Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Rindu Kampung


__ADS_3

Andre tentu tidak menyangka, kalau ia malah akan babak belur seperti itu, padahal teman-temannya sudah membantu.


Teman-teman Andre yang babak belur, mereka membantunya untuk di bawa ke rumah sakit segera.


Semua orang menertawakan Andre dan teman-temannya yang kalah dari anak SMA, apalagi mereka berenam.


Rendi yang kesal, tanpa sadar ia yang memegang kemudi mobil, tanpa ia duga ternyata dirinya bisa menyetir mobil, padahal ia sama sekali belum pernah menyentuh setir mobil sekalipun.


Sementara Fina pikir, kalau Rendi sudah terbiasa menyetir, jadi ia tidak mempermasalahkannya sama sekali.


"Ren, kamu marah yah?" tanya Fina memastikan.


"Tidak." jawabnya singkat.


Fina melirik Rendi, terlihat bocah SMA itu tidak berekspresi sama sekali, ia yakin kalau Rendi pasti marah.


"Alamat rumahmu dimana?" Rendi bertanya tanpa menoleh.


Fina langsung memberitahu alamat rumahnya, ia yang takut dengan Rendi. Tidak berani buka suara lagi, hingga mereka sampai di rumahnya.


Rendi menghentikan mobilnya di depan gerbang, Fina kemudian turun dari mobil, tanpa berkata-kata apalagi, Rendi langsung pergi begitu saja dan kembali ke rumahnya.


Fina menghela napas, ia merasa bersalah karena melibatkan Rendi dengan mantan pacarnya, walaupun Rendi tidak terluka, tapi tetap saja Rendi harus berkelahi dengannya.

__ADS_1


Fina masuk ke dalam rumah dengan wajah di tekuk. Sera yang melihat anaknya terlihat lesu, ia menghampirinya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Sera perhatian.


"Aku tidak apa-apa, Bu." jawab Fina lesu, dan terus berjalan ke kamarnya.


Sera menoleh ke arah suaminya, tapi pria paruh baya itu hanya menggendikkan bahu, sehingga membuat Sera menghela napas berat.


...***...


Sementara itu Rendi sudah sampai di rumahnya, ia bergegas masuk ke kamar untuk ganti pakaian.


"Sialan! Main siram-siram saja tuh orang, memangnya aku bunga taman apa?!" gerutunya kesal.


Rendi terus menggerutu kesal sambil berganti pakaian, sebelum akhirnya ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Ternyata tidak enak tinggal di sini, enakkan tinggal di kampung, besok aku pulang sajalah, nanti saja aku kembali ke sini, kalau ada urusan penting."


Rendi rindu dengan suasana kampung, apa lagi ia rindu dengan candaan Harisman dan bawahannya, di Jakarta meskipun semuanya serba ada, tapi ia merasa ada yang kurang dalam hidupnya.


Rendi mengehela napas berat, ia mengambil ponselnya, berbalas chat dengan Novi dan Sulis, hanya itu saja yang membuatnya sedikit merasa lebih tenang.


Tanpa terasa Rendi ketiduran, ia pun terlelap sampai pagi.

__ADS_1


Rendi bangun saat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, di rumahnya itu, ia sekarang bangun kesiangan terus, di tambah Sebastian juga tidak berani mengganggu tidurnya.


"Lagi-lagi sudah siang." keluhnya pada diri sendiri.


Rendi bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri. setelah sudah selesai mandi dan berganti pakaian, Rendi mengambil Sistem Spin.


Seperti biasanya, ia menekan benda tersebut, sehingga jarum Spin langsung berputar, sebelum akhirnya berhenti.


[ Selamat, Anda mendapatkan sawah 10 Hektar, berikut dengan berkas-berkasnya! Lokasi sawah ada di berkas-berkas.]


Berkas-berkas sawah tersebut muncul di hadapan Rendi, bocah SMA itu langsung mencari Lokasi sawah tersebut. Ia tersenyum saat tahu kalau sawah tersebut merupakan milik orang kaya pelit di kampung Karbal.


"Tunggu dulu, kalau sawah ini jadi milikku, apa yang terjadi dengan Pak Kadrun? (pemilik sawah)" gumamnya bingung.


Tentu Rendi bingung, pasalnya Pak Kafein orang terkaya di kampung Karbal, Ayah Sulis saja yang juragan bawang tidak sekaya Pak Kadrun. Karena itulah Rendi bertanya-tanya, bagaimana mungkin orang terkaya itu bisa menyerahkan sawahnya begitu saja pada Sistem.


"Lebih baik nanti aku pastikan sajalah, apa yang sebenarnya terjadi."


Rendi menyimpan berkas-berkas tersebut di lemarinya. Ia pun langsung turun ke bawah, untuk mengajak Hendri pulang ke kampung halamannya.


Tentu Sebastian terkejut saat Rendi pamit mau pulang, padahal ia baru tiga hari di Jakarta. Namun, Sebastian hanya bisa mengiyakan permintaan tuannya itu.


Hari itu juga, Rendi kembali pulang ke kampung halamannya bersama dengan Hendri yang menjadi sopirnya.

__ADS_1


__ADS_2