
Jika sebuah Cinta bisa di dapatkan hanya menggunakan perasaan, kenapa begitu banyak orang yang tersakiti?
Jika sebuah cinta bisa di dapatkan dengan harta, kenapa ada banyak orang yang terluka?
Lantas apakah cinta perlu memiliki keduanya? Sementara banyak orang-orang tersohor yang katanya memiliki perasaan dan harta saja masih bisa bisa berpisah?
Cinta satu kata seribu makna, tergantung kita mau menyikapinya bagaimana. Tapi sebuah Cinta akan bertahan lama jika kedua belah pihak memiliki pengertian yang sama. Entahlah....
...***...
Rendi tentu memiliki angan untuk bisa membahagiakan semua wanita yang dekat dengannya, tapi ia sadar bukanlah mahluk yang sempurna. Karena itulah pria tersebut berpikir untuk tidak mengutarakan perasaannya terlebih dahulu sebelum ia benar-benar serius ingin menjalani sebuah ikatan.
Hari semakin siang, akhirnya Mei Ning terbangun, nampak Rendi masih di pelukan wanita itu sambil satu tangannya memainkan ponsel.
"Pagi Ren," ucap wanita itu lembut seraya mengecup pipi pria yang ada di pelukannya itu dengan mesra.
"Sudah siang ini," jawab Rendi datar.
"Eh, benarkah?" Mei Ning melihat jendela apartemen yang masih tertutup tirai. Nampak sinar mentari memang sudah menyengat.
Mei Ning bergegas duduk, ia sadar telah membuat pria yang di kaguminya itu terdiam cukup lama, terlihat dari wajah suram Rendi.
Rendi juga bergegas beranjak dari ranjang, sambil memutar tangannya yang terasa pegal, karena dari semalam harus menopang kepala Mei Ning.
__ADS_1
"Aku mandi dulu," ucap Rendi.
Mei Ning mengangguk sambil tersenyum, wanita itu tampak sangat senang, bisa tidur dengan Rendi, walau hanya sebatas berpelukan saja.
"Mudah-mudahan setelah ini hubunganku dengan Rendi semakin membaik," ucap Mei Ning sambil memeluk bantal dengan wajah sumringah.
Tiba-tiba ponsel Mei Ning berbunyi, wanita itu langsung mengangkat panggilan tersebut, karena memang dari anak buahnya.
"Nona Shou, uang mukanya sudah di transfer, kapan anda akan melakukan misinya?" tanya bawahannya itu dengan jelas.
"Bilang padanya, nanti malam aku langsung bergerak," jawab Mei Ning yang langsung mematikan ponselnya.
Mei Ning menghela napas, baru saja ia senang, tapi sekarang harus bergelut lagi dengan pekerjaannya, jika di pikir-pikir pembunuh bayaran sepertinya memang akan sulit untuk mendapatkan kebahagian.
"Jangan terlalu fokus denganku, yang ada kamu akan nambah sakit hati," ucap Rendi tiba-tiba yang baru keluar mandi sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
Mei Ning tersenyum kecut ketika mendengar ucapan Rendi, ia menjawab. "setidaknya aku sekarang memiliki tujuan hidup."
Wanita itu beranjak dari ranjang, mengambil handuk yang sedang Rendi gunakan untuk mengeringkan rambutnya, kemudian masuk ke kamar mandi.
Rendi menghela napas berat. "Wanita ini benar-benar tidak memiliki rasa takut sama sekali," gumamnya sambil bergegas mengenakan pakaian lalu keluar dari Apartemen.
Rendi memainkan ponselnya di depan Apartemen melihat berita di situs web negaranya, ia terkejut ketika melihat artikel ada puluhan pejabat yang tewas hanya dalam beberapa hari saja.
__ADS_1
Rendi terus membaca artikel tersebut, ia mengernyitkan dahinya, ketika tahu kalau mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan dengan orang yang di bunuhnya.
"Jadi Malik juga sudah bergerak? Baguslah, dengan begitu akan memudahkan tugasku." gumamnya lirih.
Rendi sebenarnya cukup terkejut karena Malik berani menghabisi para pejabat tersebut, padahal jika di pikir-pikir akan banyak masalah ketika para pejabat itu di bunuh begitu saja. Namun, yang membuat heran Rendi, semua pejabat itu sudah langsung di gantikan setelah tewas.
"Apakah Malik sudah merencanakan ini semua? Tapi kenapa dia menunggu aku bergerak dulu?" Rendi bertanya-tanya bingung.
"Malik Mafia juga Ren, hanya saja ia tidak memakan negaranya sendiri. Semua kalangan Mafia juga sudah tahu, kalau Malik orang yang kuat dengan pendiriannya, tapi aku rasa ia juga akan mengalami teror. Karena para Mafia akan mengira kalau dalang pembunuhan mereka yang anda bunuh adalah dia, secara tidak langsung dia sudah membukakan jalan untuk anda," ucap Mei Ning yang tiba-tiba sudah ada di samping Rendi.
"Kamu tahu juga aku bekerja sama dengannya?" tanya Rendi menyelidik.
"Sebenarnya aku sudah mengikuti kamu satu bulan ke belakang, karena itulah aku tahu kamu bekerja sama dengan Malik," jawab wanita itu jujur.
Rendi menghela napas. "Sepertinya hidupku akan selalu dalam bayang-bayang kamu," ucapnya tidak berdaya.
Mei Ning tersenyum kecut, apa yang di katakan Rendi memang benar, kalaupun pria itu menolaknya, ia akan tetap mengikutinya. Entah itu jadi pelayan atau apapun, agar bisa terus dekat dengan Rendi.
"Sudahlah, ayo kita cari makan dulu," ajak Rendi kepada Mei Ning.
"Ayo," Mei Ning merangkul Rendi, kali ini pria itu membiarkannya, lagi pula itu hanya sebuah rangkulan biasa.
Mei Ning merasa sangat senang, karena akhirnya Rendi mulai melunak, dengan begitu ia memiliki sedikit harapan dengan pria itu.
__ADS_1