
Reno masih meraung-raung kesakitan di tanah, karena lututnya patah, tulang lututnya saja sampai sedikit menyembul keluar dari kulit.
Arghh
Arghh
Reno benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit itu, ia terus meraung dengan sangat keras.
Rendi berdiri, ia melihat para bawahan Reno dengan sinis di dalam gelapnya malam, yang hanya di sinari cahaya senter Handphone milik salah satu bawahan Reno.
"Dengarkan aku baik-baik! Jika sampai aku melihat kalian berbuat anarkis lagi nantinya, bukan cuma bos kalian yang akan aku buat lumpuh! Tapi kalian semua juga akan aku buat lumpuh seumur hidup, seperti dia!"
Swuzz
Pletaakk
Arghh
Setelah mengatakan hal tersebut, Rendi kembali mengayunkan tongkat besinya dan mematahkan satu kaki Reno yang tersisa, tidak ada rasa belas kasihan sama sekali saat Rendi melakukan hal tersebut.
Reno menjerit untuk terakhir kalinya, sebelum ia jatuh pingsan, karena tidak bisa menahan rasa sakit yang begitu menghujam di dalam tubuhnya.
Bawahan Reno hanya bisa menelan ludah, mereka semua tidak bisa berkata-kata dan hanya melihat kepergian Rendi dengan wajah pucat pasi.
Reno di pastikan bakal lumpuh seumur hidup, karena tulang kakinya benar-benar lepas dari persendian, mustahil untuknya kembali pulih seperti sedia kala.
__ADS_1
Rendi tidak peduli dengan hal tersebut, ia bergegas menaiki motornya dan pergi dari sana. Setelah Rendi pergi, para bawahan Reno baru tersadar.
"Astaga, ini lukanya sangat parah! Ayo bawa bos ke rumah sakit!" ucap tangan kanan Reno.
"Maaf, aku tidak mau berurusan dengan polisi!" ketua geng motor pergi meninggalkan Reno begitu saja, dengan di ikuti bawahannya.
"Sial! Padahal mereka sudah di bayar mahal!" celetuk tangan kanan Reno.
"Ya sudah, kita bawa saja bos sekarang!" ajak bawahan Reno lainnya.
Mereka empat orang tersisa membawa Reno ke rumah sakit, tentu mereka juga kesulitan untuk membawa Reno, karena kaki Reno bisa saja terlepas dari tubuhnya, mengingat tulangnya benar-benar patah.
Akhirnya mereka berempat menghubungi ambulance, Reno baru di bawa setelah satu jam kemudian dan itu semua membuat Reno tidak bisa mendapatkan perawatan terbaik agar tulang kakinya bisa kembali menyatu, walau tidak bisa kembali sepenuhnya, tapi jika bisa di tangani lebih cepat mungkin kaki Reno tidak akan di amputasi seperti yang sedang terjadi sekarang.
Reno akhirnya di amputasi, menurut dokter itu jalan terbaik untuknya, agar lukanya tidak menjadi tetanus.
Sementara itu, Rendi baru sampai di kontrakannya saat jam sepuluh malam, mengingat perjalanannya memakan waktu dua jam untuk bolak-balik dari kontrakannya ke lapangan karang birahi Brebes.
Di kontrakan Rendi, terlihat sangat ramai, Harisman dan bawahannya Memang sedang berkumpul di sana, mendengar motor Rendi, mereka langsung berhamburan keluar.
"Bos, kamu habis darimana?" tanya Harisman mewakili bawahannya.
"Kepo amat jadi orang sih kamu?" jawab Rendi malas.
"Lah, aku kan cuma nanya, bos." Harisman membela diri.
__ADS_1
Rendi menghela napas, "aku habis jalan-jalan sebentar, kalian rame-rame di sini mau ngapain?"
Rendi yang melihat kalau Harisman Full membawa bawahannya yang berjumlah lima belas orang, tentu ia bingung mereka mau apa?.
"Oh ... ini bos, kami tadi bakar-bakaran Ayam, buat ngerayain kalau besok, katanya bos mau buka kedai nasi goreng, eh kami nunggu bos, gak pulang-pulang, jadi kami makan dulu deh." jawab Harisman sambil nyengir kuda.
"Siapa bilang bukanya besok? Meja dan gerobaknya saja belum ada buat jualan." ucap Rendi sambil berjalan masuk ke dalam kontrakan.
"Masalah itu tenang bos, kebetulan Ayahku pembuat meja dan kursi, ada stok juga di rumah, jadi masalah itu beres!" Lehor bawahan Harisman buka suara.
Rendi duduk di dalam kontrakan, mereka semua juga ikut duduk dengan rapi, hingga di dalam kontrakan seperti orang sedang berkumpul mau tahlilan.
"Siapa nama kamu?" tanya Rendi pada Lehor.
"Aku Taslim bos, tapi biasa di panggil temen-temen Lehor." jawabnya percaya diri.
Rendi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, julukan seseorang memang kadang aneh, tapi nyatanya setiap julukan pasti menyerupai dengan tingkah mereka. Seperti Lehor, ia di juluki seperti itu, karena saat mabuk tidak bisa bangkit sama sekali, karena itulah di juluki Lehor.
"Kalau gerobak buat taruh di depan ruko, agar terlihat kita jualan nasi gorengnya?" tanya Rendi pada mereka semua.
"Kakakku ada bos, tapi dia minta mahal harganya." jawab Sengkuni dengan tidak berdaya.
Rendi tersenyum, "masalah harga jangan di pikirkan, nanti aku kasih kalian uangnya, yang penting sekarang kalian serius buka usaha ini, aku tidak mau semua yang aku rencanakan sia-sia begitu saja. Kalian yang tidak memiliki penghasilan boleh bekerja di sana untuk kalian yang tidak bekerja di sana, bantu awasi kerjaan mereka, terutama kamu Harisman, kamu yang harus mengawasi mereka!"
"Siap bos!" jawab mereka serempak.
__ADS_1
Rendi tersenyum simpul, setidaknya membuat para preman-preman itu menjadi lebih baik akan segera terwujud, tinggal bagaimana mereka mau berubah atau tidak saja.