Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Bencong Ternyata


__ADS_3

Rendi menoleh perlahan ke belakang, sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat, ia tidak peduli kalau itu jurig atau apa, kalau bisa di pukul, ia akan memukulnya.


"Hihihi ... Mas boy, apa kabar, eke kangen deh sama mas boy," ucap seorang bencong dengan di barengi pukulan telak ke wajahnya.


Arghhh


Duaak


Brakk


Aduhh


Rendi memukul dengan kencang bencong tersebut, hingga ia terjungkal ke belakang karena kaget.


Rambut palsunya copot, batok kelapa yang ada di dadanya berserakan jatuh di jalan. Bencong tersebut merintih kesakitan. Untung saja Rendi tidak menggunakan tinju besinya, sehingga si bencong hanya mimisan saja.


"Eh ... orang ternyata?" celetuk Rendi seperti orang bodoh.


"A-du-duh ... Mas Boy jahat ih ....! Eke benci mas boy!" gerutu bencong tersebut sambil mengambil rambut palsu dan batok kelapa yang berserakan di jalan.


Rendi tersenyum getir. "Maaf mas, eh Mba, aku kira tadi mba Kunti."


Rendi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, ia benar-benar tidak menyangka kalau ya g di pukulnya adalah orang.


"Kunti, Kunti! Emang gak liat kecantikan Eke, yang cetar membahana ulalala begindang!" gerutu bencong sambil menyeka mimisannya.


Bukannya kasihan padanya, Rendi menahan tawanya agar tidak meledak di sana, ia dengan sekuat tenaga menahan tawanya dengan mengatupkan rahangnya kuat-kuat.


Si bencong terus saja menggerutu, Rendi benar-benar tidak bisa menahannya lagi, hingga tawanya benar-benar meledak.

__ADS_1


"Hahahaha ...." Rendi tertawa sangat lepas.


Si bencong mengerutkan keningnya, ia melepaskan sepatu hak tingginya yang tingginya dua puluh sentimeter, dan mendekat ke arah Rendi.


"Berani yah, kamu menertawakan Jasmin yang cantik ini," si bencong mau memukul Rendi, tapi tiba-tiba Harisman datang menangkap tangan Jasmin.


"Apa-apaan kamu Samin!?" tegur Harisman sambil mencengkram lengan bencong itu.


"Eh, Mas kekar, ini loh mas, dia ganggu Jasmin, lihat Jasmin jadi seperti ini, terluka parah," adunya pada Harisman.


Harisman mengerutkan keningnya, ia melihat ke arah Rendi yang masih tertawa terbahak-bahak sambil jongkok dan memegangi perutnya.


"Jasmin, Jasmin! Namamu Samin bukan Jasmin! Sudah Sono pergi! Jangan ganggu Bosku!" Harisman mengibaskan tangan bencong itu.


"Ih ... mas kekar juga jahat, tidak melindungi wanita cantik tersakiti!" gerutu bencong itu.


Teplaak


Aduh


"Ka-ka-ka-mu Pergi g-g-gak! Ka-ka-kalau g-g-gak aku pu-kul la-la-lagi nih!" Ajis mengangkat sendalnya ke atas.


"Idih, beraninya maen keroyokan! Bicara saja belum bener!" dengus si bencong sambil berlalu pergi.


"A-a-apa k-k-amu bilang!" Ajis langsung ngejar si bencong, tapi bencong langsung lari tunggang langgang.


Rendi yang melihat itu, ia sampai duduk di jalan dan menepuk-nepuk pinggiran jalan, karena saking sakitnya perut dia.


Harisman mendekati Rendi. "Bos, kamu tidak kenapa-kenapa bukan?"

__ADS_1


Rendi mengangguk sambil tertawa, ia masih mengingat jelas bagaimana tampang si bencong yang protes dan marah padanya.


Apa lagi saat tadi berinteraksi dengan Ajis, menurut Rendi itu kejadian paling absurd dalam hidupnya.


Harisman mengulurkan tangannya untuk membantu Rendi berdiri, Ajis juga sudah kembali ke tempat tersebut.


"Si-si-sialan b-b-os, la-la-larinya k-k-kaya ma-ma-maling!" ucap Ajis dengan napas tersengal-sengal.


"Hahahaha ... lagian, ngapain kamu kejar, tuh si Samin dulu memang pelari handal saat masih duduk di SD dulu!" seru Sengkuni sambil tertawa.


"Iya juga yah, padahal dulu dia itu seneng oleh raga, tidak di sangka sudah gede malah jadi kaya gitu," timpal Samiun ya g memang satu kelas dengan Sengkuni saat SD dulu.


Teman-temannya yang lain tertawa bersama, mereka yang tadinya kelelahan akibat melayani ratusan pelanggan di kedai nasi goreng, rasa lelah tersebut sedikit hilang dengan melihat kejadian tersebut.


"Ya sudah, kita ke kontrakan saja dulu!" ajak Rendi yang sudah mulai berhenti tertawa.


"Baik bos!" jawab mereka serempak.


Mereka semua menuju kontrakan Rendi, tampak mereka membawa banyak barang, sepertinya mau berpesta lagi.


"Kalian bawa apa?" tanya Rendi saat sampai di kontrakan.


"Biasa bos, mau bersenang-senang, buat melepas penat hari ini, iya gak gaes?!" ucap Samiun sok gaul.


"Bahsamu itulah, gaes, gaes kaya setrimer aja," tegur Lehor.


Rendi tersenyum melihat para bawahannya itu, karena merekalah Rendi sebenarnya rindu kampung halamannya.


Dengan kehadiran mereka, Rendi seolah tidak merasa penat sama sekali, apa lagi tindakan absurd mereka yang selalu membuat dirinya terhibur, walau terkadang bikin kesal juga.

__ADS_1


Rendi memanggil Hendri. "Hen, kemarilah! Bantu anak-anak sini, kita makan-makan bersama!"


Hendri yang dari tadi nonton TV sambil main ponsel, ia pun langsung keluar memenuhi panggilan bosnya tersebut.


__ADS_2