
Uang melimpah, Perusahaan sudah tercecer dimana-mana, tapi itu semua tidak menyurutkan tekad Rendi untuk membuat Negara tercintanya berubah menjadi lebih baik.
Mungkin untuk sebagian orang, mereka akan lebih mengabaikan apa yang terjadi dengan negaranya, karena mereka pikir itu bukan tanggung jawabnya. Namun, kenyataannya mereka para pejabat juga awalnya adalah rakyat biasa yang di pilih rakyat lainnya untuk mewakili suara mereka. Walaupun entah wakil darimananya jika suara orang-orang kecil tidak pernah di dengarkan. Karena pemikiran itulah, Rendi bertekad untuk menyingkirkan orang-orang yang seperti itu, agar bangsanya merdeka seutuhnya.
...***...
Rendi sedang berbaring santai di kamarnya, yang ada di dalam pesawat.
"Sistem Putar Spin untuk hari ini!" perintah Rendi saat ia mengingat belum memutar Spin.
Layar Virtual muncul, Rendi langsung menekan layar tersebut, seketika Sistem berputar dengan cepat, kemudian perlahan melambat dan berhenti.
[ Selamat, Anda mendapatkan kemampuan tak kenal ampun! Memulai menerapkan....
Penerapan berhasil!]
Rendi bingung apa maksudnya, karena ia tidak merasakan sakit sama sekali dimana pun dalam tubuhnya, seperti ia ketika mendapatkan kemampuan lainnya.
"Kemampuan tak kenal ampun? Apa maksudnya ini?" Rendi bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
Rendi tidak menyadari kalau kemampuan tak kenal ampun hanya memperkuat mentalnya saja, karena itulah ia tidak merasakan sakit seperti biasanya.
Rendi menghela napas. "Aku kira bakal mendapatkan sesuatu yang berhubungan dengan negara yang akan aku singgahi," ucapnya malas.
Tok... Tok....
"Tuan, saya membawakan minuman untuk anda!" terdengar suara dari balik pintu kamarnya.
__ADS_1
"Masuk saja, pintunya tidak di kunci!" sahut Rendi dari dalam.
Seorang Pramugari membuka pintu kemudian menutupnya, ia berjalan lenggak-lenggok bagaikan seorang model saja, menaruh minuman yang ia bawa di nakas.
Bukannya langsung pergi, Pramugari tersebut malah duduk di ranjang Rendi sambil melepaskan pakaiannya.
"Gerah sekali aku memakai ini," ucapnya tiba-tiba.
Sontak saja Rendi langsung menoleh. "Apa yang kamu lakukan!" tegurnya ketika melihat Pramugari itu melepaskan pakaiannya.
"Aku mau istirahat di sini, tega amat menyuruh aku bekerja terus, mana aku harus kabur-kaburan setelah membunuh Fang Guan," tuturnya sambil melepaskan seragamnya.
Rendi mengerutkan keningnya, ketika mendengar nama Fang Guan. "Kamu...."
Pramugari itu baru menoleh, ia melepaskan topeng di wajahnya, sehingga membuat Rendi tercengang.
"Lama tidak bertemu sayang, bagaimana kabar Ibu?" tanyanya sambil tersenyum, setelah melepas topeng.
"heeeh... harusnya kalimat pertama ucapan terimakasih, kamu malah begini, sayang," godanya sambil mendekat ke Rendi.
Wanita itu tahu kalau Rendi orang yang lemah lembut, karena itulah ia berani berbuat seperti itu padanya. Namun, dugaannya kali ini salah, tiba-tiba sorot wajah Rendi berubah menjadi tajam, pria yang baru genap berusia delapan belas tahun tersebut langsung mencengkram lehernya dengan keras menggunakan tangan kanannya.
Mei Ning terkejut, ia mencoba melepaskan cengkraman Rendi, tapi pria itu semakin kuat mencengkram lehernya sampai ia berdiri dan dan di himpitan ke dinding pembatas kamar.
"Kamu pikir aku tidak berani membunuhmu? Ini pesawatku, di sini tidak ada Ibuku, pengganggu seperti kamu, bisa aku bunuh dan aku lemparkan dari atas pesawat!" hardiknya dengan ekspresi serius.
Mei Ning memukul-mukul tangan Rendi, ia benar-benar ketakutan. "Le-pas-kan a-ku, a-ku b-e-r-jan-ji ti-dak a-kan ber-bu-a-t se-enaknya!" ucapnya kesulitan berbicara akibat cengkraman Rendi.
__ADS_1
Rendi mengambil minuman yang di bawakan Mei Ning ia menyiramkan ke wajahnya, hingga wanita itu gelagapan.
Tidak sampai di situ saja, ia memecahkan gelas tersebut. Mendengar Rendi memecahkan gelas, Mei Ning kali ini yakin kalau Rendi akan membunuhnya.
Rendi menyatakan pecahan gelas tersebut di atas gundukan gunung kembar Mei Ning, hingga berdarah.
Mei Ning mendesis menahan sakit. "Tu-an, tttt-olo-ng a-m-pun-i a-ku, sa-ya be-r-jan-ji a-kan me-laku-kan ap-pa-pun un-tuk a-nda, sa-ya ta-hu te-mpat or-ang ya-ng a-nda cari!"
Wajah Mei Ning benar-benar sudah membiru, ia benar-benar sudah tidak bisa bernapas lagi, wanita itu sangat yakin kalau ia akan mati kalau Rendi tidak melepaskannya.
Brug
Uhuk... Uhuk....
Mei Ning terbatuk-batuk, ia buru-buru menghirup napas banyak-banyak agar bisa hidup kembali.
Rendi jongkok di hadapan Mei Ning, ia mencengkram pipinya agar wanita itu menatap dirinya.
"Ingat, kamu hanyalah budakku, jangan berbuat sesuatu yang akan membuatku semakin marah, jika kau berani seperti dulu, aku pastikan mayatmu akan jatuh dari langit!" ancam Rendi dengan sorot mata tanpa belas kasihan sama sekali.
Mei Ning mengangguk-anggukkan kepalanya, ini pertama kalinya ia merasakan ketakutan, dan itu di lakukan oleh orang yang menurutnya tidak akan berani melakukan hal tersebut.
Rendi menghempaskan wajah Mei Ning dan berdiri. "Pakai kembali penyamaranmu, jangan perlihatkan wajah itu lagi di hadapanku!"
"Baik Tuan!" Mei Ning memakai topengnya kembali, ia menahan sakit goresan di dadanya itu, karena Rendi menggoresnya cukup dalam, sehingga darahnya terus mengalir keluar. Jika saja ia bukanlah pembunuh yang sudah biasa mengalami kejadian hidup mati, mungkin wanita itu sudah pingsan di sana.
Setelah memakai topengnya kembali, Mei Ning keluar dari kamar Rendi masih dengan baju yang terbuka.
__ADS_1
Rekan pramugarinya langsung menutup mulut tidak percaya, mereka kira kalau Rendi seorang Pria Psikopat, sehingga membuat mereka ketakutan.
Rekan-rekannya membawakan kotak P3K untuk memberikan pertolongan pertama kepada Mei Ning.