
Rendi kembali ke apartemennya. Saat ia masuk ke dalam apartemen, terlihat Mei Ning yang masih tertidur dengan pulas di sofa. pria itu meletakkan obat yang ia belikan untuk mengeringkan luka sayat wanita itu di meja.
Rendi ke tempat tidurnya membuka laptop untuk mengawasi pergerakan calon targetnya. Ia menyatat kebiasaan-kebiasaan mereka, dari keluar rumah hingga masuk ke dalam rumah lagi.
Rendi melakukan hal tersebut untuk mempermudah Mei Ning melakukan tugasnya, ia yakin dengan adanya informasi tersebut, wanita itu akan bergerak lebih leluasa.
Waktu berlalu begitu saja, Rendi yang sudah lelah setelah seharian mencatat informasi mereka, ia pun akhirnya terlelap dengan laptop yang masih menyala.
...***...
Larut malam Rendi terbangun, tampak Mei Ning yang sedang bersiap-siap untuk melakukan rencana pembunuhan tersebut.
"Mau kemana kamu?" tanya Rendi sambil menguap.
"Bukankah tuan menyuruh saya membunuh mereka yang ada dalam daftar?" Mei Ning balik bertanya.
"Kamu masih terluka, jangan terburu-buru, besok saja masih ada waktu," jawab Rendi sambil mencari minuman di lemari Es.
"Kebetulan ada yang dekat sini lokasinya, aku rasa sangat mudah membunuhnya," jawab Mei Ning yakin.
Rendi menghela napas. "Jangan bertindak gegabah, santai saja dulu."
__ADS_1
"Tidak tuan, lebih cepat menyelesaikan ini lebih baik, karena ini prinsipku sebagai seorang pembunuh." jawabnya lugas.
Rendi menggendikkan bahunya. "Terserah kamu saja, aku cuma mengingatkan saja kamu masih terluka," ucap Rendi sambil kembali rebahan di tempat tidurnya.
"Baik Tuan!" jawabnya yang langsung keluar dari apartemen Rendi, mengenakan pakaian hitam-hitam sama ketika akan membunuh Rendi.
Rendi langsung mengambil laptopnya, ia mengganti rekaman semua CCTV yang ada di luar apartemen, agar jejak Mei Ning tidak terdeteksi.
Sementara itu Rendi juga mengikuti pergerakan Mei Ning, dengan menghack ponsel yang di bawa wanita itu.
"Benar-benar wanita gila, cepat sekali pergerakannya? Tapi kenapa dia tidak melawan sama sekali waktu di pesawat jika memilih kecepatan seperti itu?" gumam Rendi bertanya-tanya.
Mei Ning berhenti di sebuah gang gelap, tampak seorang pria paruh baya dengan perut buncit sedang di turunkan dari mobil oleh temannya didepan gerbang rumahnya.
Pria itu tampak mabuk, karena baru turun dari mobil saja ia sudah bersandar di dinding gerbang rumahnya.
Temannya meninggalkan pria tersebut begitu saja, karena biasanya juga seperti itu. Pria tersebut berteriak memanggil Security rumahnya yang kebetulan sudah tidur.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Mei Ning menyuntikkan sesuatu ke dalam leher pria tersebut. Karena saking mabuknya, ia tidak merasakan hal itu, apalagi Mei Ning melakukannya dengan cepat.
Ketika Security rumahnya sudah terbangun dan bergegas membukakan pintu, mulut pria itu langsung berbusa, ia ambruk di tanah kejang-kejang sebelum akhirnya tewas seketika.
__ADS_1
Security mengira kalau tuannya itu hanya mabuk, karena menunggunya lama jadi dia tidak tahan dan rebahan di sana. Namun, ketika Security mau memapahnya untuk membawa masuk, ia terkejut karena bosnya sudah tidak bernapas lagi.
"Tuan, Tuan!" Security yang tidak percaya bosnya tewas, ia menggoyang-goyangkan tubuh Pria tersebut, sambil memeriksa detak jantungnya, tapi bosnya itu memang sudah benar-benar sudah meninggal.
Mei Ning yang sudah menyelesaikan misi tersebut, ia bergegas kembali ke apartemen Rendi dengan cepat, seperti ninja saja.
Setelah satu jam berlalu, Mei Ning sampai di apartemen Rendi sambil menghela napas lega, ia masuk ke dalam apartemen dan menutupnya kembali.
"Ternyata membunuh sangat mudah bagimu," ucap Rendi tiba-tiba.
Sontak Mei Ning terkejut, ia menoleh ke belakang sambil menggembungkan pipinya, ketika mau marah, Rendi menyodorkan minuman kaleng dingin untuk Mei Ning.
"Terimakasih Tuan," ucap Mei Ning yang langsung duduk.
"Besok, siapa yang akan kamu targetkan?" tanya Rendi sambil duduk berhadapan dengan Mei Ning.
"Mafia Pajak, di catatan tuan dia sepertinya akan melakukan pertemuan dengan kliennya, kemungkinan ia akan menginap di hotel, bukan?" tanya Mei Ning memastikan.
Rendi tersenyum. "Kamu cepat sekali tanggap jika masalah seperti ini," puji Rendi kepada wanita itu.
Mei Ning hanya tersenyum saja menanggapi pujian Rendi, karena ia tidak butuh pujian seperti itu, yang ia butuhkan sebenarnya kasih sayang dari Rendi, tapi pria itu tidak peka sama sekali. Padahal apapun akan di lakukan Mei Ning jika Rendi memintanya.
__ADS_1