ketika sudah selesai menelpon. Ia bergegas menghampiri tuannya tersebut.


"Tuan, Luo Rou bilang kalau sudah ada seseorang yang mengutus pembunuh bayaran, kita hanya disuruh menunggu saja," ucapnya lega.


"Benarkah? Bagus-bagus," ucap orang tersebut bersemangat.


"Ya bagus untuk kalian!" tiba-tiba terdengar suara seseorang menginterupsi.


Seketika mereka berdua menoleh, keduanya langsung berkeringat dingin saat melihat seorang pria menodongkan pistol ke arah mereka berdua.


Dor


Dor


Luo Rou ,merupakan salah satu bawahan Malik, ketika ia mendapatkan telepon dari Xie Jie, jelas saja pria itu langsung marah, ia menggunakan ponsel lainnya untuk menghubungi orang yang posisinya dekat dengan kediaman Taipan tersebut, untuk segera membunuhnya.


Demi kenyamanan hidupnya, Luo Rou jelas tidak mau menghianati Malik, karena ia tahu sangat berat resikonya jika melawan orang itu. Lagi pula Malik juga tidak merugikan negaranya, hanya para pebisnis yang merasa di rugikan. Jadi tidak ada salahnya ia melakukan pekerjaan kotor sekalipun untuk membunuh para pembenci tuannya.


...***...

__ADS_1


Dikediaman Rendi berada, tampak Sulis yang sedang beristirahat siang. Fina juga sudah pulang dari rumah Rendi.


Pria itu mendekati Sulis, ia tersenyum sambil membelai rambut gadis yang di cintainya itu. "Mudah-mudahan ini berhasil, aku ingin melihatmu seperti dulu lagi," gumamnya lirih.


Rendi memegang kedua pinggul Sulis, ia fokus untuk menggunakan teknik penyembuhannya.


Energi alam yang tidak bisa di jelaskan secara ilmiah terkumpul di tangan Rendi. Pria itu menyalurkan energi tersebut ke tubuh Sulis, tepatnya di tulang ekornya.


Sulis yang sengaja sedikit di beri obat tidur oleh Rendi, ia tidak terbangun sama sekali ketika saraf tulang ekornya mulai di regenerasi oleh kemampuan Rendi.


Perlahan tapi pasti saraf-saraf rusak di tulang ekor Sulis beregenerasi, mereka perlahan kembali pulih seperti semula.


Tampak Sulis yang bermandikan keringat, walaupun sudah meminum obat tidur pemberian Rendi, tapi alam bawah sadarnya tampak merasakan rasa sakit.


Rendi terus menyembuhkan wanita itu, dengan mata Dewanya ia mulai melihat kalau saraf tulang ekor Sulis sudah terbentuk, ketika semuanya sudah terbentuk dengan sempurna. Ia mengakhiri penyembuhannya.


Rendi menghela napas lega, kemudian tersenyum menatap wajah gadisnya. Pria itu mengecup kening Sulis dan membiarkannya beristirahat, sementara dirinya pergi keluar dari kamar Sulis.


"Tuan, anda mau makan sekarang atau nanti?" tanya Sebastian ketika Rendi sudah turun dari lantai atas.


"Ya aku akan makan sekarang," jawabnya sambil pergi ke meja makan.

__ADS_1


Rendi menikmati makannya, kini beban dalam pikirannya sudah terangkat. Ia yakin akan melihat Sulis bisa berjalan lagi seperti dulu.


Melihat tuannya yang senyum-senyum sambil makan, Sebastian merasa heran. Pasalnya sangat jarang ia melihat Rendi tersenyum seperti itu setelah Sulis lumpuh, selama tiga bulan ini. Senyum yang di buat Rendi hanyalah palsu, ia tahu akan hal itu. Namun, sekarang ia melihat senyum tulus dari wajah Rendi yang selama tiga bulan belakangan tidak pernah tuannya itu perlihatkan.


__ADS_2