Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Sampai di Kampung


__ADS_3

Semakin mengenal Rendi, Hendri semakin yakin kalau bosnya itu bisa menjadi orang yang lebih sukses dari sekarang, melihat pribadinya yang sangat dermawan seperti itu.


"Bos, kenapa anda mau menolong pengemis tadi?" tanya Hendri di sela ia mengemudi.


"Apa perlu di jawab, Hen? Bukankah sebagai manusia kita perlu menolong sesama?" ungkapnya santai.


"Saya tahu itu bos, hanya saja orang-orang kaya biasanya malas berhubungan dengan orang miskin, tapi bos sepertinya berbeda dengan orang-orang yang saya kenal." tanyanya lagi.


Rendi menghela napas. "aku pernah di posisi mereka, walaupun tidak bisa membantunya terus-menerus, tapi setidaknya dengan memberikan jalan padanya, mudah-mudahan bisa membuat kehidupannya lebih baik. karena ukuran tangan kita, meskipun hanya sebatas uang receh, aku yakin akan sangat berharga bagi mereka, apa lagi kalau kita punya niat untuk membantunya bangun, aku yakin orang sepertinya akan berusaha sangat keras untuk memenuhi ekspektasi penolongnya!"


Hendri mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, dengan kata lain, memberi tidak harus banyak, asalkan punya niat saja itu sudah baik.


"Tapi bos, bukankah kalau pengemis-pengemis seperti mereka akan selalu berada di titik nyamannya jika kita terus mengasihi mereka? Yang ada mereka akan semakin malas bekerja jika dengan meminta saja bisa mendapatkan uang."


"Kamu benar, karena itulah aku memberikan dia modal, aku tidak mau dia berada di titik nyaman terus, aku ingin dia berjuang untuk mendapatkan hidupnya yang lebih mulia lagi."


Hendri tersenyum simpul, walaupun masih bocah, ternyata pemikiran Rendi sudah sangat matang, sekarang ia yakin kalau dirinya tidak mengikuti orang yang salah.

__ADS_1


...***...


Tujuh jam sudah berlalu, mobil Rendi sudah sampai di Larangan, karena hari sudah sore, Rendi yakin kalau kedai nasi goreng sangar sudah buka.


"Hen, nanti di kedai itu berhenti!" perintah Rendi pada bawahannya itu.


"Baik bos!" jawabnya lugas.


Mobil Fortuner Rendi berhenti di kedai nasi goreng sangar, tentu saja para pelanggan kedai yang kebanyakan muda-mudi terkejut saat ada mobil mahal berhenti di sana, begitu juga dengan Harisman dan yang lainnya.


Hendri bergegas turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Rendi, saat Rendi turun dari mobil. Harisman langsung berlari dan memeluk Rendi.


Hendri yang notabenya seorang bodyguard, ia mencengkramnya kerah belakang Harisman dan menariknya seperti anak kucing.


"Eh ... Eh ... lepaskan aku!" raung Harisman marah.


Hendri melepaskan Harisman sehingga ia terjungkal ke belakang.

__ADS_1


Harisman merintih kesakitan, ia sangat marah karena ada yang berani dengannya, tapi saat ia mendongak, melihat wajah dingin Hendri dan tubuh kekarnya, ia seketika langsung menelan ludahnya.


"Hen, biarkan saja, dia salah satu bawahanku." Rendi menepuk bahu Hendri.


"Baik bos."


Rendi mengulurkan tangannya untuk membantu Harisman berdiri, tentu saja pria itu langsung meraih tangan Rendi.


"Siapa dia bos?" tanya Harisman sambil melirik Hendri.


"Dia bawahanku di Jakarta, untuk beberapa hari ini ia akan tinggal di sini, kalian semua harus akrab dengannya, tapi kalau tidak mau jangan salah kan aku, kalau kalian akan patah tulang." goda Rendi pada Harisman.


"Jangan bicara begitulah bos, kami pasti akan akrab dengannya." jawabnya langsung.


"Baguslah, bagaimana kedai beberapa hari ini?" tanya Rendi sambil mencari tempat duduk dan duduk di sana.


"Semua lancar bos, kedai ini sudah terkenal di seluruh larangan, tampaknya kita harus mulai buka cabang bos, bentar lagi antriannya pasti panjang banget, ini saja baru kami buka." jawab Harisman tidak berdaya.

__ADS_1


"Cabang yah?" Rendi terlihat berpikir sebentar. "baiklah, nanti aku pikirkan nanti, kalian lanjutkan pekerjaannya, aku mau pulang beristirahat dulu." Rendi beranjak dari duduknya, ia tidak mau mengganggu para bawahannya yang sedang sibuk itu.


Harisman hanya mengangguk mengerti, saat melihat Rendi masuk kembali ke dalam mobilnya.


__ADS_2