
Hendri berkenalan dengan anak buah Rendi lainnya satu persatu, karena ia orang yang supel, sehingga dirinya mudah akrab dengan bawahan Rendi lainnya.
"Mas Hendri, sudah kerja dengan bos Rendi lama?" tanya Samiun yang cepat akrab dengan Hendri.
"Baru jalan dua bulan ini, tapi ya itu, kata pelayan rumahnya, kalau bos Rendi jarang ke Jakarta, jadi aku benar-benar bekerja baru empat hari ini," jawabnya dengan tidak berdaya.
Samiun manggut-manggut seolah mengerti dengan maksud Hendri, agar tidak di anggap mengabaikan bicaranya.
"Rumah bos Rendi di Jakarta seperti apa Mas?" tanya Lehor yang ikut penasaran.
"Seperti apa yah?" Hendri memegang dagunya sambil berpikir. "Mmm... yang pasti rumah di sini tidak ada yang setara rumah bos Rendi, halamannya luas, empat tingkat dan mewah lah pokoknya."
"Serius Mas?" timpal Samiun.
Hendri mengangguk. "Begitulah, tapi sayang bos jarang ke sana, rumah sebesar itu sepi banget."
Lehor dan Samiun terlihat sangat antusias dengan cerita Hendri, mereka berdua tampaknya ingin lihat rumah Rendi seperti apa.
Hendri menceritakan semuanya pada Leher dan Samiun yang seperti anak kecil sedang mendengar dongeng dari orang tuanya.
Rendi yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.
"Ini bos, minuman kesukaan bos." Harisman memberikan segelas kola yang sudah di isi batu Es.
__ADS_1
"Terimakasih Ris," ucap Rendi lembut.
"Sama-sama bos," jawab Harisman dengan bangga.
Rendi menenggak kolanya, sementara para bawahannya yang sudah dewasa itu, mereka minum bir kaleng yang di beli dari minimarket, begitu juga dengan Hendri.
Rendi tidak melarang mereka mabuk atau apa, tapi ia juga tidak mau kalau nanti mereka mabuk terus kelepasan, karena itulah Rendi hanya membolehkan mereka minum bir, agar tidak terlalu mabuk, karena kadar alkohol bir rendah di banding dengan minuman beralkohol lainnya.
"Oh iya, di antara kalian ada yang orang tuanya petani gak?" tanya Rendi tiba-tiba.
"S-s-saya bo-bo-s!" jawab Ajis sambil mengangkat tangannya.
"Saya juga bos!" Nino yang biasanya pendiam juga angkat tangan.
Rendi tersenyum. "Aku punya sawah di Karbal sepuluh hektar, kalau orang tua kalian mau menggarapnya, nanti aku berikan pada orang tua kalian, untuk masalah bagi hasil umum dengan yang lainnya saja, dan bilang pada orang tua kalian, aku juga akan memberikan modal jika perlu."
Teplak
Ajis belum selesai bicara, Nino memukul kepalanya pakai sendal jepit miliknya. Sontak Ajis langsung menoleh mau marah pada Nino.
"Biar aku saja yang bicara, terlalu lama nunggu kau bicara!" Nino memelototi Ajis.
Ajis mendengus kesal, tapi ia juga sadar kalau ucapan Nino ada benarnya juga. Sehingga ia lebih memilih diam dan kembali membakar ikan bersama Harisman.
__ADS_1
"Nanti kami bilang sama orang tua kami bos, tapi sepuluh hektar itu luas banget loh bos, tidak mungkin cuma orang tua kami berdua bisa menggarap semuanya, paling orang tua kami bisa menggarap satu hektar saja," ucap Nino dengan yakin.
Rendi tersenyum. "kalau begitu kamu sekalian cari saja orang-orang yang kiranya tidak punya modal dan mau bertani, bilang pada mereka kalau aku akan memberikan modal pada mereka, dan kedua orang tua kalian akan menjadi pengawas mereka, istilahnya mandor gitu."
"Kalau begitu mereka pasti setuju bos, nanti aku bilang deh pada mereka, makasih yah bos, sudah perhatian dengan kita-kita ini," ucap Nino sambil menundukkan kepala.
"Tidak perlu berterimakasih, aku juga berniat memperbaiki Sistem di kampung yang seolah menindas para warga miskin, mungkin pelan-pelan aku akan membantunya, aku harap kalian juga ikut membantuku," jawab Rendi yakin.
"Wah, bos sudah cocok jadi calon gubernur nih," celetuk Sengkuni tiba-tiba.
Mereka semua mengangguk setuju, tapi Rendi tidak berniat mencalonkan diri menjadi pejabat, karena ia tidak mau terlibat dalam politik.
"Sekalian, untuk cabang kedai nasi goreng, apa kalian punya rekomendasi tempatnya?" tanya Rendi lagi pada anak buahnya.
"Aku lihat ruko di pasar Sitanggal yang di jual bos, tempatnya di pinggir jalan, cocok kayaknya tempat itu!" seru Harisman memberikan ide.
Rendi mengangguk. "Bagus, nanti besok sepulang sekolah, aku ajak kamu kesana!"
"Siap bos!" jawab Harisman sigap.
Rendi kemudian menyuruh mereka melanjutkan bakar-bakaran, seperti biasa para tetangga berdatangan dan ikut nimbrung.
Rendi tidak mempermasalahkan hal tersebut, ia malah senang karena bisa bersenang-senang dengan warga sekitar walau hanya alakadarnya.
__ADS_1
Harisman kemudian mengajak Rendi ke dalam kontrakan sebentar, ia memberitahu Rendi kalau hasil penjualan nasi goreng satu minggu belakangan sudah mendapat sepuluh juta bersih, ia memberikan uang itu pada Rendi, tapi Rendi menolaknya, ia menyuruh Harisman yang memegang uang tersebut, dan nantinya untuk membayar gaji mereka semua saat sudah satu bulan bekerja.
Harisman hanya menurut, ia janji akan menyimpannya baik-baik dan membuat kedai tersebut semakin terkenal.