Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Meminta Ijin


__ADS_3

Rendi berangkat sekolah pas sekali dengan penjaga gerbang yang akan menutup gerbang sekolah.


Rendi menghela napas lega bisa sampai tepat waktu, ia bergegas ke parkiran motor dan langsung ke kelasnya.


Semua teman Rendi sudah masuk ke kelas masing-masing, hanya Rendi sendiri yang masih berlari agar tidak telat masuk ke kelasnya. Saat ia sampai di kelasnya berpapasan dengan Bu Lina yang mau masuk ke kelas.


"Rendi, kamu baru berangkat?" tanya Bu Lina yang melihat Rendi terengah-engah dan keringat yang membasahi wajahnya.


"Hehehe ... aku kesiangan Bu, ini untung masih bisa tepat waktu." jawab bocah SMA itu sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Bu Lina tersenyum. "ya sudah, kamu masuk."


"Terimakasih Bu." Rendi menganggukan kepalanya dan masuk terlebih dahulu.


Bu Lina menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, karena ia tahu kalau Rendi memiliki perusahaan, jadi Bu Lina pikir Rendi kecapean, begadang mengurusi laporan perusahaannya, menurutnya wajar kalau Rendi kesiangan.


Semua teman Rendi melihatnya dengan heran, baru kali ini Rendi masuk sekolah mepet seperti itu, biasanya ia datang ke sekolah pagi sekali.


Mendapatkan tatapan dari teman-temannya, Rendi hanya tersenyum dan lekas duduk di kursinya.


Bu Lina pun masuk ke dalam kelas, seketika perhatian mereka semua beralih ke Bu Lina.


Mereka semua belajar seperti biasanya, begitu juga Rendi, setelah jam pelajaran pertama usai. Rendi langsung pergi ke ruang guru.


"Rendi, ada apa kamu kemari?" tanya Pak Julianto yang melihat Rendi terlebih dahulu.


"Begini pak, aku mau mentransfer uang yang aku janjikan, sekaligus mau minta ijin untuk satu Minggu ke depan, mau mengurus bisnis di Jakarta, apa boleh?" tanya Rendi sopan.

__ADS_1


Pak Julianto tersenyum. "duduk dulu Ren, gak enak bicara sambil berdiri."


Semua guru di sekolah SMA Larangan sekarang semuanya menghormati Rendi, begitu juga Bu Wina yang dulunya selalu berbicara kasar dengan Rendi. Ia menyadari kalau Rendi bisa saja menghancurkan karirnya, jika terus-terusan mengusiknya.


"Jadi, kapan kamu mau berangkat ke Jakarta?" tanya Pak Julianto setelah duduk.


"Rencananya besok Pak, aku juga tidak tahu berapa lama akan di sana, tapi aku meminta waktu satu Minggu kalau bisa." jawab Rendi sopan.


"Jangankan satu Minggu, satu bulan juga boleh Ren." Bu Wina menyediakan teh manis buat Rendi dan dia ikut duduk bersama di sana.


Rendi tersenyum. "terimakasih Bu."


"Ya sudah, nanti bapak buatin ijin buat kamu, tapi sesudah pulang, kamu harus ikut pelajaran tambahan, buat ngejar ketertinggalan kamu nantinya." ucap Pak Julian dengan bijaksana.


"Tentu Pak." jawabnya mantap.


Pak Julianto dan Bu Wina yang melihat hal tersebut sangat senang dan bangga, ternyata Rendi bukan hanya mengucapkan omong kosong saja.


Semua guru yang ada di sana juga tersenyum bangga, walaupun Rendi tidak ada hubungannya dengan mereka, setidaknya mereka bisa menyaksikan seorang Milyarder yang rendah hati di ajar oleh mereka.


Rendi langsung pamit undur diri, setelah melakukan semua yang ia rencanakan di ruang guru, kini hanya perlu berpamitan dengan Sulis dan Harisman.


Di kantin sekolah, Rendi mencari Sulis di tempat ia biasa duduk dengan temannya, tanpa ragu ia langsung menghampiri sekelompok gadis itu.


"Boleh aku bergabung?" tanya Rendi sambil membawa semangkok bakso di tangannya.


Sulis menoleh ke belakang, terlihat Rendi yang tersenyum ke arahnya. "Rendi, duduk saja sini!" ajak Sulis ramah.

__ADS_1


Teman-teman Sulis yang sudah tahu status Rendi, tentu mereka tidak berani mengolok-oloknya lagi seperti dulu, apa lagi Sulis yang notabenya ketua geng, mengancam mereka semua kalau berani menghina Rendi lagi.


"Lis, kami ke kelas dulu yah." ucap teman Sulis mengajak teman lainnya.


"Oke, nanti aku nyusul." jawab Sulis sambil tersenyum.


Teman-teman Sulis mengangguk, mereka berempat tahu kalau Sulis naksir dengan Rendi, karena itulah memberikan kesempatan pada Sulis agar bisa berduaan dengan Rendi.


"Tumben kamu nyari aku, ada apa?" tanya Sulis tanpa basa-basi.


"Aku mau ke Jakarta." jawab Rendi tanpa basa-basi.


Uhuk ... Uhuk ....


Sulis tersedak minuman yang sedang ia sedot, Rendi bergegas mengusap-usap punggungnya dengan lembut.


"Hati-hati Lis." ucap Rendi lembut.


Sulis menoleh ke arah Rendi dan menatapnya dengan Serius. "kamu serius mau ke Jakarta? "


Rendi mengangguk. "iya, ada sesuatu yang harus aku urus di sana."


"Nanti kamu pulang kesini lagi, kan?" tanya Sulis memastikan.


"Iyalah, aku juga masih sekolah juga, kamu ini gimana sih?" jawab Rendi sambil tersenyum.


Sulis menghela napas lega, setidaknya Rendi tidak meninggalkan dirinya selamanya, kalau sampai Rendi pergi jauh darinya, entah apa yang akan terjadi dengan nya tanpa orang yang ia sukai itu.

__ADS_1


Rendi menjelaskan semuanya pada Sulis kenapa ia mau ke Jakarta. Setelah mendengar semua penjelasan Rendi, Sulis baru tersenyum lebar, karena Rendi ternyata hanya sekedar mau berbisnis saja.


__ADS_2