
Rendi akhirnya mau memaafkan Fina, mereka berdua duduk di salah satu kursi yang ada di taman kecil kafe tersebut.
Fina tidak peduli kalau semua orang memerhatikan mereka, yang penting ia merasa nyaman bersama Rendi.
"Kamu mau pesan apa Ren?" tanya Fina lembut.
"Emmm ... Kopi perahu layar, ada gak di sini?"
Fina mengerutkan keningnya. "ada kopi hitam, tapi bukan merk itu."
"Yo weslah, terserah kamu saja, yang penting kopi hitam."
"Oke!"
Fina memesan apa yang Rendi mau, dia juga ikut memesan minuman juga, tidak lupa dengan makanan ringannya.
Mereka berdua ngobrol-ngobrol biasa, Rendi juga menikmati suasana di kafe tersebut, pasalnya tempat itu rame, tidak seperti saat di kampung.
"Ren, orang tua kamu dimana, kok aku tadi gak liat di rumah kamu?" tanya Fina tiba-tiba.
Rendi tersenyum. "aku sudah tidak memiliki siapa-siapa." jawabnya santai sambil menyeruput kopi pesanannya.
"Eh ... maaf, aku gak tahu." sesal Fina yang bertanya perihal orang tua Rendi.
"Tidak apa, aku sudah terbiasa hidup sendiri, mereka juga sudah lama tidak ada, sejak aku kecil."
"Terus, semua bisnis kamu ini?"
"Semua milikku sendiri, aku tidak mau di tindas orang lain, karena itulah aku mencoba berbisnis."
Fina terkesiap dengan perkataan Rendi, padahal ia mengira kalau Rendi mewarisi bisnis orang tuanya, tapi ternyata semuanya bisnis dia sendiri.
Masih SMA tapi sudah memiliki bisnis yang sangat besar, apa dia sangat cerdas?
__ADS_1
Fina tentu penasaran dengan cara berpikir Rendi, pasalnya di umurnya yang masih sangat muda, sudah memiliki bisnis yang sangat besar.
Sementara Rendi hanya tersenyum getir, padahal ia tidak bermaksud membohongi Fina, tapi mau bagaimanapun lagi, ia juga tidak ingin membongkar rahasianya sendiri.
Saat mereka berdua sedang asyik ngobrol, tiba-tiba seorang pria datang menghampiri mereka dan menyiram Rendi dengan air.
Sontak saja Rendi terkejut, begitu juga dengan Fina, ia langsung menoleh ke arah pria tersebut.
"Andre! Apa yang kamu lakukan?!" hardik Fina marah.
"Apa yang aku lakukan? Seharusnya aku yang tanya seperti itu padamu! Jadi karena bocah ini kamu meninggalkan aku!?" raung Andre marah.
"Ini tidak ada hubungannya dengan dia! Aku mau putus denganmu, karena kita sudah tidak cocok!" Fina tidak mau kalah dengan pria itu.
Semua orang yang mendengar pertengkaran keduanya, mereka semua tentu langsung menoleh, apa lagi suara Fina dan Andre sangat keras.
"Ikut denganku!" Andre mencengkram lengan Fina.
"Tidak mau! Lepaskan aku!" Fina memukul-mukul tangan Andre.
Bang
Andre langsung tersungkur saat sebuah tinjuan mengenai wajahnya.
Fina terkejut, ia menoleh ke arah Rendi, terlihat wajah Rendi yang menggelap, ia menghampiri Andre yang terjatuh di tanah.
"Ren, sudah Ren, lebih baik kita pergi dari sini." Fina mencoba menahan Rendi agar tidak bertindak gegabah.
"Kamu diam dan duduk saja, jangan ikut campur!" suara Rendi begitu dingin dan tatapannya terlihat sangat tajam.
Fina yang tadi mencekal lengan Rendi, ia melepaskannya, wanita itu benar-benar di buat merinding oleh tatapan dan suara Rendi.
"Brengsek!" Andre meraung, ia bangkit dari jatuhnya dan menyerang Rendi.
__ADS_1
Rendi menghindar, ia mencekal lengan Andre kemudian memukuli wajahnya beberapa kali, hingga wajahnya babak belur.
Tiba-tiba teman-teman Andre yang ada di sana tidak terima melihat Andre di pukuli Rendi. Mereka yang berjumlah lima orang menyerang Rendi bersamaan. Namun, mereka bukanlah tandingan Rendi, ia dengan mudah mengalahkan mereka semua.
Semua orang yang ada di sana tentu saja terkagum-kagum dengan beladiri Rendi yang bisa menumbangkan beberapa orang sekaligus.
Rendi mendekati Andre yang terjatuh di tanah dengan wajah babak belurnya.
Andre ketakutan saat melihat Rendi mendekatinya. "maaf, tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud apa-apa."
Rendi tidak menggubris perkataan Andre, ia tetap berjalan ke arahnya.
Krak
Pletaakk
Arghh
Rendi menginjak lengan Andre yang sedang bertumpu di tanah, sehingga tangannya langsung patah seketika.
Fina menutup mulutnya tidak percaya, ternyata Rendi kalau sudah marah sangat kejam seperti itu.
Semua orang yang ada di sana merasa ngilu saat mendengar suara tulang tangan Andre patah.
Rendi jongkok di hadapan Andre. "aku tidak tahu siapa kamu dan kamu tiba-tiba datang menyiramku dengan air, kamu pikir kamu hebat?"
Dengan menahan rasa sakit di tangannya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, keringat dingin sudah bercucuran deras di dahinya. Tubuhnya bergetar, menggigil ketakutan, tanpa terasa cairan kuning merembes keluar dari balik celananya.
Rendi mengerutkan keningnya. "masih ngompol aja, sok jagoan!"
Rendi menoyor kepala Andre, ia kemudian pergi meninggalkannya dan menghampiri Fina yang tertegun di tempatnya.
"Kita pulang sekarang!" Rendi merogoh sakunya, ia mengambil uang lima ratus ribu dari dompetnya dan taruh di meja.
__ADS_1
Fina hanya mengangguk patuh, sebelum pergi ia melirik Andre yang sedang meraung kesakitan sambil menghela napas kasar.