Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Perintah Rendi Yang Mutlak


__ADS_3

Sulis semakin kagum dengan Rendi, karena masih duduk di bangku SMA, tapi Rendi sudah mulai memikirkan kemajuan Desanya.


"Ren, kamu yakin mau membangun Desa ini? Tapi dari mana uangnya Ren?" tanya Sulis saat mereka dalam perjalanan pulang dari sawah.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan semuanya," jawab Rendi santai.


Sulis tidak bisa berkata-kata lagi, ia tidak tahu apa yang ada di dalam pemikiran Rendi, sehingga gadis itu hanya bisa melihat apa yang akan terjadi kedepannya.


Mobil mereka sampai di rumah Sulis, Rendi tidak turun dari Mobil, karena ia perlu menelpon perusahan Kontruksinya agar segera mengirim alat dan bahan pembangunan.


"Kamu gak mampir dulu Ren?" tanya Pak Kosim sopan.


"Terimakasih Pak, mungkin lain kali, masih banyak yang harus aku urus," jawab Rendi sopan.


"Ya sudah, hati-hati di jalan!"


Rendi mengangguk, ia melambaikan tangannya pada Sulis, gadis itupun melambaikan tangannya pada Rendi.


...***...


Rendi dan Hendri kembali ke kontrakan, ia langsung merebahkan diri di kontrakan sambil menatap langit-langit kontrakan.


"Bos, pinjam motor yah, mau beli cemilan!" ijin Hendri sopan.


Rendi lekas duduk. "Uangnya ada, Hen?"

__ADS_1


"Ada bos, sisa kemarin juga banyak," jawab pria itu lugas.


"Aku titip es buah, Hen!" seru Rendi saat sopirnya itu sudah di luar.


"Siap Bos!" sahut Hendri seraya naik motor Rendi dan pergi dari kontrakan.


Selepas kepergian Hendri. Rendi langsung mencari nomor ponsel CEO perusahaan konstruksinya di berkas pemberian Sistem.


Setelah ia mendapatkan nomornya tanpa ragu ia langsung menghubungi nomor tersebut, karena nomor Rendi sudah di simpan Manajer, tentu ia langsung mengangkat telepon Rendi saat melihat nama bosnya itu di layar.


"Halo bos!" sahutnya lugas dari seberang telepon.


"Apa kamu CEO perusahaanku?" tanya Rendi memastikan.


"Sekarang kamu siapkan beberapa alat berat berikut dengan bahan matrial untuk membangun jalan di Desa Karbal, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes! Aku mau secepatnya kamu antar ke sini, masalah biaya akan aku transfer nanti, sekalian kamu kirim juga seseorang untuk menyurvei tempat tersebut sekarang! Kalau dia sudah selesai mensurvei! Berikan nomorku padanya agar dia menemuiku!" tanpa menunggu Sulaeman menjawab Rendi langsung mematikan Ponselnya.


Sulaeman tertegun di tempatnya, ia bingung karena mendapatkan perintah mendadak seperti itu.


Asistennya yang kebetulan ada bersamanya di ruangan tersebut, sedang memberikan laporan mengerutkan keningnya, saat melihat atasannya bengong.


"Pak Sulaeman, anda kenapa?" tegur Asisten sopan.


Sulaeman tersadar, ia menghela napas. "Rindi, kamu panggil Rusdianto kemari, cepat!"


Asisten Sulaeman terkejut, tapi ia menganggukkan kepalanya dan langsung memanggil Rusdianto, seperti perintah atasannya itu.

__ADS_1


Sulaeman terlihat cemas, pasalnya perintah Rendi terlalu mendadak sementara perusahaan sedang sibuk-sibuknya menggarap proyek besar di salah satu kota.


Tidak berselang lama, Rusdianto datang ke ruangan Sulaeman bersama dengan Rindi yang tadi memanggilnya.


Rusdi duduk di hadapan Sulaeman, sementara Rindi berdiri di belakangnya.


"Ada apa yah Pak?" tanya Rusdi cemas, ia takut telah membuat kesalahan.


"Kamu sekarang juga berangkat ke Brebes! Bos menunggu kamu di sana untuk mensurvei salah satu Desa yang akan mendapatkan pembangunan jalan!" perintah Sulaeman langsung.


Rindi dan Rusdi tercengang, mereka berdua tentu terkejut dengan pengaturan mendadak dari atasannya itu.


"Pak, anda serius ini?" tanya Rusdi memastikan.


"Buat apa aku bercanda, tadi Bos Murdianto menelpon, kamu cepat berangkat sekarang, aku mau atur alat berat yang akan ku kirimkan kesana, cepat Survei berapa kilo jalan yang akan di bangun, terus apakah ada rumah juga yang akan di bangun!" jawab Sulaeman tegas.


"Baik Pak! Saya berangkat sekarang!" ucap Rusdianto yang langsung pamit dan bergegas berangkat ke Brebes.


Rindi bertanya dengan bingung. "Pak, kenapa bos memberikan proyek mendadak?"


"Entahlah, kita ikuti saja apa maunya, daripada membantah malah nanti bikin ruwet, kamu bantu aku siapkan alat berat yang akan segera di kirim ke sana, dan hubungi penyalur kerja, suruh mereka berangkat secepatnya, paling lambat besok!" perintah Sulaeman tegas.


"Baik Pak!" Rindi juga bergegas menjalankan perintah Sulaeman.


PT Spin Konstruksi, hari itu benar-benar di bikin heboh oleh pengaturan mendadak Rendi, untungnya perusahaan tersebut sudah besar, jadi mereka bisa menyanggupi permintaan Rendi.

__ADS_1


__ADS_2