Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Kebetulan Yang Manis


__ADS_3

Fina masih memerhatikan nomor pemberian Rendi, teman-temannya saling menatap dan tersenyum.


"Sudah, apa sih yang Lo pikirkan, simpan saja!" tegur Nela mengingatkan.


"Apa sih Nel!" Fina mengerucutkan bibirnya dan menyimpan kertas pemberian Rendi ke dalam tas kecilnya.


"Dia tadi bilang ke gua, kalau tidak suka cewe Jaim, tapi bener juga sih, dia gua dekatin juga tidak merasa risih atau jengkel, malah memberikan kita ini, jadi kemungkinan dia cowo yang lebih suka cewe agresif." ucap Nela sambil menyantap kue pemberian Rendi.


"Wih, tipe Lo banget Fin, selama ini pacar-pacar Lo semuanya cowo munafik, di deketi cewe agresif bilangnya murahan, nah kalau yang ini beda." Marlina cewe beriasan tebal menimpali.


"Bener tuh, apa lagi berondong."


Seketika mereka semua tertawa puas membicarakan Rendi. Fina yang dari tadi menjadi pusat bercandaan teman-temannya hanya memanyunkan bibirnya. Namun, Fina juga memiliki pemikiran yang sama dengan teman-temannya, ia juga memiliki pemikiran mau mencoba mendekati Rendi.


...***...


Rendi sudah sampai rumahnya saat hari mulai petang, ia masuk ke dalam rumah dan merebahkan tubuhnya di ruang keluarga.


"Ren, kamu habis darimana?" tanya Suroto yang menghampirinya di ruang keluarga bersama Lidia.


"Aku habis pergi jalan-jalan, Om, Tante." jawab Rendi sopan.

__ADS_1


Suroto dan Istrinya duduk di berhadapan dengan Rendi, mereka berdua terlihat mau membicarakan hal serius dengan bocah SMA tersebut.


"Ren, tuan Yudi meminta pertemuannya di percepat nanti malam, ia mengajak kita makan malam, apa kamu tidak keberatan?" tanya Suroto cemas.


Rendi tersenyum. "aku tidak keberatan Om, atur saja bagaimana baiknya."


Pasangan Suami, istri itu langsung tersenyum lega. "baguslah kalau begitu, Om beritahu tuan Yudi dulu."


Rendi mengangguk, Suroto meninggalkan Rendi dan Istrinya di ruang keluarga untuk memberi tahu relasi bisnisnya itu.


Lidia yang bersama Rendi seorang diri, ia memberanikan diri untuk bertanya.


"Ren, apa kamu mau tinggal di sini terus?"


"Begitu yah? Tapi di sini kamu punya segalanya, rumah mewah, Mobil dan perusahaan, kenapa kamu lebih memilih tinggal di kampung?"


Rendi menghela napas, pertanyaan Lidia memang ada benarnya, ia memiliki segalanya di Jakarta, tapi ia juga tidak bisa begitu saja meninggalkan kampung halamannya, apa lagi di sana, ia mulai memiliki teman.


"Aku masih sekolah di sana Tan, mungkin sesudah lulus, baru akan tinggal di sini." ucap Rendi jujur.


"Baguslah, nanti bilang ke Tante kalau kamu mau pindahan, dan ajak Novi kalau mau melanjutkan studi di Jakarta."

__ADS_1


"Kita lihat nanti saja Tan."


Rendi tahu kalau orang tua Novi ingin dia bersamanya, Rendi juga memiliki pemikiran yang sama, tapi ia juga tidak bisa mengesampingkan Sulis begitu saja, karena itulah Rendi menjawab seperti itu.


Lidia mengerti dengan pilihan Rendi, karena ia masih muda dan memiliki jiwa bisnis, ia pikir kalau Rendi tidak mungkin akan menikah muda, tujuan Lidia hanya ingin agar anaknya tidak menjauh dari Rendi.


...***...


Rendi, Lidia dan Suroto pergi ke Restoran tempat pertemuan dengan Yudi, yang merupakan bos pengrajin aksesoris yang terbuat dari emas dan berlian.


Tempat pertemuan mereka di sebuah Restoran mewah yang ada di Jakarta. Mereka kali ini menggunakan mobil Rendi dengan Rohis sebagai sopirnya.


Setelah lima belas menit perjalanan, mereka pun sampai di Restoran mewah tempat mereka janjian.


Suroto mengajak Rendi masuk ke dalam, Yudi dan keluarganya sudah ada di dalam Restoran.


Terlihat Yudi bersama dengan seorang gadis cantik yang duduk dengan wajah malas di sampingnya sambil memainkan ponselnya. Rendi merasa tidak asing dengan gadis tersebut, ia kemudian teringat dengan gadis di kafe tadi sore.


"Nona, kita bertemu lagi." tegur Rendi pada gadis itu, yang ternyata memang Fina.


Fina mendongak, ia terkejut. "kamu ...?"

__ADS_1


Yudi, Suroto dan Lidia terlihat saling menatap, mereka tidak menyangka kalau Fina mengenal Rendi yang baru datang dari kampung.


Rendi tersenyum, ia dengan santai duduk di hadapan Fina, sambil menatapnya dengan seksama.


__ADS_2