Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Bukan Perpisahan


__ADS_3

Sulis tentu saja merasakan kesedihan yang dalam. Padahal hari-harinya baru terasa indah ketika Rendi selalu menghubunginya. Apa lagi jika pria yang di kaguminya itu menemui dirinya, hidupnya benar-benar terasa sangat sempurna. Namun, Rendi mengatakan kalau ia akan menjauh darinya untuk beberapa waktu terlebih dahulu, jelas saja kenyataan seolah menggores perasaannya.


Rendi membiarkan Sulis tetap ada dalam dekapannya. Ketika gadis itu mulai tenang, ia melepaskan pelukannya.


Rendi tersenyum sambil menghapus biliar bening yang mengalir di pelupuk mata wanita tersebut.


Rendi kemudian mengeluarkan Cincin yang ia dapatkan dulu ketika awal-awal mendapatkan Sistem dan langsung memakaikannya ke jari manis Sulis.


"Ini sebagai bukti kalau aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ucapnya sambil mengusap lembut pipi Sulis.


"Tapi Ren, kenapa harus putus hubungan dulu? Kenapa kita tidak jalani saja, seperti biasanya," keluh Sulis.


Rendi menyibak rambut panjang Sulis ke atas telinga. "Aku kan sudah bilang, masalah yang sedang aku hadapi itu berbahaya, aku tidak mau kamu kenapa-napa, percayalah padaku, agar aku menyelesaikan masalah ini dulu, oke," ucapnya lembut.


Sulis tidak bisa berkata-kata lagi, ia sebenarnya tidak mau menjauh dari Rendi. Namun, pria yang di cintainya tersebut tampak begitu serius membicarakan masalahnya. Hingga akhirnya ia hanya bisa mengiyakan perkataan Rendi.


Setelah ngobrol-ngobrol sebentar dan Sulis sudah tenang. Rendi pamit untuk pergi, ia juga tidak lupa mengingatkan Sulis agar jaga diri baik-baik, selama ia tidak menghubunginya.


Sulis menatap kepergian Rendi dengan sedih, entah sampai kapan ia tidak akan kontak lagi dengan Rendi.


Setelah ke tempat Sulis, pria itu ke tempat Novi, ia juga mengatakan hal yang sama dengan Novi. Tentu saja Novi juga memiliki pemikiran yang sama dengan Sulis, mengira kalau Rendi akan meninggalkannya.


Rendi juga menjelaskan secara perlahan kepada Novi, hingga akhirnya Novi mau mengerti dengan dirinya.

__ADS_1


"Ya sudah aku pergi dulu, biar tidak kesepian kamu bisa main ke kontrakan Sulis, kebetulan tidak jauh dari sini," ucap Rendi lembut.


"Iya Ren, jangan lama-lama perginya," ucap Novi sedih.


Rendi tersenyum. "Aku akan berusaha secepat mungkin menyelesaikan semuanya," ucapnya sambil masuk ke dalam mobil.


Rendi melambaikan tangan kepada Novi dan menyuruh Rohis untuk menjalankan mobil. Gadis itu juga tampak melambaikan tangannya.


Rendi pulang ke rumah terlebih dahulu, ia pamit kepada Ibunya untuk pergi ke luar kota karena ada urusan.


Sera yang mengira kalau Rendi memang pebisnis, ia tentu memberikan ijin. Walaupun sempat memberikan beberapa ceramah khas seorang Ibu untuk kebaikan anaknya.


Rendi mengendarai mobil sendiri, ia tidak membawa Rohis, untuk benar-benar menutupi jejaknya. Mobil yang di kendarai Rendi pun mobil yang belum pernah ia pakai sebelumnya dan hanya di panasi dalam garasi.


...***...


Mobil Rendi sampai di sebuah rumah besar yang masih ada di Jakarta, dengan penjagaan yang begitu ketat.


Rendi membuka kaca mobil ketika penjaga gerbang menghampiri mobilnya. Setelah melihat wajah Rendi penjaga gerbang langsung menyuruh rekannya untuk membuka gerbang.


Rendi menjalankan mobilnya lagi saat gerbang sudah di buka, hingga sampai di depan rumah besar tersebut.


Tampak Malik sudah menunggunya di depan pintu. Ketika Rendi turun dari mobil ia langsung menyapanya.

__ADS_1


"Selamat datang tuan Rendi," sambutnya sopan.


"Tidak usah terlalu formal tuan Malik, lebih baik kita bergegas mengatur rencana kita," jawab Rendi lugas.


"Baik, silahkan masuk," ajak Malik sopan.


Rendi memang berencana tinggal di rumah Malik terlebih dahulu, karena hanya pria itu yang mengetahui semuanya tentang seluk beluk para Mafia di negaranya.


Mereka berdua sudah sepakat untuk membersihkan seluruh kotoran-kotoran yang ada di negeranya itu.


"Bagaimana perkembangan di sini?" tanya Rendi memastikan ketika ia sudah duduk di ruang tamu.


"Semuanya berjalan lancar tuan, hanya saja saya belum berani menyentuh bawahan Danton dan info yang saya dapat. Danton sedang menggerakkan koneksinya untuk memburu kita," ucap Malik tidak berdaya.


Rendi mengangguk mengerti. "Apa kamu sudah menghubungi orang-orang terbaik yang mau bekerja dengan kita?" tanyanya memastikan.


"Sudah tuan, kemungkinan nanti malam mereka pasti datang, kemungkinan juga para pembunuh bayaran yang mengincar kita juga akan datang berbarengan dengan mereka," jawabnya yakin.


Rendi menghela napas. "Tampaknya perang ini tidak akan terelakan lagi, Malik kamu suruh semua orang kamu untuk melaporkan jika melihat orang-orang yang mencurigakan sesegera mungkin!"


"Baik Tuan!"


Mereka mengobrol-ngobrol sebentar, sebelum akhirnya Rendi di antar ke kamarnya untuk beristirahat terlebih dahulu. Namun, di dalam kamar Rendi tidak beristirahat sama sekali, melainkan menyalakan laptopnya dan meretas semua data penerbangan yang ada di Jakarta, untuk mencari orang-orang yang sedang mengincar dirinya.

__ADS_1


__ADS_2