
Sasa ikut Rendi ke rumahnya, ia pikir kalau Rendi akan ke kantor, tapi ternyata malah pulang ke rumahnya. Tentu saja wanita itu bingung, karena ia berniat untuk bekerja bukan menemani bosnya itu bersantai.
"Aku mau istirahat, kamu juga istirahat saja dulu, aku tahu kamu semalam begadang, pilih kamar sesukamu," ucap Rendi sebelum turun dari mobil.
Sasa tertegun, satelah ia bekerja di berbagai perusahaan, baru kali ini dirinya malah di suruh istirahat ketika baru bekerja.
Rohis yang melihat Sasa tertegun di dalam mobil, ia buka suara. "Begitulah bos kita, semakin Mbak Sasa menurut dengannya, Mbak Sasa pasti akan dapat banyak kebaikan, tapi ya itu kadang bos sering memberikan perintah aneh, contohnya seperti hari ini."
"Menurut ku tidak aneh, itu malah bagus," jawab Sasa yang sudah tersadar kemudian turun dari mobil.
Sasa menatap rumah megah itu, ia tidak menyangka bisa masuk ke dalam rumah orang kaya. Ia pun berjalan masuk ke dalam rumah.
Saat sudah di dalam rumah, Sasa semakin terpesona dengan dekorasi rumah tersebut, ia benar-benar di buat takjub dengan desain interior yang elegan tersebut.
"Mbak!" tegur Sebastian tiba-tiba, sehingga membuat wanita itu sedikit kaget.
"Astaga, Bapak bikin kaget saja," ucap Sasa sambil mengelus dadanya.
Sebastian tersenyum. "Saya mendapatkan pesan dari tuan, kalau Mbak boleh istirahat di kamar mana saja, asalkan jangan mengganggu tuan di kamar utama."
"Iya Pak aku tahu kok, mana berani aku mengganggu Bosku, tapi terimakasih Pak sudah memberitahuku," jawab Sasa ramah.
__ADS_1
"Sama-sama Mbak, kalau perlu sesuatu silahkan panggil kami, saya permisi dulu," pamit Sebastian yang langsung kembali ke belakang.
Sasa menghela napas. "Kapan aku bisa hidup seperti ini, ada pelayan yang begitu sopan melayaniku tiap hari," gumamnya tidak berdaya.
Sasa kemudian memilih kamar yang ada di lantai bawah, ia tidak berani ke lantai atas, karena ia tahu batasannya.
Sementara itu di kamarnya, Rendi baru selesai mandi, ia mengenakan pakaian santai kemudian mengambil Sistem Spin dan duduk di tempat tidurnya.
Tanpa ragu Rendi menekan Sistem tersebut, seperti biasa Sistem berputar sangat cepat, sebelum akhirnya perlahan melambat dan berhenti.
[ Selamat, Anda mendapatkan Kekuatan pembaca Pikiran orang lain! Penerapan akan segera di lakukan!]
Rendi langsung mengatupkan giginya, karena ia yakin akan mendapatkan rasa sakit dari penerapan kekuatan tersebut.
Rendi memegangi kepalanya, ia benar-benar merasakan sakit yang luar biasa, melibihi migrain atupun jenis sakit kepala lainnya. Namun, setelah beberapa saat, rasa sakit itu perlahan menghilang.
Rendi terlihat terengah-engah sambil terbaring di lantai menatap langit-langit kamarnya.
"Semakin hari, hadiah yang di berikan Sistem di luar prediksiku, apa yang sebenarnya Sistem inginkan?" tanya Rendi kepada dirinya sendiri.
Rendi sadar di balik kekuatan dan Kekayaan yang di berikan Sistem, pasti ada sesuatu yang harus ia lakukan untuk membuat semua itu berguna, tapi untuk saat ini Rendi tidak tahu apa yang di inginkan Sistem.
__ADS_1
Kekayaannya sudah di luar nalar, Kekuatannya juga bisa di katakan seperti super Hero. Jika kekayaannya ia tahu untuk melakukan bisnis dan rencana kehidupannya ke depan. Tapi kalau kekuatannya untuk apa? Jika ia semakin kuat saja, memangnya ada orang yang akan bisa melawannya?
Yang Rendi bingung kan dari Sistem, karena terus memberinya kekuatan, walaupun ia cukup terbantu untuk membela diri, tapi menurutnya itu berlebihan jika hanya untuk membela diri saja.
"Sudahlah, lebih baik aku tidak perlu memikirkan ini dulu, lebih baik aku fokus, agar bagaimana caranya bisa merubah negara ini agar bisa berkembang lagi dan menyingkirkan para orang-orang tidak berkompeten yang menduduki kursi wakil rakyat!" ucap Rendi penuh tekad.
Tiba-tiba ponselnya berdering, dan ternyata itu dari Fina, Rendi menatap malas layar ponselnya. Dengan terpaksa ia mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, ada apa Fin?" tanya Rendi malas.
"Ren, nanti malam kamu bisa tidak datang ke rumahku? Bisa yah Please kamu datang?" ia yang bertanya ia juga yang langsung memohon, sehingga membuat Rendi mengerutkan keningnya.
"Ada acara apa memangnya?" tanpa Rendi langsung tahu kalau pasti ada acara di rumah Fina.
"Pokoknya kamu harus datang, aku tunggu kamu!" ucap Fina tegas.
"Memangnya kamu pikir aku pengangguran? Yang bisa di suruh-suruh kamu begitu saja?!" jawab Rendi ketus sambil menutup ponselnya.
"Wanita aneh! Lama-lama aku blokir juga nomornya!" gerutu Rendi kesal.
Ponsel Rendi kembali berdering, dan itu Fina lagi yang menelpon. Rendi mengabaikannya panggilan tersebut, hingga setelah puluhan kali menelpon, Fina pun akhirnya menyerah juga.
__ADS_1
Rendi langsung mematikan ponselnya, ia tidak mau ada yang mengganggunya lagi, saat ia istirahat. Bocah SMA yang sudah menjadi taipan itupun akhirnya terlelap, akibat semalaman tidak bisa tidur di gubug Ronal.