Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Sulis Sembuh


__ADS_3

Rendi menghela napas berat, padahal ia mencoba bersikap biasa saja. Tapi ternyata ketiga wanita yang ada di sana menyadari perubahan wajahnya.


"Benar Ren, kamu terlihat berbeda!" Novi beranjak dari duduknya dan melihat dengan seksama wajah Rendi.


"Ren, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari kami, semakin hari kita kenal dengan kamu. Semakin banyak perubahan yang kami lihat," timpal Sulis yang duduk bersandar di ranjangnya.


Rendi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia menghampiri Sulis dan duduk di sampingnya. "Memangnya apa yang aku sembunyikan dari kalian? Beginilah aku, apa kalian tidak bisa menerima ku yang seperti ini?"


Rendi dengan pandainya membalikan pertanyaan, sehingga ketiga wanita yang mengagumi dirinya, tentu saja langsung menarik kata-katanya dan tidak membahas masalah itu lagi.


"Ren, jangan bicara seperti itu, aku menerima kamu kok," ucap Sulis lembut.


"Aku juga," timpal Novi yang langsung mendekat ke arah Rendi.


"Apalagi aku," ucap Mei Ning yang tanpa ragu duduk dipangkuan Rendi sambil merangkul lehernya.


"Kak Mei curang ih...." keluh Novi ketika melihat Mei Ning yang merangkul mesra Rendi.


Sulis juga tampak iri, sehingga membuat Rendi langsung menyuruh Mei Ning turun dari pangkuannya.


Mei Ning sadar bukan pemilik Rendi satu-satunya, karena itulah ia lekas turun dari pangkuan pria tersebut.


Mereka kembali mengobrol-ngobrol sambil sesekali bercanda satu sama lain. Sulis juga sesekali mencoba menggerakkan kakinya, wanita itu sudah tidak sabar bisa kembali berjalan seperti sedia kala.


Kabar gembira tersebut, sengaja Rendi tidak beritahu kan kepada keluarga Sulis, karena ia berencana mengunjungi tempat kelahirannya setelah sekian lama tidak melihat Desa Karbal dan memberikan kejutan untuk keluarga wanitanya itu.


...***...


Ke esokan harinya. Rendi baru terbangun dari tidurnya, kali ini ia tidak melupakan Sistem dan langsung memutar Spin harian.


[ Selamat, Anda mendapatkan uang 100 Milyar! Saldo akan dikirim ke akun Bank anda!]

__ADS_1


Rendi hanya tersenyum ketika melihat pemberian Sistem kepadanya. Padahal kekayaannya sudah di luar nalar, tapi Sistem masih saja memberikan uang kepadanya.


Rendi beranjak dari tempat tidurnya, ia bergegas membersihkan diri, sebelum sarapan bersama dengan ketiga wanitanya.


Sementara itu didalam kamar Sulis, tampak pelayan yang merawat Sulis sedang membantunya duduk di kursi roda.


"Bi, nanti bantu aku belajar berjalan lagi yah," pinta Sulis lembut.


"Iya Non, nanti bibi bantu kok," jawabnya sopan.


Sulis tampak tersenyum simpul, ia sangat menantikan dimana dirinya bisa cepat berjalan kembali.


Ketika mereka keluar kamar, tampak Rendi yang sudah menunggu Sulis didepan kamarnya.


"Bi, biar aku saja yang mengantar Sulis," pinta Rendi.


"Baik tuan," jawab wanita paruh baya itu patuh, yang langsung meninggalkan mereka berdua.


"Coba sekarang kamu berdiri," perintah Rendi lembut.


"Percaya saja sama aku," ucap pria itu sembari mengulas sebuah senyum.


Sulis awalnya takut, kakinya juga terasa gemetaran, karena ini pertama kalinya ia akan mencoba berdiri kembali.


"Jangan takut, ada aku di sini," Rendi membantu Sulis untuk berdiri.


Sulis perlahan berdiri dengan berpegangan kepada Rendi, wanita itu tampak sangat kaku. Namun, Rendi terus menyemangatinya, bersamaan dengan itu, ia juga menyalurkan energi spiritualnya ke Sulis, agar otot-otot dalam kaki Sulis rileks.


Wanita itu perlahan berdiri, Rendi perlahan melepaskan pegangan Sulis. Hingga akhirnya wanita itu bisa berdiri sendirian tanpa bantuan darinya.


"Coba jalan ke arahku," perintah Rendi sambil sedikit menjauh.

__ADS_1


"Ren, aku takut...."


"Ayo, tidak apa-apa, ada aku yang akan menangkap kamu jika jatuh," ucap Pria itu meyakinkan.


Sulis menghirup napas dalam-dalam kemudian membuangnya, perlahan ia melangkahkan kakinya, yang tidak ia sangka kakinya terasa ringan, sehingga ia bisa berjalan ke arah Rendi walau masih sedikit kaku.


"Ren, aku bisa berjalan lagi!" serunya bersemangat sambil memeluk Rendi.


"Selamat yah sayang, sekarang kamu sudah sembuh, ayo kita turun ke bawah," ajak Rendi lembut.


Sulis mengangguk, ia berpegangan tangan Rendi dengan kencang, mengingat menuruni tangga butuh tumpuan kuat di kakinya, sehingga ia berjalan sangat hati-hati.


Rendi juga dengan sabar menuntunnya, walaupun ia tahu kalau sebenarnya Sulis sudah sepenuhnya bisa berjalan, tapi pria itu juga tidak mau buru-buru memberitahunya. Ia membiarkan agar Sulis agar terlihat sembuh dengan cara normal.


"Astaga, kamu sudah bisa jalan lagi?" tanya Novi yang sudah ada di meja makan ketika Sulis dan Rendi baru sampai.


"Iya Nov, tadi Rendi yang menyuruhku, tapi kakiku memang sudah terasa lebih ringan," jawabnya sambil menarik kursi dan duduk.


Mei Ning yang sudah ada di sana juga, ia tidak bertanya lebih lanjut, karena ia sudah tahu kalau Sulis pasti sembuh, mengingat Rendi saja bisa menyembuhkan dirinya sendiri yang terkena tembakan.


Ketika mereka semua sedang asyik makan sambil mengobrol, tiba-tiba ponsel Rendi berdering.


Pria itu mengangkat panggilan tersebut dengan santai. "Halo, ada apa Malik?" tanya Rendi langsung.


"Tuan Rendi, apakah hari ini anda bisa datang ke Istana?" Malik balik bertanya.


Rendi mengerutkan keningnya. "Ada apa? Aku tidak suka berurusan dengan pemerintahan," jawabnya malas.


"Tuan Rendi, ada masalah penting yang harus kita bicarakan. Anda pasti akan terkejut melihat ini!" seru Malik diseberang telepon.


"Baik, aku akan kesana nanti!" jawabnya sembari menutup panggilannya. Rendi yakin ada sesuatu yang penting sehingga Malik menyuruhnya datang. Karena pria itu tidak pernah menghubunginya jika masalah tersebut bisa diselesaikan olehnya.

__ADS_1


Rendi juga melarang Malik pergi ke rumahnya, itu semua agar identitasnya tidak terlihat oleh siapapun. Bahkan nama pemilik perusahaan Rendi saja sudah diganti menjadi nama ketiga wanitanya.


Rendi tidak butuh ketenaran, walaupun perusahaannya sangat berkembang. Namun, ia tetap menyembunyikan jati dirinya, hanya segelintir orang saja yang tahu kebenaran jika di balik Spin Internasional Industri dan Negaranya yang menggerakkan pria tersebut dari belakang layar.


__ADS_2