
Rendi tentu serius dengan ucapannya, dengan uang yang begitu melimpah dari Sistem, tentu ia tidak keberatan sama sekali membantunya.
Apa lagi uang perusahaannya juga terus mengalir masuk ke dalam rekening banknya, sehingga ia tidak mempermasalahkan mengeluarkan sejumlah uang untuk pengemis tersebut.
Rendi mengangguk. "iya Bu, asalkan Ibu mau berjanji padaku, kalau Ibu harus serius menjalankan usaha Ibu, bagaimana?"
"Iya mas, saya mau, saya janji akan serius menjalankan usahanya." jawabnya bersemangat.
"Ya sudah, kita beli keperluan usaha apa yang Ibu mau, di pasar dekat rumah Ibu, Ayo!" ajak Rendi pada pengemis itu.
Rendi membayar makanan dan jajanan yang ia beli untuk pengemis tersebut, ia kemudian mengajak pengemis dan anaknya untuk pergi ke pasar dekat rumahnya.
Terlihat si bocah Lima tahun anak pengemis makan jajan di mobil terus-terusan, ia tampaknya sangat senang dengan pemberian Rendi.
Rendi hanya tersenyum melihat itu, walaupun yang ia beri hanyalah sesuatu yang kecil, tapi setidaknya sudah membuat semangat mereka lagi.
__ADS_1
...***...
Rendi dan pengemis itu berbelanja di pasar, rencananya Ibu pengemis itu akan jualan jajanan anak-anak dan lauk pauk, sehingga begitu banyak keperluan yang mereka buat.
Rendi mengeluarkan uang hingga sepuluh juta rupiah, karena ia bukan hanya membelikan mereka alat dan bahan untuk dagang saja, Rendi juga membelikan sembako untuk keperluan mereka sebulan, agar mereka nantinya bisa fokus berjualan.
Setelah mereka sampai di kampung si Ibu, dengan barang belanjaan yang di bawakan mobil pick up, tentu tetangga pengemis tersebut langsung berkerumun.
Rendi tersenyum melihat hal itu. "Hendri kamu bantu menurunkan barang-barangnya, aku mau menemui pak RT kampung ini."
"Baik bos!" jawab Hendri sigap.
"Pak, aku titip Ibu Rustini agar tidak mengemis lagi, soalnya aku tidak bisa berlama-lama di sini." ucap Rendi pada Pak RT sambil melihat barang-barang yang di turunkan dari Mobil Pick up.
"Iya mas, terimakasih banyak karena telah membantu warga saya." jawab Pak RT sopan.
__ADS_1
Rendi hanya mengangguk, ia meminta Pak RT mencarikan tukang untuk membuatkan warung untuk Bu Rustini, kemudian memberikan uang lima juta untuk membangun warung sederhana untuknya.
Si tukang juga di beri uang satu juta langsung di depan Pak RT, tujuannya agar ada saksi yang bisa menegur si tukang jika tidak jujur, tapi tampaknya orang-orang di sana sangat baik, sehingga Rendi percaya pada mereka.
Setelah Rendi sudah memberikan semua keperluan dagang Bu Rustini, ia pamit pulang, tentu saja Bu Rustini langsung bersimpuh di kaki Rendi ia sangat berterimakasih padanya, karena telah memberikan secercah harapan untuknya.
Rendi memapah Bu Rustini agar berdiri. "ya sudah Bu, aku pergi dulu, kembangkan usaha Ibu, agar kalau aku ke sini lagi, Ibu sudah sukses."
"Baik mas." jawabnya masih dengan terisak.
Rendi menghampiri mobilnya, ia melambaikan tangannya pada semua warga yang ada di sana.
Semua warga juga melambaikan tangannya. Bu Rustini sangat berterimakasih banyak pada Rendi yang telah memberikannya harapan baru.
"Kita jalan lagi Hendri!" perintah Rendi lembut.
__ADS_1
"Baik bos!"
Hendri menginjak pedal gas, mobil Rendi pun meninggalkan kampung Ibu pengemis. Hendri semakin kagum dengan Rendi, walaupun kaya tapi bosnya itu sangat rendah hati dan mau menolong orang yang kesusahan.