Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Bukan Kebetulan


__ADS_3

Mobil pun sampai di Universitas Novi, bersamaan dengan Rendi menurunkan gadis itu di depan gerbang, mobil Fina masuk ke dalam gerbang.


Fina sekarang sudah menjauh dari Rendi, entah karena alasan apa ia melakukan hal tersebut, padahal ia hanya anak tiri Sera, seharusnya jika ia memiliki hubungan dengan Rendi itu tidak masalah sama sekali.


Tapi Hal tersebut malah membuat Rendi senang, dengan begitu tidak ada wanita-wanita ke ganjenan yang mendekatinya.


"Belajar baik-baik, agar kelak bisa menjadi orang besar," ucap Rendi ketika Novi turun dari mobi.


"Iya, iya yang sudah menjadi orang besar," jawab Novi sedikit menggoda Rendi.


"Ya sudah, aku berangkat kerja dulu," Rendi melambaikan tangannya.


Novi mengangguk ia tersenyum sambil melambaikan tangannya. Mobil pun berjalan kembali meninggal Novi.


Gadis itu senyum-senyum sendiri menatap kepergian Rendi. Sementara itu di dalam mobil, Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Sistem lakukan Spin untuk hari ini!" perintah Rendi di dalam hati, mengingat ada Hendri bersamanya.


Layar Virtual muncul di depan Rendi, sebuah gambar Spin langsung berputar dengan cepat, kemudian perlahan melambat.


[ Selamat, Anda mendapatkan uang 100 Milyar rupiah, Saldo sudah di kirim ke akun Anda!]


Terlihat pemberitahuan di layar Virtual, Rendi menghela napas berat, "lagi-lagi dapatnya uang, sudah satu bulan terakhir dapat uang terus, mau buat apa uang-uang itu?" gerutu Rendi lirih.

__ADS_1


Hendri mencuri-curi pandang di spion dalam mobil ketika bosnya itu menggerutu sambil memegang ponselnya.


"Bos, kalau uangnya sudah tidak tertampung lagi, kenapa tidak di berikan ke panti asuhan, atau yayasan amal lainnya," celetuk Hendri tiba-tiba.


Hendri sebenarnya hanya bercanda, karena ia beberapa kali mendengar Rendi menggerutu dapat uang terus, akhirnya ia berani buka suara.


"Astaga, kenapa aku lupa dengan hal itu yah?" Rendi menepuk jidatnya. "Terimakasih Hendri, sudah mengingatkan aku, dengan begini aku tidak kesulitan untuk menghabiskan uangku."


"Sama-sama bos," Hendri tersenyum kecut ketika mendengar kata menghabiskan uang, ia tidak bisa berkata-kata, karena bosnya memang sudah terlalu kaya. Semakin hari ia mengenal bosnya, begitu banyak sekali kekayaan yang terus bosnya itu tunjukkan.


...***...


Mobil sampai di Spin Property. Rendi turun dari mobilnya, sebelum turun ia mengingatkan Hendri untuk siap jika Novi menelponnya untuk menjemput.


"Baiklah, sekarang waktunya mengubah wajah Ibukota ini dengan memberikan para tunawisma rumah!" Rendi dengan gagah melangkahkan kakinya masuk ke dalam salah satu perusahaannya itu.


Melihat Rendi, tentu saja para staf yang sedang bekerja langsung menyambutnya, karena mereka semua tahu kalau Rendi merupakan bos besar mereka.


"Selamat datang Bos!" sapa para staf yang melihat Rendi.


Rendi menganggukkan kepalanya, ia membiarkan mereka bekerja melayani para pelanggan, ketika Rendi berjalan semakin masuk ke dalam, betapa terkejutnya ia saat melihat seseorang yang di kenalnya sedang bekerja di perusahaan miliknya, melayani pelanggan.


Rendi mendekat ke arahnya, ia sengaja tidak buka suara, karena tidak ingin mengganggu pekerjaan orang tersebut.

__ADS_1


"Pilihan yang bagus Bapak, rumah ini memang cukup untuk keluarga dengan dua anak, mengingat kamarnya ada tiga, ada kamar mandi dan juga dapur yang sudah siap di gunakan, harganya hanya 400 juta saja, apa Bapak berminat?" tanya gadis yang sedang di perhatikan Rendi dengan seksama itu sangat ramah dan sopan.


"Baik Mbak, aku ambil yang ini saja, apa harganya tidak bisa di kurangi Mbak?" tanya pria paruh baya yang sedang membeli rumah tersebut.


"Jika Bapak memiliki akun Bank BRI, kami memberikan diskon 2% Bapak," jawabnya masih ramah.


Pria paruh baya itu terlihat sumringah. "Baik Mbak, aku ambil rumah ini,"


"Baik Bapak, mohon tunggu sebentar, kami akan menyiapkan berkas-berkasnya," ucap gadis itu lagi yang langsung mencari berkas-berkas rumah tersebut.


Pria itu menoleh ke arah Rendi sambil tersenyum, Rendi balas tersenyum dan tidak beranjak dari tempatnya sama sekali, sehingga pria itu menduga kalau Rendi juga akan membeli rumah.


"Bos kap...."


Manajer properti menegur Rendi, tapi Rendi menyuruhnya untuk menutup mulut dulu, sehingga manajer hanya berdiri diam di tempatnya.


"Bapak, ini berkas-berkasnya, silahkan anda transfer uangnya dulu, baru nanti tanda tangan di sini dan rumah itu menjadi milik Bapak," ucap gadis itu lagi.


Pria paruh baya langsung mentransfer uangnya, setelah di cek pembayarannya berhasil masuk, pria itu tanda tangan dan membawa berkas itu pergi dari sana.


"Terimakasih Bapak, semoga hari anda menyenangkan," ucap gadis itu sopan.


"Mbak, aku juga mau rumah yang sama dengan dia," ucap Rendi setelah pria paruh baya itu pergi.

__ADS_1


Gadis itu menoleh sambil tersenyum, ketika ia melihat wajah Rendi, matanya langsung membelalak lebar karena terkejut.


"Rendi!"


__ADS_2