Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Tidak Sesuai Rencana


__ADS_3

Rendi belum tahu kalau keluarganya sudah ada yang mengincar.


Tapi para Militer juga dengan sigap bergerak, walaupun jumlah mereka tidak banyak, setidaknya bisa membuat kelompok Komunis sedikit sulit bergerak.


Sebuah mobil Baracuda datang bersamaan dikediaman Rendi dan Ibunya. Tampak prajurit militer turun dan langsung bergegas mengamankan wilayah tersebut.


Pemimpin prajurit juga masuk ke dalam rumah Ibu Rendi untuk memberitahunya tentang perlindungan yang mereka lakukan, begitu juga di kediaman Rendi.


Jelas saja semua orang yang ada dua dikediaman tersebut terkejut, karena tiba-tiba ada pasukan militer yang datang untuk melindungi mereka.


Sementara itu para kelompok Komunis juga ikut terkejut, ketika tiba-tiba prajurit Militer berdatangan.


"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba ada militer datang?" tanya pemimpin kelompok Komunis.


"Bos, apa ini ada hubungan dengan tertangkapnya Roby?" ungkap salah satu bawahannya.


"Brengsek! Kita mundur dulu, susun rencana ulang!" perintah pemimpin tersebut yang tidak mau mengambil resiko.


Bawahannya mengangguk mengerti, mobil Van yang membawa mereka semua pergi dari tempat tersebut. Mereka yang ada dikediaman Ibu Rendi juga melakukan hal yang sama, karena tidak mau mengambil resiko, sebelum misi mereka berhasil.


Didalam kediaman Rendi Sulis dan Pelayan yang ada di rumah mengobrol dengan pemimpin Kelompok militer tersebut di teras.


"Pak kalau kami saja dalam bahaya, bagaimana dengan Mei Ning dan Novi, mereka sekarang ada di kantor dan Universitas?" tanya Sulis khawatir.


"Nona tenang saja, kami juga sudah mengirim orang untuk melindungi mereka, Pak Presiden sudah memberikan perintah untuk melindungi kalian, mulai sekarang mohon kerjasamanya," ucapnya sopan.


Sulis menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu."

__ADS_1


Setelah bicara beberapa saat, pemimpin militer kembali ke posisinya untuk memberikan perintah lanjutan kepada bawahannya. Mereka semua tampak waspada berjaga di wilayah tersebut.


...***...


Sementara itu di Desa Karbal, tempat kelahiran Rendi. Harisman dan bawahannya sedang sibuk di kedai nasi goreng sangar yang semakin hari semakin maju saja.


"Bos, katanya Roby ditangkap polisi, kena masalah apa yah dia?" tanya Sengkuni penasaran.


"Sudah kamu tidak perlu tanya masalah itu, urusannya panjang kalau bahas dia!" tegur Harisman yang notabenya tahu karena ia akan polisi.


"Aku dengar sih katanya dia masuk kelompok Komunis gitu," celetuk Samiun.


Pletaakk


"Aduh! Sakit bos," rengek Samiun ketika sebuah jitakan keras mendarat di kepalanya.


Samiun dan Sengkuni seketika terdiam, mereka menundukkan kepala, tidak berani menatap bosnya itu yang tampak marah.


Harisman tahu betul kalau kelompok Komunis merupakan kumpulan orang-orang yang memiliki pemikiran radikal-ekstream, mereka tidak mengenal siapa yang akan dilawan. Bagi mereka yang menghalangi jalannya harus dimusnahkan.


Kelompok tersebut sebenarnya sudah ada sejak jaman penjajahan, hanya saja karena sedikit tekanan dari pemerintah perlahan kelompok tersebut mulai tenggelam, tapi tidak hilang sepenuhnya.


Efek reformasi besar-besaran yang di lakukan Rendi dan Malik, para pembenci mereka berdua bergabung dengan kelompok tersebut. Tujuannya sangat jelas, mereka ingin mendapatkan kebebasan mereka kembali.


Entah kebebasan apa yang mereka maksud, sementara di sistem pemerintahan Malik. Semua orang boleh bersuara. Mungkin agar mereka bisa menggendutkan rekening pribadi.


Para pembenci tetaplah pembenci, mau sebagus apapun pemerintahan yang sekarang, mereka akan tetap saja mencari cara untuk menjatuhkannya.

__ADS_1


Harisman sebenarnya sudah tahu kalau dikampung Karbal ada beberapa keluarga yang turun temurun sangat kental dengan kelompok Komunis. Salah satunya keluarga Roby.


Karena Ayahnya menyuruh Harisman tutup mulut, ia pun tidak memberitahu Rendi perihal siapa saja keluarga tersebut, di tambah orang-orang di kampung tidak ada yang tahu kalau Rendi yang berhasil membubarkan para koruptor di negeri tercintanya tersebut.


"Bagaimana kabar Bos Rendi yah, sudah lama dia tidak kembali," ucap Lehor tiba-tiba.


Samiun menghela napas. "Aku juga pengen tahu kabar bos, dulu enak selalu pesta di kontrakan bos."


"Kalian ini, Bos Rendi sangat sibuk sekarang, di Jakarta bisnisnya berkembang pesat. Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku yakin Bos Rendi juga sama seperti kita, sudah lanjut kerja!" tegur Harisman tegas.


"Baik Bos!" jawab mereka serempak.


Harisman dan yang lainnya kembali fokus melayani para pelanggan, karena sekarang kedai nasi goreng sangar sudah memiliki beberapa cabang, pelanggan mereka sudah tidak berdesak-desakan lagi, ya walaupun masih rame, tapi tidak seperti dulu yang antriannya sangat panjang.


...***...


Sementara itu di gubug Sawah kampung Karbal, terdapat seorang pria paruh baya yang sedang duduk disana seorang diri sambil menelpon.


"Apa maksudmu bodoh! Kalian bisa culik mereka saat pergi ke suatu tempat, jangan hanya berpatokan di rumah saja!" Pria itu tampak marah-marah di telepon.


"Bos, masalahnya sekarang semua keluarga dia sudah dikawal militer, kita salah bertindak saja, pergerakan kita akan diketahui," jawab orang diseberang telepon tidak berdaya.


"Gunakan otakmu! Cari cara untuk bisa mendapatkan salah satu dari mereka, bila perlu gunakan keluarga mereka untuk memancingnya!" raung pria itu kesal sambil mematikan ponselnya.


"Dasar orang-orang tidak berguna! Kalau begini aku harus bergerak sendiri, daripada harus menunggu lagi!" gumamnya sambil mengepalkan tangannya erat.


Pria itu menelpon seseorang lagi, tampak ia membicarakan rencana yang akan ia gunakan. Tampak wajah serius pria itu memberitahu orang ditelepon.

__ADS_1


"Rendi Murdianto! Tahu seperti ini jadinya, aku sudah membunuhmu dari dulu!" ucapnya geram setelah menelpon.


__ADS_2