Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Kerja Rapi


__ADS_3

Ke esokan harinya. Berita kematian Soleh, salah satu Mafia pajak di rilis, tidak heboh sama sekali di Singapura. Malah media-media asal negara Rendi yang langsung heboh setelah kematian orang yang sebenarnya sudah menjadi bahan pembicaraan itu.


Di sosial media tidak ada yang mengasihinya sama sekali, mereka malah berlomba-lomba komentar sujud syukur setelah kepergiannya. Miris memang, tapi bagi warganet asal negara Rendi memang sepantasnya Soleh di hukum mati, karena ia tidak tersentuh sama sekali dengan hukum negara mereka.


Sementara itu di tempat Malik, ia sedang mengobrol dengan salah satu pensiunan tentara di rumahnya.


"Tuan, sepertinya tuan Rendi Murdianto sudah mulai bergerak, apakah kita harus bergerak juga?" tanya pensiunan tentara tersebut, yang menjadi pemimpin pengawal pribadi Malik.


"Ya, kita akan bergerak sesuai dengan rute tuan Rendi, ia mengincar Soleh, berarti kita harus mengincar bawahannya terlebih dahulu, agar mereka merasakan teror kemarahan rakyat negara tercinta kita ini!" ucap Malik penuh dengan ambisi.


"Baik tuan!" jawab orang tersebut yang langsung mengerahkan orang-orangnya.


Para mafia belum sadar kalau Soleh tewas karena di bunuh, pasalnya ia sesudah mabuk berat, mereka pikir kalau Soleh over dosis, karena itulah mereka tetap santai.


Target Rendi berikutnya adalah rekan Soleh, ia juga sama seperti orang yang sudah di bunuh Mei Ning, sama-sama bergelut di bidang perpajakan.


Sementara Malik mengerahkan bawahannya untuk mulai meringkus para bawahan Soleh. Rendi dan Mei Ning sedang mengawasi hotel tempat rekan Soleh itu akan melakukan pertemuan.


"Lantai lima belas, cukup tinggi juga, kalau jatuh dari sana kira-kira kita bakal tewas tidak yah?" ucap Rendi sarkas kepada Mei Ning.


Wanita itu menghela napas. "Bukan tewas lagi, mungkin kalau beruntung bisa bereinkarnasi ke isekai!"

__ADS_1


"Hahahaha... boleh juga itu, apa kamu mau mencobanya?" tanya Rendi sambil menaik turunkan alisnya.


Mei Ning mengernyitkan dahi, semakin lama dengan Rendi, ia merasa kalau sifat pria itu berubah, tidak seperti saat di Indonesia.


Rendi seolah seperti orang lain saja, tidak ada ekspresi polosnya lagi, yang ingin Mei Ning goda. Wanita itu malah cenderung takut dengan Rendi karena ia tampak tidak memiliki rasa belas kasihan sama sekali.


Mereka berdua lama menunggu, hingga ketika sudah siang, datang iring-iringan mobil mewah yang memasuki hotel tersebut.


Mei Ning beranjak dari duduknya, Rendi mencekal lengannya. "Hati-hati, di dekatnya ada beberapa pembunuh bayaran sepertimu," ucap Rendi mengingatkan.


"Aku tahu itu," jawab Mei Ning santai.


Sementara Rendi di luar seperti biasanya, memanipulasi CCTV yang ada di setiap hotel tersebut, agar keberadaan Mei Ning tidak terlihat sama sekali.


Sesuai dugaan Rendi. Suryono teman Soleh memang ke kamarnya terlebih dahulu untuk beristirahat dan baru akan menemui kliennya nanti malam.


Suryono masuk ke dalam kamar hotel bersama dengan seorang wanita yang merupakan kekasih gelapnya, tentu saja itu semua untuk melepaskan penatnya sebelum melakukan pertemuan.


Mei Ning sudah masuk ke kamar sebelah Suryono menginap, menggunakan kunci kamar tiruan yang sudah Rendi siapkan, ia bergegas keluar balkon kamarnya, pura-pura mengambil udara segar sambil melihat kamar sebelah.


Mei Ning masuk kembali ke dalam kamarnya, ia menyiapkan sebuah selang kecil dengan panjang dua puluh meter. Ia keluar kembali dan melompat ke kamar sebelah dengan hati-hati sambil memasukkan selang kecil tersebut di sela jendela.

__ADS_1


Suryono tidak menyadari hal tersebut, karena ia sedang enak-enak dengan wanita simpanannya.


Mei Ning bergegas kembali ke kamar sebelah. Rendi yang menyaksikan hal tersebut dari kafe seberang hotel itu, ia kagum dengan pergerakan wanita tersebut.


Setelah di dalam kamar itu, ia memasukkan selang kecil tersebut, sebuah tabung asap yang sudah di siapkan. Ia memompa tabung asap itu hingga masuk ke dalam kamar Suryono.


Di dalam kamar Suryono, ia yang sedang bermain dengan menggebu-gebu tentu saja dengan cepat menghirup asap tersebut yang mulai masuk ke ruangan itu.


Awalnya kepala mereka terasa pening, lama-kelamaan leher mereka terasa tercekik, Suryono mencoba berteriak bersama dengan wanita simpanannya, tapi sayangnya mereka dengan sangat cepat tewas.


Mei Ning melihat jam, ketika kiranya sudah sesuai dengan perkiraan kematian mereka, ia langsung menarik selang kecil tersebut dan merapikankannya dan memasukkan ke dalam tas.


Mei Ning keluar dari kamar seolah tidak terjadi apapun, dengan membawa tasnya.


Pengawal Suryono pun tidak curiga sama sekali, karena Mei Ning seperti pemilik asli kamar sebelah.


Wanita itu keluar dari hotel tanpa kesulitan sama sekali, Rendi sudah menunggunya di mobil dekat hotel tersebut.


Mei Ning masuk ke dalam mobil, ia membuka topeng penyamarannya, sambil menghela napas lega.


"Kerja bagus," ucap Rendi sambil menginjak pedal gas dan pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2