Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Pergerakan Para Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Rendi yang sudah meminta beberapa senjata ke Malik. Ia mencobanya di halaman belakang, tentu saja dengan pantauan Malik juga.


Malik juga penasaran, apakah Rendi mampu menggunakan senjata atau tidak. Mengingat ia tidak pernah melihat Rendi bertarung menggunakan senjata.


Rendi sedang memegang pistol, ia fokus mengincar sebuah target yang ada di dekat dinding pagar rumah besar Malik.


Dor


Dor


Dor


Rendi menembakkan tiga peluru dan semuanya mengenai tepat di tengah-tengah target. Padahal hari masih sedikit petang, tapi penglihatan Rendi tampak begitu tajam.


Malik saja sampai terkejut, ia tidak pernah menyangka sama sekali kalau pemuda yang bekerja sama dengannya itu bisa menggunakan senjata dengan begitu baik.


Rendi mencoba beberapa senjata lainnya, seperti senapan sergap dan yang lainnya. Ia ternyata bisa menggunakan semuanya.


Ternyata kemampuan memegang senjataku masih berfungsi juga.


Rendi bergumam dalam hati sambil menyeringai. Membuat Malik yang ada di dekatnya merinding.


"Malik, aku akan menyimpan beberapa senjata ini. Apa kamu keberatan?" tanya Rendi kepada pria yang kini menjadi rekannya tersebut.


"Tidak tuan, silahkan ambil saja, di sini juga banyak senjata seperti itu," jawabnya mantap.


Rendi mengangguk mengerti, ia membereskan senjata-senjata tersebut dan membawanya ke dalam kamarnya, untuk mencari cara agar bisa membawa senjata-senjata tersebut tanpa repot.


...***...


Siang hari di kediaman Malik, tampak sebuah mobil yang tidak jauh dari tempat tersebut, seperti sedang mengawasi sesuatu.

__ADS_1


"Nul, bagaimana penjagaan di sana?" tanya orang yang memegang setir, kepada rekannya yang tampak sedang memerhatikan laptopnya.


"Tampaknya Misnan berhasil membuat mereka semua lengah, lihatlah hanya ada dua penjaga di depan gerbang dan dua di depan rumah," jawab orang yang memegang laptop sambil menunjukkan video di laptopnya.


Misnan, merupakan bawahan Malik yang berhasil di buat tidak sadarkan oleh Rendi. Pria itu sekarang sedang di kurung dalam ruangan bawah tanah.


Pria yang memegang setir menyeringai. "Baguslah kalau begitu, kita tidak perlu repot-repot susah payah mengalahkan mereka," ucapnya yakin.


"Zo, apa kita tidak tunggu nanti malam saja?" tanya orang yang di panggil Nul tersebut.


"Buat apa? Semakin cepat lebih baik, agar kita cepat pulang dan bersenang-senang dengan bayaran kita!" ucap Zo percaya diri.


"Kamu benar juga, ayo berangkat!" Nul menutup laptopnya dan keluar dari mobil, begitu juga dengan Zo.


Mereka berdua sangat yakin bisa membunuh Malik dan Rendi dengan cepat, mengingat penjaga sudah di alihkan oleh Misnan. Namun, mereka tidak tahu saja kalau pergerakan mereka sudah di ketahui Rendi yang sedang menatap laptopnya di dalam kamar.


Rendi di dalam kamar tampak menyeringai. Ia memegang sebuah Sniper. Ia keluar ke balkon kamarnya. Pria itu langsung bersiap menembak ke arah yang di perkirakan akan di gunakan kedua orang yang akan menyerangnya tersebut.


Sementara itu, kedua orang yang tadi mengincar Rendi. Mereka benar-benar lewat dinding yang di perkirakan Rendi, tentu saja hal tersebut membuat Rendi tersenyum simpul.


"Aman Nul, ayo cepat!" ajak Zo yang sudah turun ke bawah.


Orang yang di panggil Nul, dengan ketrampilannya, melompat ke dinding yang tingginya hampir tiga meter tersebut.


Dor


Zo terkapar sebelum Nul turun dari tembok, ketika rekannya itu turun. Ia terkejut karena rekannya sudah tewas di sana.


Sontak saja Nul langsung panik, ia menoleh ke segala arah, sebelum akhirnya melihat Rendi yang sedang membidiknya dan sebuah peluru sudah melesat ke arahnya.


Dor

__ADS_1


Brug


Nul tewas seketika, tembakan Rendi tepat mengenai kedua kepala orang tersebut, sehingga mereka berdua langsung tewas.


Rendi menghela napas. "Syukurlah mereka masih amatiran," ucapnya lega.


"Malik! Bereskan mereka berdua!" teriak Rendi dari atas.


"Baik Tuan!" Malik dan bawahannya langsung berdatangan, mereka semua menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya, karena Rendi begitu tepat dalam memprediksi.


"Bos, sepertinya semua ucapan tuan Rendi sudah di perhitungkan dengan matang," ucap salah satu bawahan Malik yakin.


"Kamu benar, cepat singkirkan mayat mereka!" perintah Malik tegas.


Para bawahannya mengangguk, mereka semua langsung membereskan kedua mayat itu untuk segera di buang ke tempat biasanya mereka membuang mayat musuh-musuh mereka yang tewas.


...***...


Ditempat kedua orang yang tampak pembunuh profesional beristirahat. Tampak ada empat wanita penghibur yang tewas di sana karena melayani keduanya.


"Wanita-wanita di sini sangat lemah, apa mereka tidak biasa memuaskan hasrat pria seperti di tempat kita?" tanya salah satu dari mereka.


"Bukankah sudah kelihatan ketika kita mulai menggarapnya, aku yakin mereka sudah melayani banyak pria, tapi lubangnya tampak masih sempit," ucap Pria yang berperawakan hitam legam.


"Kamu benar juga, jadi orang-orang di sini memang benar-benar payah ternyata!" ucap pria satunya.


"Sudahlah, cepat kamu hubungi Danton! Kita akan menghabisi orang itu, agar ia menyiapkan uangnya lebih cepat!" ucap Pria berperawakan hitam legam tersebut.


Pria satunya mengangguk, ia langsung menghubungi Danton, agar cepat menyiapkan uangnya, mengingat mereka akan langsung bergerak.


Kedua Pria itu tampak tidak takut sama sekali dengan apa yang akan di lakukannya, mungkin karena Danton sudah membungkam seluruh kemanan di negara tersebut dengan uangnya.

__ADS_1


Bagi Danton menutup mulut para keamanan di negaranya itu sangat mudah, asalkan ia keluar uang banyak, semuanya akan beres dalam seketika. Mereka akan menutup mata dan telinga layaknya tidak terjadi apa-apa.


__ADS_2