
Para guru saling menatap, mereka semua tentu tidak percaya jika Rendi akan menyumbang dua puluh juta rupiah, di tambah ia juga berencana akan menyekolahkan sepukuh anak orang tidak mampu dalam setahun, yang biayanya per anak bisa mencapai enam juta pertahun.
Jika di hitung-hitung lagi berarti Rendi akan mengeluarkan uang enam puluh juta rupiah lebih pertahunnya. Tentu saja hal tersebut di luar perkiraan mereka semua, karena itu sudah melebihi gaji mereka pertahun, yang hanya tiga juta saja perbulan.
"Ren, apa kamu yakin?" Bu Lina, wali kelas Rendi mengingatkan.
Rendi tersenyum, "saya yakin Bu, kebetulan perusahaan saya berkembang dengan pesat, saya kira tidak salah untuk menyisihkan beberapa juta pertahun, untuk membantu mereka yang benar-benar tidak mampu."
"Pe-perusahaan? Kamu punya perusahaan, Ren?" tanya Pak Sulaiman, guru bahasa Indonesia.
"Alah, jangan sok-sokan kamu Ren, paling juga cuma punya beberapa gerobak dorong." ucap Bu Wina sinis.
Bu Wina seolah tidak kapok mengolok-olok Rendi, padahal tadi Rendi sudah membuktikan kemampuan dirinya untuk menyumbang, sekarang ia mengolok-olok lagi.
"PT. Prima Coal Kaltim, Ibu bisa cek, siapa pemiliknya." Rendi sudah tidak mau di rendahkan lagi, karena ia sadar sudah waktunya untuk dirinya bangkit, tidak boleh terus di bawah dengan apa yang sudah di milikinya sekarang.
"Astaga!" seorang guru berteriak terkejut.
Pak Julianto mengerutkan keningnya, "ada apa Pak Susilo?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Pak Julianto dan semuanya, coba cek PT. Prima Coal Kaltim, siapa pemiliknya!" perintahnya bersemangat, sambil menatap Rendi dengan tidak percaya.
Para guru di ruangan tersebut langsung membuka ponselnya masing-masing, seketika mereka semua terkejut saat melihat siapa pemilik perusahaan tersebut.
Tangan Bu Wina yang selalu mengolok-olok Rendi langsung bergetar, ia sampai menjatuhkan ponselnya dari tangan.
Di bawah keterangan PT. Prima Coal memang terdapat profil Rendi sebagai pemiliknya dan yang tidak para guru itu tahu, semua pebisnis di Indonesia sedang membicarakan Rendi, karena bocah berusia 17 tahun itu sudah menjadi pemilik tambang batubara terbesar Indonesia, bahkan dunia.
Rendi yang melihat keterkejutan mereka sampe syok seperti itu, ia terlihat bingung, karena bocah SMA itu tidak tahu sebesar apa perusahaannya, ia pikir itu semua hanya perusahaan biasa.
"Re-Ren, perusahaan ini serius milik kamu?" tanya Bu Lina dengan gugup.
"Ren, kenapa selama ini kamu pura-pura miskin?" tanya Pak Julianto sangat lembut, ia tidak mau menyinggung Rendi setelah tahu perusahaannya sangat besar.
"Hehehe ... itu rahasia saya pak, maaf." jawabnya sambil menggaruk belakang telinganya.
Siapa yang pura-pura miskin, orang aku miskin beneran, hadeh kalian ini!
Rendi menggerutu dalam hati,mana ada ia mau pura-pura miskin, kalau memiliki kekayaan seperti itu, penderitaan karena kemiskinan sangat menyakitkan, ia juga tidak mau terlihat miskin.
__ADS_1
Mendengar jawaban Rendi, semua guru di sana semuanya menghela napas panjang, mereka semua berpikir, bisa-bisanya orang yang memiliki tambang terbesar pura-pura miskin selama ini, sedangkan mereka yang gajinya paling tiga jutaan saja ingin terlihat kaya.
Kenyataan yang mereka lihat sekarang, seolah menampar mereka secara langsung, apa lagi Bu Wina yang langsung menunduk malu, karena jika Rendi mau saja, ia bisa di jebloskan ke dalam penjara atas semua perkataannya selama ini.
"Apa sudah selesai pak, saya hanya bisa memberi sedikit, mudah-mudahan kalau ada rejeki lagi, saya bisa menambahkannya." ucap Rendi membuyarkan lamunan mereka semua.
Pak Julianto dan yang lainnya hanya bisa mengangguk. Rendi pamit undur diri, ia meninggalkan para gurunya yang masih terdiam seribu bahasa.
"Memang benar kata pepatah, jangan melihat buku dari sampulnya. Yah ... inilah kita yang sekarang, bocah yang selama ini terlihat miskin di mata kita, siapa yang menyangka kalau dia seorang Milyarder." Pak Julianto menghela napas.
"Tidak heran kalau dia juga pemilik, Spin Colection, ternyata aslinya dia sangat kaya." timpal Bu Lina.
Mereka semua sama-sama menghela napas, di kota kecil larangan, ternyata ada seorang bocah Milyarder tinggal di sana.
"Mulai hari ini, jaga baik-baik kata-kata kalian, terutama anda Bu Wina, jangan sampai anda terkena masalah dengan Rendi, masih untung dia tidak menuntut anda!" tegur Pak Julianto tegas.
"Baik Pak." jawab Bu Wina lemas.
Para guru pun melanjutkan rapat mereka membahas organisasi yang akan membantu korban bencana yang mengatasnamakan SMA Larangan, mereka juga berniat menjadikan Rendi sebagai donatur utama, karena sumbangannya nanti yang sebesar dua puluh juta rupiah, tentu akan menjadi sumbangan terbesar di antara donatur yang lainnya.
__ADS_1