
Setalah pukul setengah tujuh pagi, Novi yang memakai seragam sekolahnya datang ke kontrakan Rendi.
"Ren, Ayah sudah menunggu." ucapnya sambil bersender di kusen pintu.
Rendi mendongak, ia yang sedang memainkan ponselnya, langsung mematikannya dan segera berdiri. Ia meraih tasnya dan berjalan keluar dari kontrakan.
Bukannya langsung ke luar kontrakan, Rendi menatap Novi sambil tersenyum, ia memegang dagu gadis itu.
"Wajahmu tidak cantik kalau cemberut seperti ini, aku tidak suka wanita yang ngambekan."
Seketika Novi terkesiap, ia segera merubah ekspresi wajahnya dan langsung tersenyum. "siapa yang cemberut?"
"Nah, beginikan lebih cantik, ayo jalan." Rendi melepaskan tangannya dari dagu Novi dan menggenggam tangannya.
Sebelum mereka pergi, Rendi tidak lupa menutup pintu kontrakannya dan menguncinya, ia menaruh kunci kontrakan di saku Novi.
Mereka berdua pergi ke mobil dengan bergandengan tangan. Novi merasa ada yang berubah dengan Rendi.
Apa ini Rendi yang aku kenal? Dia terlihat berbeda? Atau hanya perasaanku saja?
Novi tentu saja bingung dengan Rendi yang tiba-tiba bersikap manis seperti itu, biasanya Rendi tidak seperti hari ini. Ia menatap punggung Rendi dengan seksama, tapi ia tidak melihat perbedaan apapun di tubuh Rendi.
Sulis juga datang ke kontrakan Rendi, tapi saat ia melihat Rendi yang sedang berjalan sambil bergandengan tangan dengan Novi, ia bergegas turun dari motornya dan menghampiri mereka berdua, lalu ia menggandeng tangan Rendi yang satunya.
Rendi tidak menolak sama sekali, ia tidak mau kedua gadis itu iri satu sama lain dan membiarkannya begitu saja.
Saat sampai di mobil Ayah Novi, kedua gadis itu reflek melepaskan genggaman tangan Rendi.
__ADS_1
"Sudah gandengannya?" goda Rendi pada keduanya.
Novi dan Sulis menundukkan kepalanya malu, wajah mereka merah merona, karena Rendi sangat terus terang sekarang.
Rendi tersenyum. "aku berangkat dulu, kalian berdua sekolah yang benar."
Rendi mengacak rambut keduanya, ia lalu langsung masuk ke dalam mobil Ayah Novi. Kedua orang tua Novi yang sudah di dalam mobil, mereka berdua hanya tersenyum melihat Rendi yang seperti itu.
"Kita langsung jalan yah, Ren." ucap Ayah Novi.
"Iya Om." jawabnya lugas yang duduk di belakang.
Ayah Novi menginjak pedal gas, Rendi melongokkan kepalanya keluar jendela dan melambaikan tangan pada kedua gadisnya.
"Hati-hati Ren!" ucap mereka berdua bersamaan, sambil melambaikan tangan.
Terlihat Novi dan Sulis sedih melihat kepergian Rendi, sementara Rendi menghela napas, memasukkan kepalanya ke dalam mobil.
"Ren, kamu sudah pernah ke Jakarta sebelumnya?" tanya Lidia membuka pembicaraan.
"Belum Tante, ini pertama kalinya buat aku." jawabnya jujur.
"Oh gitu yah, apa kamu punya kenalan di sana?" tanya Lidia lagi.
"Tidak ada Tante, kalau karyawan punya." jawab bocah itu santai.
"Karyawan? Maksud kamu?" Lidia menatap suaminya, begitu juga dengan Suroto menatap istrinya terkejut.
__ADS_1
"PT. Spin Company, itu perusahaanku Tante, aku juga nanti mau ke sana untuk melihat perkembangannya."
"Ren, kamu serius Spin Company itu perusahaan kamu?"
"Hehehe ... iya Tante."
Suroto dan Lidia tidak bisa berkata-kata lagi, ternyata Rendi di luar perkiraannya, bukan hanya tambang batu bara terbesar di Indonesia saja yang ia punya, ternyata ia juga memiliki perusahaan elektronik terbesar di Jakarta.
Pasangan suami, istri itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, mereka benar-benar terkejut dengan kekuasaan bocah SMA tersebut.
"Om dan Tante di Jakarta memiliki rumah juga atau tinggal di hotel?" otak Rendi yang sudah berevolusi, membuat dirinya tahu semua kemungkinan yang ada.
"Kami tinggal di hotel, tenang saja, nanti Om juga bakal pesankan kamar terbaik untuk kamu." jawab Suroto yakin.
Rendi tersenyum. "tidak perlu Om, lebih baik kalian tinggal di rumahku saja, aku yakin kalian tidak bakal kecewa. Ini alamat rumahnya."
Rendi yang sengaja sudah mencatat alamat rumahnya di kertas, menyerahkannya pada Lidia yang tidak sedang menyetir.
Betapa terkejutnya Lidia saat melihat alamat Rumah Rendi yang merupakan salah satu rumah mewah di komplek perumahan pondok indah.
"Astaga, kamu memiliki rumah dari Dot Property?" tanya Lidia tidak percaya.
Suroto yang terkejut, ia segera menepikan mobilnya ke pinggir jalan, agar keterkejutannya tidak mencelakai mereka.
Suroto menoleh ke arah Rendi, terlihat bocah SMA itu hanya tersenyum simpul ke arah mereka berdua.
Pasangan suami istri itu sudah tidak bisa berkata-kata lagi, lebih baik mereka tidak bertanya lagi, daripada harus menerima kejutan demi kejutan yang di berikan Rendi.
__ADS_1
Suroto kembali melajukan mobilnya saat keterkejutannya sudah teratasi, ia benar-benar fokus untuk menyetir, agar bocah Milyarder yang sedang ada di dalam mobilnya itu merasa nyaman.