
Melihat Rendi yang tiba-tiba menangis terisak, Sebastian dan pelayan lainnya kebingungan. Tidak ada angin tidak ada hujan, tuannya itu yang biasa terlihat periang malah menangis seperti apa.
"Pak Sebas, pakai baskom ini saja, buat nadahin air mata tuan Rendi!" ucap salah satu pelayan.
"Memangnya air kebocoran di tadahin pakai baskom!" tegur Sebastian kesal.
"Iya juga yah? Terus kita harus bagaimana Pak?" tanya pelayan itu lagi.
"Jedotin kepalamu di dinding!" perintah Sebastian ketus.
"Tuan Rendi bisa berhenti menangis Pak?" tanya dia lagi.
"Iya, kamu coba saja, tapi yang keras biar otakmu encer sekalian!" dengus Sebastian yang langsung bergegas menghampiri Rendi sambil membawa tisu.
Sebastian menyodorkan tisu kepada Rendi, terlihat Rendi mengambil tisu tersebut sambil mencoba untuk tetap tegar.
__ADS_1
"Tuan, jika ada masalah cerita sama saya, walaupun tidak bisa membantu tuan, tapi setidaknya bisa sedikit meringankan beban dalam hati tuan," ucap Sebastian lembut.
Rendi menggelengkan kepalanya, ia tidak mau bercerita dengan Sebastian, karena ia juga hanya melepaskan kesedihan mendalamnya yang selama ini ia pendam saja.
Rendi beranjak dari duduknya sambil membawa kotak pemberian ibunya, ia tidak jadi sarapan, karena moodnya hilang seketika.
Sebastian hanya bisa menatap Iba tuannya itu, di usianya yang masih muda, Rendi sudah hidup seorang diri. Sebastian kurang lebih sudah tahu tentang Rendi, karena saat ia pertama bekerja di sana, ada seseorang yang memberitahunya kalau tuannya adalah seorang pria yang hidup sebatang kara.
Rendi kembali ke kamarnya, ia melihat foto keluarganya, ia tidak membenci sama sekali Ibunya. Ia malah ingin bertemu dengannya setelah ia menenangkan hatinya terlebih dahulu.
Rendi memerhatikan foto Ayahnya, terlihat tampangnya memang sedikit mirip dengannya dan yang paling membuat Rendi senang. Ia bisa melihat lagi wajah Neneknya, karena selama ini ia tidak memiliki foto wanita tua itu.
"Nek, kenapa Nenek tidak bilang kalau Ibu masih hidup? Tapi tidak apa, Rendi tahu pasti Nenek kecewa dengan Ibu, yang penting Rendi sekarang sudah tahu kebenarannya." ucapnya sambil memeluk foto itu.
Rendi kemudian melihat di dalam kotak itu terdapat sebuah cincin berwarna perak. Cincin yang merupakan warisan Ayahnya satu-satunya.
__ADS_1
Tanpa ragu Rendi memakai cincin tersebut, ia melihat cincin itu sambil tersenyum simpul.
Rendi bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya, dan ia pun bergegas turun ke bawah, mengajak Rohis ke rumah Fina, untuk bertemu dengan Ibunya.
Rendi sangat bersemangat saat ia akan menemui Ibunya.
Mungkin sebagian orang jika di posisi Rendi akan merasa sakit hati dan tidak mau mengakui Ibunya lagi. Namun, Rendi berbeda, ia memiliki pemikiran darah lebih kental daripada Air.
Rendi sudah terlalu lama tidak merasakan kasih sayang seorang Ibu, karena itulah Rendi berpikir untuk memulai hidup baru, walaupun telat, Rendi menginginkan kasih sayang itu, kasih sayang yang menurut orang-orang begitu hangat dan menenangkan.
Mobil Rendi keluar dari gerbang rumahnya. Tanpa sepengetahuan Rendi ada seseorang yang mengawasinya dari sebuah mobil Yang terparkir di bahu jalan tidak jauh dari rumahnya.
"Jadi ini rumah bocah itu? Baguslah, ternyata pengawalannya tidak terlalu ketat, aku rasa ini misi yang sangat mudah untukku," ucap orang itu sambil menyeringai.
Orang tersebut menjalankan mobilnya, pergi dari tempat itu. Ia akan membuat rencana terlebih dahulu, sebelum ia mengeksekusi Rendi.
__ADS_1