
Mendengar panggilan Ayahnya, tentu saja Novi terkejut, padahal ia keluar rumah untuk mengatakan pada Rendi agar ia nanti bisa memberikan penjelasan pada Ayahnya masalah ciuman mereka, tapi sayangnya Ayah Novi malah muncul terlebih dahulu.
Novi menghela napas berat, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dan hanya bisa pasrah saja.
"Kenapa malah bengong? Ayo ajak Rendi masuk!" tegur Ayahnya lagi.
"I-Iya Ayah." jawab Novi lemas.
Novi mengajak Rendi masuk ke dalam rumahnya, pria itu terlihat bingung dengan ekspresi Novi yang terlihat lemas.
"Kamu kenapa sih?" bisik Rendi pada Novi.
"Ayah sepertinya tahu, soal ciuman kita, pasti dia bakal marah-marah." jawab Novi tidak berdaya.
Sontak saja Rendi membelalakan matanya, tubuhnya langsung bergetar, keringat dingin mulai membasahi punggungnya saat mendengar ucapan Novi.
"Ayo, silakan duduk." Lidia menyambut dengan ramah kedatangan Rendi.
Rendi hanya mengangguk sambil tersenyum, ia kemudian duduk di sofa, Rendi dan Novi duduk berdampingan.
Suroto dan Istrinya juga duduk di hadapan Rendi dan Novi, mereka berdua terlihat mengulas senyum simpul ke arah Rendi.
"Apa benar nama kamu Rendi Murdianto?" tanya Suroto langsung tanpa basa-basi.
"I-ya om." jawab Rendi gugup.
"Apa kamu serius dengan anakku?" tanya Suroto lagi.
Jantung Rendi berdegup dengan kencang, pertanyaan Suroto benar-benar mengarah ke hubungan yang lebih serius lagi, sehingga ia berpikir kalau yang di katakan Novi serius.
__ADS_1
Novi gelisah, ia takut kalau Rendi akan terpaksa menerimanya, walaupun ia sangat menyukainya Rendi, tapi ia ingin mendapatkan secara baik-baik, bukan dengan paksaan Ayahnya.
"Ayah, kami masih SMA." Novi buka suara.
Rendi menoleh ke arah gadis itu, Novi terlihat ingin melindunginya dari cecaran pertanyaan Ayahnya, hal tersebut membuat Rendi merasa bersalah.
"Novi benar Om, terlepas kita serius atau tidak, aku rasa ini tidak pantas di bicarakan terlebih dahulu, aku masih sekolah begitu juga Novi, walaupun kami melalukan sedikit kenakalan, tapi masih di batas wajar kok, Om!" ucap Rendi tanpa bernapas sama sekali, karena saking gugupnya
Novi menatap Rendi tidak percaya, karena ia bisa berbicara begitu lancar di hadapan Ayahnya begitu saja, padahal dari tadi ia terlihat sangat gugup.
Suroto tersenyum, "kamu mungkin benar, tapi apa salahnya membuat sebuah ikatan pertunangan terlebih dahulu misalnya?"
"Eh ... maksud Om?" Rendi pura-pura bingung.
"Ayah, jangan memutuskan sesuatu sendiri, kasihan Rendi jadi bingung!" tegur Lidia pada suaminya, ia kemudian menoleh ke arah Rendi dan tersenyum, "suamiku kalau bicara memang terlalu serius, kamu jangan di ambil hati yah, Ren."
"Hais, kamu ini Bu." Suroto terlihat tidak senang dengan istrinya.
Novi menghela napas, ia berterimakasih dalam hati pada Ibunya, karena bisa membuat Ayahnya tidak mencecar hubungan mereka berdua.
"Oh iya Ren, apa benar PT. Prima Coal Kaltim, milik kamu?" tanya Suroto lagi.
Rendi terkejut dengan pertanyaan Suroto, karena ia tahu perusahaannya. Rendi tidak tahu saja kalau orang tua Novi bisnisnya cukup sukses, jadi beliau tahu dengan berita Bisnis yang viral.
Rendi mengangguk, "Om tahu perusahaanku darimana?"
Seketika Lidia langsung terdiam, ia tidak pernah berharap kalau dugaan Suaminya akan benar-benar terjadi, baginya Novi dekat dengan siapa saja tidak masalah, asalkan ia orang baik-baik, tapi kenyataan yang ia dengar malah membuatnya tercengang.
Suroto tampak bersemangat, "tentu Om tahu dong, PT. Prima Coal Kaltim merupakan tambang batubara terbesar di dunia, jadi wajar pebisnis kecil seperti kami mengikuti perkembangannya."
__ADS_1
Novi tidak tahu sama sekali maksud Ayahnya, jadi ia hanya diam saja di sana menyimak, tapi Ibunya bergegas menarik Novi dan pamit untuk ke belakang, menyiapkan masakan Spesial yang sudah di siapkan Suroto untuk Rendi.
"Om terlalu berlebihan, perusahaan kecilku, mana bisa sebanding dengan Om." Rendi berbicara dengan polos.
Suroto menelan ludah, ia membatin.
Jika perusahaanmu di bilang kecil? Terus perusahaanku di mata kamu itu seperti bakteri?
Suroto memaksakan sebuah senyum, ia yakin kalau Rendi hanya ingin merendah, terlepas perusahaan kecil atau besar, pada dasarnya Rendi pria baik-baik. Suroto kurang lebih menilai Rendi seperti itu.
Sementara itu di dapur, Lidia terlihat sangat bersemangat, ia tergesa-gesa menyiapkan kalkun pesanan Suroto dan menghangatkannya.
"Ibu beli Kalkun? Astaga buat apa?" tanya Novi terkejut, karena ia tahu kalau Ayah dan Ibunya membeli unggas raksasa itu, tandanya akan ada pesta.
"Ya buat Rendi lah! Buat siapa lagi? Ayo bantu Ibu!" perintah Lidia pada anaknya agar membantu menyiapkan makanan spesial untuk Rendi.
"Kalian ini kenapa sih?" tanya Novi bingung.
Jelas Novi bingung, karena bukannya memarahi Rendi, tapi kedua orang tuanya malah terlihat sangat bersemangat saat bertemu Rendi.
"Gadis bodoh! Pacarmu itu seorang Milyarder!" tegur Lidia tegas.
Novi mengerutkan keningnya, "maksud Ibu apa sih?"
Lidia menghela napas, "buka google cari PT. Prima Coal Kaltim, lihat profil pemiliknya juga!" jawab Lidia sambil menyiapkan peralatan makan.
Novi mengernyitkan dahi, ia mau tidak mau membuka ponselnya dan mencari perusahaan tersebut. Ekspresi Novi sama seperti Lidia saat pertama kali di beritahu suaminya tentang Rendi.
"Astaga!" ucap Novi sambil menutup mulutnya.
__ADS_1