
Rendi kembali ke rumahnya, baru saja ia mau masuk ke dalam rumah, terdengar suara mobil yang masuk ke dalam halaman rumahnya.
Rendi menoleh ke belakang, ia menghela napas berat saat melihat mobil Fina, ia bergegas masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamar.
Fina yang melihat Rendi berlari masuk, ia menggembungkan pipinya, padahal berharap Rendi akan menunggunya, tapi Rendi ternyata Rendi beneran marah padanya.
"Sabar Fin, bocah SMA memang masih gengsi, lebih baik aku pulang saja, setelah memberikan pemberian Ibu kepada Rendi!" ucap Fina percaya diri.
Semalam sebenarnya Fina mengundang Rendi ke rumahnya itu di suruh orang tuanya. Namun, ia yang biasa menggampangkan pria dan bermanja kepada Pria, tidak tahu cara yang manis untuk merayu Rendi agar mau datang kerumahnya.
Hasilnya bukannya Rendi mau datang ke rumahnya, ia malah Keki dengan Fina. Akhirnya Fina pagi-pagi berinisiatif menyerahkan barang tersebut, sekalian ia juga akan pergi bersama temannya berpiknik. Karena itulah Fina menemui Rendi.
Fina memberikan barang tersebut yang berupa kado seukuran genggaman dua tangan, menitipkannya kepada Sebastian, lalu ia meninggalkan rumah Rendi.
Sementara itu Rendi di dalam kamarnya melihat ke arah jendela, ketika mendengar suara mobil Fina pergi. Ia menghela napas lega.
"Wanita yang merepotkan!" gerutu Rendi sambil bergegas ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi. Seperti biasanya, ia melakukan ritual pagi untuk mendapatkan hadiah dari Sistem.
Rendi menekan layar Sistem Spin, seketika jarum Spin berputar sangat cepat dan perlahan melambat kemudian berhenti di sebuah gambar perut.
__ADS_1
[ Selamat, Anda mendapatkan ketahanan berbagai Racun mematikan! Perubahan akan segera di lakukan! ]
Rendi menghela napas, seperti biasnya ia bersiap untuk menerima rasa sakit yang akan merubah tubuhnya.
Perutnya perlahan terasa sakit dan mulas bagaikan memakan cabai setan sepuluh kilo. Rendi langsung tersungkur di tempat tidur menahan rasa sakit tersebut.
Rendi memegangi perutnya, wajahnya memucat menahan rasa sakit yang begitu dahsyat.
Hingga setelah beberapa saat ia pun mulai merasakan perutnya kembali seperti semula, bahkan terasa begitu lega.
"Kekuatan lagi? Kamu mau menjadikan aku Dewa, Sistem?" gerutu Rendi.
"Tuan, ini ada titipan dari Nona Fina," ucap Sebastian sambil memberikan sebuah kado kepada Rendi.
Rendi mengernyitkan dahi saat menerima kado tersebut. "Terimakasih Sebastian."
Sebastian hanya mengangguk, ia kemudian melanjutkan aktivitasnya.
Rendi duduk di kursi, ia membuka kado tersebut. Setelah kado di buka terlihat sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu dengan ada ukiran Jawa kuno di semua sisinya.
Rendi semakin penasaran dengan isi kotak tersebut, tanpa ragu ia membukanya, betapa terkejutnya Rendi saat melihat sebuah foto hitam putih, yang ada gambar Neneknya saat masih sedikit muda, di apit oleh dua orang.
__ADS_1
Rendi memerhatikan foto tersebut, satu orang di sebelah Neneknya ia yakin kalau itu Ibu Fina dan seroang pria yang tidak pernah Rendi lihat sebelumnya.
"Ibu Fina mengenal Nenek?" gumam Rendi lirih.
Rendi bingung dengan apa yang ia lihat, kemudian ia mengambil selembar foto lagi, terlihat neneknya sedang menggendong seorang bayi sambil tersenyum.
Rendi bertambah bingung, kenapa Fina memiliki foto-foto Neneknya, tentu saja ia sangat penasarannya dengan hal tersebut. Namun, rasa penasarannya hilang saat membaca sebuah tulisan di secarik kertas yang ada di kotak itu juga.
*Selamat ulang tahun Rendi Murdianto, Anakku.
Maaf Selama ini Ibu tidak pernah merawat dan menemuimu, Ibu tahu seharusnya Ibu berbicara langsung kepadamu, tapi Ibu tidak bisa berkata-kata saat ada di depanmu.
Kesalahan Ibu begitu besar padamu, Ibu meninggalkanmu tanpa kabar sampai sekarang, entah penderitaan seperti apa yang sudah di lalui kamu selama ini, tapi Ibu malah hidup enak di sini.
Tapi Ibu sangat bersyukur setelah melihat kamu yang sudah sukses seperti sekarang. Ibu tidak berharap kamu mau memaafkan Ibu, Karena Ibu sadar dosa Ibu terlalu besar.
Itu adalah Foto Ayah, Ibu, Nenek dan Kamu, kenang-kenangan terakhir yang di miliki Ibu bersama keluarga kecil kita.
Sekali lagi Ibu minta maaf, hanya itu yang bisa Ibu berikan kepadamu, di ulang tahun kamu yang ke 18 tahun ini*.
Tangan Rendi bergetar, air matanya tanpa terasa menetes, membasahi secarik surat yang di tuliskan oleh ibunya yang ternyata masih hidup. Rendi seketika menangis terisak di meja makan, membuat Sebastian langsung panik.
__ADS_1