Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Rencana Musuh dan Rencana Rendi


__ADS_3

Rendi kembali berdiri tegap lagi. Mei Ning tertegun menatap pria yang ia kagumi itu, yang kiranya tadi akan tewas bersimbah darah.


"Kenapa bengong? Ayo bangun," ucap Rendi sambil mengulurkan tangannya.


Mei Ning tersadar, ia meraih tangan Rendi. Wanita itu menatap Rendi dari atas sampai ke bawah, tidak ada luka sama sekali, yang ada hanya robekan pada bajunya saja.


"Tuan Rendi, apa anda tidak apa-apa?" tanya Malik yang tergopoh-gopoh menghampiri Rendi, bersama beberapa anak buahnya.


Rendi mengangguk. "Aku tidak apa-apa, bereskan semuanya, dan perketat lagi penjagaan! Aku yakin, hari ini akan menjadi hari yang panjang untuk kita," ujarnya yakin.


"Baik Tuan!" Malik mengeluarkan ponselnya, menghubungi para bawahannya agar memperketat penjagaan. Bahkan kenalan Militer Malik juga turut ia panggil, agar datang membantu.


Rendi mengajak Mei Ning ke rumah Malik yang halaman depannya sudah hancur berantakan, akibat serangan brutal para pembunuh bayaran yang mengejar Rendi.


Mei Ning yang melihat itu saja sampai terkejut, karena ternyata serangan terhadap Rendi sudah di mulai.


Mereka berdua duduk di ruang tamu. Rendi menghela napas berat sambil memegang pangkal hidungnya karena bingung kenapa Mei Ning malah datang.


"Kenapa kamu kemari Mei? Tempat ini berbahaya!" seru Rendi membuka pembicaraan.


"Terus kenapa? Kamu menyuruh aku diam saja, sementara kamu sedang di incar banyak pembunuh bayaran? Apa kamu gila Ren?!" bentak Mei Ning kesal.

__ADS_1


Rendi menghela napas. "Bukan begitu Mei, aku tidak mau kamu terlibat lebih jauh dengan masalahku, aku sudah mengijinkan kamu meninggalkan aku, anggap saja tugasmu sudah selesai."


"Tidak! Aku tidak akan pernah meninggalkan mu, walaupun harus mati bersama kamu, aku rela!" jawab wanita itu tegas.


Rendi mengernyitkan dahi, ia menatap Mei Ning dengan serius. "Sadarlah Mei! Hidupmu masih berharga, sementara kamu lihat sendiri, tanpa kamu pun aku tidak akan mati di sini."


Mei Ning menatap sayu pria yang di kaguminya itu. Ia mengharapkan Rendi bisa mengakuinya lebih, karena hidupnya sudah ia pasrahkan untuk pria yang sekarang sedang mengobrol dengannya.


Untuk seorang pembunuh bayaran, mungkin Mei Ning terlalu naif. Karena jatuh cinta pada targetnya. Namun, ia juga seorang wanita yang butuh perhatian juga dari lawan jenisnya, mengingat selama ini hidupnya dalam kesendirian.


Hanya dengan bersama Rendi, wanita itu bisa merasakan indahnya perasaan yang selama ini belum pernah ia alami. Rendi sudah mengubah dirinya yang dulunya begitu dingin dengan pria, sekarang menjadi sosok wanita yang lembut.


Rendi terkesiap dengan ucapan Mei Ning. Ia tidak pernah menyangka kalau wanita itu begitu sangat mencintainya.


Rendi tidak tahu harus berbuat apa, agar Mei Ning tidak ikut campur dengan urusannya, mengingat ia juga tidak mau kalau wanita itu akan tewas di depan matanya, karena pembunuh bayaran yang mengincarnya tingkat internasional.


Rendi menghela napas. "Mei, kamu harus tahu satu hal, aku tidak bisa melindungi kamu setiap saat. Mengingat musuhku bukanlah orang-orang amatir."


"Apa kamu lupa Ren? Aku juga seorang pembunuh bayaran, aku bisa menjaga diriku sendiri!" ujarnya tegas.


Rendi tidak tahu harus berbicara apa lagi, tampaknya keputusan Mei Ning sudah bulat. Hingga akhirnya pria itu hanya bisa bilang terserah kepadanya.

__ADS_1


Mei Ning mengulas sebuah senyum. Ia tentu cukup senang karena Rendi mau menerima bantuannya.


Mereka berdua pun langsung bersiap-siap. Kali ini semua bawahan Malik juga bersembunyi di setiap sudut wilayah kediaman bosnya itu.


Mei Ning memakai pakaian ketat yang biasa ia pakai untuk melakukan misinya, dengan pakaian tersebut, wanita itu bisa bergerak bebas, di tambah ia merasa nyaman menggunakan pakaian tersebut.


Sementara Rendi sedang melihat Laptopnya, ia meretas seluruh Cctv yang ada di wilayah tersebut. Pria itu merasa heran karena semua wilayah itu sudah tidak ada lagi orang-orang yang berada di sana. Mereka semua seolah sudah di beri peringatan untuk pergi dari rumahnya.


Tanpa Rendi ketahui, memang sebenarnya orang-orang di sana sudah di peringkat kepolisian yang di bayar Danton, agar meninggalkan rumah mereka. Semenjak Rendi melawan pria yang membawa senapan mesin.


"Ternyata dia sudah menyiapkan rencana sampai sejauh ini? Boleh juga kamu Danton," ucapnya sambil menyeringai.


"Ren, apa mereka sudah mulai datang?" tanya Mei Ning yang sudah menyiapkan segalanya.


Rendi menganggukan yang. "Ya, mereka kemungkinan akan menyerang nanti malam, saling mengambil kesempatan satu sama lain untuk membunuhku," ujar Rendi sambil tersenyum.


Mei Ning mengernyitkan dahi. "Sedang di buru, tapi kamu malah setenang ini Ren?"


"Hahahaha... kalau aku cemas, sama saja aku takut dengan mereka, bukanlah lebih baik seperti ini?" ucap Pria itu masih dengan senyum jahatnya.


Mei Ning menghela napas. Ia sadar kalau Rendi memiliki kelainan, di tambah kekuatannya juga tidak tertebak. Mei Ning mengingat kejadian ketika pertama kali bertemu Rendi, saat akan membunuhnya. Pria itu tidak tewas meskipun di suntikkan racun dengan dosis tinggi.

__ADS_1


__ADS_2