
Sore Harinya ....
Benar saja alat dan bahan-bahan pembangunan sudah datang, para warga tentu saja langsung berbondong-bondong menonton alat-alat tersebut.
"Wih, seriusan ini Desa bakal di bangun?"
"Akhirnya setelah sekian purnama pejabat-pejabat Koplak itu mau sadar dan membangun Desa!"
"Hus, hati-hati nanti kamu di seruduk kerbau merah baru tahu rasa!"
"Ya elah, cuma berbicara nyata juga."
Para warga sangat antusias ketika melihat alat-alat berat di turunkan, ada dua Ekskavator, Dozer, Tandem roller, Pinished aspal dan truck Dam yang akan di gunakan untuk mengangkut urug.
Semua alat berat tersebut semuanya ada dua, karena Rendi menginginkan proyek di percepat, Sulaeman berencana mengerjakan dari dua ujung jalan sekaligus.
"Mak, lihat Cabluk nya ada dua!" seorang bocah berteriak kegirangan saat melihat ada dua ekskavator.
"Dedek seneng liat Cabluk?" tanya si Ibu.
"Iya Mak, Dedek nanti bakal bisa jalanin cabluk kalau sudah gede!" jawabnya antusias.
__ADS_1
Berbagai obrolan absurd para warga sering terjadi jika mereka melihat hal-hal seperti itu, tapi karena hal tersebutlah yang membuat Desa begitu indah, karena tidak akan ada hal seperti itu di kota-kota besar.
Rusdianto menghampiri mandor proyek, yang merupakan kenalannya. "Jarwo, apa orangmu sudah datang semua?"
"Sudah Pak, ngomong-ngomong apa Bapak punya pandangan dimana kita akan menginap? Aku baru pertama kali ke sini soalnya, jadi gak tahu tempat menginap yang cocok," ucap mandor proyek.
Rusdianto tersenyum. "Kamu tenang saja, aku sudah menyiapkannya, " Rusdianto memanggil Tomo. "Tomo! Kamu antar mereka ke rumah kosong yang semalam kita tempati!"
"Baik Pak!" jawab Tomo yang sudah menghampiri Rusdianto.
"Kamu ikut dengan Tomo, dia akan menunjukkan tempatnya, aku mau menelpon bos besar dulu," ucap Rusdi sambil menepuk bahu Jarwo.
"Siap Pak!" Jarwo langsung menyuruh orang-orangnya mengikuti Tomo
Rendi kebetulan sedang berada di jalan mau ke kampung Karbal, bersama dengan Hendri. Saat ponselnya berdering, ia langsung mengangkatnya.
"Halo, ada apa Rus?" tanya Rendi langsung.
"Begini bos, semua alatnya sudah datang, besok kita akan memulai proyeknya," ucap Rusdianto bangga.
"Bagus, kebetulan juga aku sedang ke sana, kita nanti ngobrol di sana saja," jawab Rendi yang langsung mematikan ponselnya.
__ADS_1
Rusdianto menghela napas, saat teleponnya di matikan. "Apa Bos Murdianto sudah memprediksi semuanya datang jam segini? pengin dapat pujian malah gak dapat, susah memang kalau kerja dengan orang cerdas," gerutunya sedikit kesal.
Rusdianto langsung ke rumah kosong tempat para pekerja akan menginap, ia memberikan sedikit wejangan pada mereka agar kerjanya hati-hati, mengingat Desa tersebut merupakan tempat kelahiran bos besar mereka.
Rendi melihat alat-alat berat yang masih ada di bahu jalan raya, ia tersenyum saat melihatnya. Namun, tujuannya ke kampung Karbal bukan untuk melihat hal tersebut, melainkan untuk menemui Pak Kosim.
Mobil Rendi berhenti di depan gerbang rumah Pak Kosim, karena ia sudah memberitahu Sulis terlebih dahulu, gadis itu sudah menunggunya di depan gerbang dan menyuruh masuk Mobil Rendi.
...***...
Rendi sudah ada di dalam rumah Pak Kosim, sementara Hendri menunggu di mobil.
"Begini Pak Kosim, kedatangan saya kemari untuk meminta tolong dengan Bapak dan warga setempat, untuk membuat tumpeng selamatan, ya kita tahu sendiri adat di kampung ini, aku ingin yang bekerja selamat kita para warga juga selamat, biar berkah gitulah Pak," ucap Rendi sambil tersenyum.
Pak Kosim balas tersenyum. "Kamu memang sudah berubah Ren, aku setuju kalau masalah itu, nanti aku akan langsung memberitahu warga, kita akan selamatan di tengah-tengah jalan Desa ini, bagaimana?"
"Boleh Pak, ini ada uang buat beli bahan-bahannya," Rendi menyodorkan uang dua juta rupiah di meja.
Pak Kosim mau menolaknya, tapi Rendi memaksa agar menggunakan uang tersebut, akhirnya Pak Kosim menerimanya.
Sulis yang melihat Rendi sangat peduli dengan kampung halamannya, ia jadi semakin kagum dengan lelaki yang dulunya tidak pernah di anggap sama sekali di kampung tersebut.
__ADS_1
Perasaan Sulis pada Rendi semakin tumbuh pesat, ia sudah sangat yakin pada dirinya, kalau Rendi adalah orang yang sangat pantas bisa bersanding dengan dirinya.