
Harisman dan bawahannya membeli tiga ekor Ayam sayur, dan juga membeli beberapa kaleng Bir, karena mereka mau menghargai Rendi yang tidak minum alkohol, jadi mereka hanya membeli Bir dan tentunya Cola untuk bos mereka.
Mereka semua melakukan bakar-bakaran ayam di depan kontrakan Rendi, tetangga kontrakan Rendi yang melihatnya, ia ikut nimbrung, tentu Rendi dan bawahannya mengijinkannya.
Pak Gatot juga kebetulan keluar karena melihat keramaian di depan kontrakan Rendi, ia mau mengecek apa yang sebenar terjadi. Saat ia sampai di sana dan ada acara bakar-bakaran, ia juga ikut bergabung, malah Pak Gatot mengambil ikan bawal yang ia dapatkan dari pemancingan, hingga akhirnya mereka berpesta semalaman suntuk.
Ajis yang walaupun gagap tapi pandai main gitar, ia yang membuat malam itu semakin ramai, tentu dia tidak ikut nyanyi, kalau ikut bisa-bisa semuanya tertular gagap.
Rendi melihat mereka semua yang terlihat sangat senang, ia hanya tersenyum sambil memotret kebersamaan itu dengan ponselnya, ini pertama kalinya ia benar-benar menikmati hidup.
Ayah, Ibu, Nenek, lihatlah Rendi yang sekarang, Rendi sudah memiliki banyak teman, Rendi juga sudah memiliki apapun yang Rendi mau, kalian tidak usah mengkhawatirkan Rendi lagi di sini, berbahagialah di surga.
Rendi mengingat orangtuanya, andai saja ia bisa melakukan kesenangan itu bersama dengan mereka, tentu hidupnya akan lebih indah lagi.
...***...
Ke esokan harinya, mereka tanpa sadar tertidur di luar kontrakan dengan beralaskan tikar.
Pak Gatot dan tetangga kontrakan Rendi juga tertidur di sana, mereka masih terlelap hingga sinar mentari mulai menunjukkan eksistensinya.
Tiin... Tiin....
Terdengar bunyi Klakson motor yang sangat keras, sehingga mereka semua langsung terbangun seketika.
"Mana orangnya! Hait ... Hait .....!" Legit terbangun sambil bergaya dengan teknik silatnya, karena terkejut.
Pletaak
__ADS_1
Harisman langsung menjitak Leher dengan keras, Lehor akhirnya bangun sepenuhnya, ia merasa malu saat semua orang di sana menatapnya dengan aneh.
"Hehehe ...." Lehor terkekeh sambil menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.
"Kamu ini bikin kaget saja Nov!" tegur Pak Gatot sambil beranjak dari tikar tempat ia tidur.
"Paman ngapain tidur di sini? Jangan bilang paman mabuk-mabukkan bersama dengan mereka?" cecar Novi sinis.
"Hus, kamu ini kalau bicara asal ceplos saja, paman cuma ikut nimbrung bakar-bakaran semalam dengan teman-teman Rendi, sudahlah paman mau pulang dulu." Pak Gatot pamit pada mereka semua dan pulang ke rumahnya.
Tetangga kontrakan Rendi juga ikut pulang, mereka tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Rendi dan bawahannya.
Setelah orang-orang tua pada pulang, bawahan Rendi bergegas membersihkan tempat tersebut.
"Kalian habis pesta merayakan apa sih, Ren?" tanya Novi yang sudah berada di dalam kontrakan.
"Kedai nasi goreng sangar laris manis, sebagai bentuk terimakasih ku pada mereka, aku menyuruh mereka membuat pesta kecil-kecilan." jawab Rendi yang duduk di dalam kontrakan bersama Novi.
"Apaan sih, kamu ini cewe, tidak baik cewe di sini sendirian sama banyak cowo!" Rendi mencubit hidung Novi dengan gemas.
"Ih ... tapi aku juga ingin bersenang-senang dengan kalian." jawabnya sambil menggembungkan pipi.
Rendi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "ngomong-ngomong kamu mau kemana? Pagi-pagi sudah rapi?"
"Mau ngajak kamu jalan."
"Maaf yah Nov, aku masih ngantuk, semalam tidur jam tiga dinihari mungkin."
__ADS_1
Novi menghela napas, padahal ia sudah bersiap-siap dandan secantik mungkin untuk jalan dengan Rendi, tapi ternyata Rendi malah tidak mau jalan dengannya.
"Ya sudahlah." ucap Novi sendu.
"Bos, kami pulang dulu yah!" pamit Harisman mewakili bawahannya.
"Iya, buang semua sampahnya dengan benar, Haris!" jawab Rendi lugas.
"Siap bos!"
Harisman yang sudah membawa sampah, sisa-sisa pesta bersama bawahan-nya, meninggalkan kontrakan Rendi.
Sekarang Rendi hanya berdua dengan Novi saja di kontrakannya.
Wajah Novi terlihat cemberut sambil bersender di dinding kontrakan, Rendi yang melihat itu merasa bersalah, ia pun akhirnya beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi.
Novi yang tidak memerhatikan Rendi, ia terus fokus melihat ponselnya dengan wajah masih di tekuk.
Setelah beberapa saat Rendi sudah mandi dan berpakaian Rapi, ia mengambil kunci motornya dan menarik tangan Novi.
Novi mendongak bingung, ia terkejut melihat Rendi yang sudah rapi, padahal ia tidak melihat Rendi mandi karena terlalu fokus dengan ponselnya.
"Katanya mau jalan, Ayo!" ajak Rendi pada Novi yang masih bengong.
"Katanya kamu masih ngantuk?" jawab Novi memastikan.
"Tidak jadi ngantuknya, yang ada aku bosan nanti lihat wajah manyun kamu terus, ayo!"
__ADS_1
"Ih ... kamu apaan sih."
Novi beranjak dari duduknya, wajahnya terlihat berseri-seri, karena Rendi mau jalan dengannya.