
Proyek besar yang di berikan Rendi langsung di kerjakan oleh Rusdianto. Pria itu dengan sigap langsung menghubungi perangkat Desa untuk sekaligus meminta ijin akan adanya pembangunan Desa secara besar-besaran, tentu ia juga menyertakan nama Rendi sebagai penggelontor dana terbesarnya.
Tugas yang harusnya di lakukan Ayah Sulis sudah di ambil alih oleh Rusdianto, tapi dengan begitu setidaknya Ayah Sulis tidak perlu berurusan dengan perangkat Desa.
Perangkat Desa yang mendapatkan ijin dari Rusdianto, mereka mulai panik, belum juga Rendi menyerang mereka, tapi mereka sudah mulai berpikir kalau Rendi adalah salah satu orang pemerintah pusat, karena Rusdianto menggunakan nama belakang Rendi, sehingga perangkat desa tidak mengenalinya.
Perangkat Desa langsung melakukan rapat di Balaidesa, dari Lurah, Bau (pejabat yang tugasnya mengecek langsung kondisi Desa) dan semua yang menjadi perangkat Desa berkumpul.
"Pak Lurah, kenapa anda memberikan ijin, jika begini kita semua bisa ketahuan!" ucap salah satu Bau.
"Iya Pak, bukankah lebih baik jangan di berikan ijin?" timpal Bau lainnya.
Pak Lurah menghela napas. "Terus kalau tidak di berikan ijin, memangnya kita bisa apa? Apa kita akan menolak pembangunan proyek yang begitu besar ini? Lagi pula kontraktor juga tidak menanyakan tentang masalah internal Desa, ia hanya murni meminta ijin, sudahlah kita terima saja, dan berdoa agar yang kalian khawatirkan tidak terjadi."
"Tapi tetap saja Pak Lurah, seharusnya anda diskusi dulu sama kita," keluh perangkat Desa lainnya.
__ADS_1
"Kalian ini aneh, Desa ada yang mau membuat maju kok malah takut, Mbok ya seharusnya seneng, karena dengan begini akan ada peningkatan pembangunan Desa Karbal ini," ucap Pak Lurah lagi.
Terlihat semua wajah perangkat Desa yang sudah menjabat selama puluhan tahun cemas, mereka semua tentu was-was karena sudah memakan banyak uang yang seharusnya untuk pembangunan Desa.
Pak Lurah yang baru menjabat dua tahun sebagai lurah itu, ia memang sebenarnya sudah muak dengan mereka semua, dirinya yang menjadi orang baru di pemerintahan Desa tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah mereka.
Setidaknya dengan nantinya ada inspeksi dari pusat, tidak akan ada lagi orang-orang rakus seperti mereka yang akan menjadi penerus pemerintahan Desa.
Pak Lurah sadar, kalau ia juga akan terseret ke dalam masalah tersebut, tapi ia tidak takut sama sekali, ia juga akan membeberkan semuanya jikalau nanti ada inspeksi dari pusat.
Rendi di kontrakannya sudah mentransfer uang sepuluh Milyar ke rekening perusahaan konstruksinya.
Walaupun perusahaannya sendiri, tapi Rendi sadar, bisnis tetaplah bisnis, ia tidak bisa menggunakan perusahaannya secara sembarangan, agar perusahaannya tidak bangkrut.
Sulaeman hanya bisa menelan ludah saat mendapat transferan langsung dari bosnya, ia benar-benar tidak pernah menyangka kalau bosnya akan bergerak secepat itu. Namun, Sulaeman juga tidak kalah sigapnya, ia sudah mengirim alat dan bahan-bahan yang di butuhkan, beserta para pekerja, kemungkinan besar semuanya akan tiba sore hari.
__ADS_1
"Bos, kapan kita akan kembali ke Jakarta?" tanya Hendri yang sudah mulai rindu tidur dengan kasur empuk di kamarnya.
"Kenapa memangnya? Apa kamu sudah tidak betah di sini?" Rendi balik bertanya.
"Bu-Bukan bos, hanya saja saya tidak tega bos tidur di tempat seperti ini," elak Hendri.
Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tahu kalau bawahannya itu pasti pengen balik ke Jakarta, karena ia tidak terbiasa tinggal di Desa.
"Kalau kamu mau ke Jakarta silahkan, aku masih banyak urusan di sini," ucap Rendi santai.
Hendri langsung ketakutan, ia takut di pecat oleh Rendi, karena kerja dengan Rendi tentu lebih baik dari pada harus kerja di tempat lain, apa lagi gaji yang di berikan Rendi cukup besar, tentu ia tidak ingin kehilangan pekerjaan tersebut.
"Tidak bos, saya akan ke Jakarta kalau bos juga ke sana!" ucapnya tegas.
"Terserah kamu saja, aku tidak peduli kamu mau ke Jakarta atau tetap di sini, lagi pula aku sudah biasa hidup sendiri."
__ADS_1
Jawaban Rendi di salah artikan Hendri, ia mengira Rendi sedang berbicara sarkas, sehingga ia wajahnya langsung memucat. Ia pikir Rendi sangat marah, padahal kenyataannya Rendi memang selama ini hidup seorang diri.