Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Kelepasan


__ADS_3

Novi yang melihat Rendi terkejut seperti itu, ia mengerutkan keningnya, ia pikir kalau Rendi terlalu berekspresi berlebihan.


"Kamu kaya lihat setan saja, sampai seperti itu, Ren?" Novi mengerucutkan bibirnya, ia duduk di kasur Rendi dan bersender di dinding.


"Maaf, aku serius tadi tidak lihat kamu, serius." Rendi mendekati Novi dan mencubit dagunya dengan lembut.


Gadis itu tentu saja terkejut, ini pertama kalinya Rendi melakukan hal tersebut, sehingga ia sedikit tersipu.


Wajah kesalnya berubah malu-malu, Rendi yang melihat itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu lihat apa sih, Ren? Serius amat?" tanya Novi penasaran.


"Berkas Ruko yang aku beli tadi saat pulang sekolah, buat buka pangkalan nasi goreng, Samiun dan yang lainnya." jawab Rendi sambil menunjukkan berkas tersebut pada Novi.


"Kamu serius? Gercep banget kamu." Novi meraih berkas Ruko yang ada di tangan Rendi, ia terkejut saat melihat alamat Ruko yang ada di perempatan jalan larangan, dekat dengan pasar.


"Ren, kamu serius membeli ruko ini?" tanya Novi memastikan.


Rendi hanya mengangguk, mau bilang beli, ia tidak membelinya, mau bilang hadiah dari Sistem Spin, ia tidak mau orang lain tahu rahasia kekayaannya, jadi lebih baik mengangguk saja untuk mencari aman.


"Nanti kamu mau menemani aku membeli peralatan untuk dagang tidak, Nov?"


"Boleh, tapi keluarin banyak uang terus, yakin tidak apa-apa?"

__ADS_1


Rendi tersenyum, ia meraih tangan Novi dan menariknya mendekat ke lemari miliknya, "aku mau memerlihatkan sesuatu, tapi janji kamu jangan bilang siapa-siapa."


"Apa sih Ren, kamu kaya gak kenal aku saja." jawab Novi kesal karena Rendi tidak memercayainya.


"Janji dulu." ucap Rendi lugas.


"Iya, iya, aku janji!" Novi memutar bola matanya malas.


Rendi tersenyum, ia membuka lemarinya, kemudian ia memerlihatkan emas yang di miliknya yang ia bungkus di baju lamanya.


Mata Novi langsung membelalak lebar, ia terkejut saat melihat emas-emas itu, ia meraih satu emas batangan yang beratnya satu kilo gram lebih.


"Ren, ini asli?" tanya Novi memastikan.


Rendi mengangguk, "ya semuanya asli, tapi aku bingung mau menjualnya di mana? Di sini tidak ada yang membeli emas batangan seperti itu, bukan?"


"Ren, nanti aku kenalkan kamu sama Ayahku, kebetulan beliau mengenal pengoleksi barang antik, siapa tahu ada yang mau membeli emasmu ini." ucap Novi dengan suara sedikit bergetar.


"Terserah kamu sajalah Nov, aku juga bingung mau di apain emas-emas itu, lebih baik aku jual biar laku dan uangnya aku tabung, daripada geletak seperti itu terus."


"Ya sudah, tiga hari lagi ayahku pasti pulang, kita nanti menemuinya sama-sama."


Rendi hanya mengangguk patuh, Novi meletakan emas tersebut di tempatnya kembali dan membungkusnya, Rendi menutup lemari dan menguncinya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja saat Rendi membalik badan, Novi tanpa ragu mematut bibir Rendi, sontak Rendi melebarkan matanya terkejut. Ia mau mendorong Novi, tapi gadis itu merangkul lehernya, sehingga Rendi tidak bisa melepaskannya.


Karena ini pertama kalinya untuk Rendi, ia hanya diam membiarkan Novi melakukan apapun yang ia inginkan. Setelah beberapa saat, Novi melepaskan pagutannya.


Terlihat wajah Novi memerah, napasnya juga sedikit memburu, Rendi juga merasakan hal yang sama, karena mau bagaimanapun ia pria normal.


"Ren, aku mencintaimu." ucap Novi lembut.


Rendi terbengong, ia hanya bisa menatap wajah gadis cantik itu lekat-lekat, tanpa bersuara sepatah katapun, yang ada di pikirannya sekarang antara bingung, senang dan kaget.


Novi kembali memagut bibir Rendi, kali ini reflek Rendi mengikuti pergerakan bibir Novi, mereka berdua terlarut dalam indahnya dunia.


Ekhem!!


Suara deheman keras langsung membuat keduanya menoleh, Novi terkejut saat melihat Pamannya yang sedang berdiri di bang pintu kontrakan Rendi sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Bagus, kalian berdua menjadikan kontrakan ku sebagai tempat mesum." ucapnya dingin.


Novi reflek melepaskan rangkulan tangannya di leher Rendi, dan segera turun dari pangkuan Rendi. Sementara itu Rendi bingung mau berkata apa, ia hanya bisa menundukkan kepalanya tidak berdaya.


"Novi! Siapa yang mengajari kamu menjadi anak nakal seperti itu?! Kalau dia orangnya, aku akan mengusirnya sekarang!" bentak Paman Novi keras.


"Ja-jangan Paman, ini Novi yang salah, aku yang memulainya." Novi memberanikan diri pasang badan.

__ADS_1


Rendi menggenggam tangan Novi, "Pak Toto, kami berdua tahu salah kok, tapi ini pertama kalinya buat kami, kami tidak tahu tiba-tiba saja terjadi seperti ini."


Rendi tentu tidak mau Novi mendapatkan masalah sendiri, sebagai pria, ia juga harus bertanggung jawab.


__ADS_2