Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Rumah Mewah Rendi


__ADS_3

Setelah tujuh jam perjalanan dari kota larangan menuju Jakarta, mereka akhirnya sampai di perumahan yang Rendi maksud.


Terlihat seorang Security yang menjaga gerbang rumah tersebut menghentikan mobil mereka.


"Maaf, tuan anda mencari siapa yah? Rumah ini masih kosong, karena bos Murdianto belum menempatinya." Security menegur ramah Suroto.


Rendi mengeluarkan kepalanya. "buka gerbangnya, aku mau tinggal di sini beberapa hari!"


Security menoleh ke arah Rendi, ia langsung terkejut. "maaf bos, saya kira bukan anda."


Dengan tergesa-gesa, Security membukakan gerbang rumah tersebut. Suroto dan Lidia saling menatap, mereka sekarang yakin, kalau Rendi bukanlah anak orang sembarangan, buktinya Security penjaga gerbang saja tahu wajahnya.


Berbeda dengan kedua pasangan suami, istri tersebut, ia sangat yakin kalau Sistem sudah memberitahu semua orang yang berhubungan dengan pemberiannya, karena itulah ia tidak ragu memberikan perintah langsung.


Setelah gerbang di buka, Suroto mengemudikan mobilnya masuk ke dalam rumah tersebut.


Tentu saja mereka berdua terkagum-kagum dengan rumah mewah itu, begitu juga dengan Rendi, tapi ia mencoba untuk tetap tenang.


Mereka bertiga kembali di kejutkan saat ada beberapa pelayan menyambut mereka dan seorang pelayan paruh baya yang bisa di katakan kepala pelayan menyambut Rendi.


"Selamat datang tuan Murdianto, kami sudah menunggu anda." ucapnya sopan sambil membungkukkan badan. "biar saya yang bawa tas anda."


Rendi yang sudah memiliki pemikiran yang lebih luas, ia langsung memberikan tasnya, dan tanpa ragu melangkah ke rumah mewah tersebut.

__ADS_1


"Om, Tante kenapa bengong? Ayo masuk!" ajak Rendi pada pasangan suami, istri tersebut.


Suroto dan Lidia mengangguk, mereka dengan patuh mengikuti Rendi masuk ke dalam rumah mewahnya.


"Selamat datang tuan!" para pelayan yang berjajar di depan pintu menyambut dengan serempak.


Rendi hanya menganggukkan kepalanya, ia dengan bangga masuk ke dalam rumah mewah itu, rumah dengan dekorasi modern di tambah perabotan yang semuanya merupakan merk terbaik.


Sistem memang selalu memberikan hadiah pada Rendi dengan segala kelengkapannya, tentu rumah juga sudah di sediakan demikian rupa, agar ia betah tinggal di sana.


Sial, ini terlalu bagus, kalau begini aku malas pulang ke kampung.


Wajar saja kalau Rendi tidak ingin pulang kampung, kehidupannya di rumah tersebut tentu bakal lebih terjamin, apa lagi ada pelayan yang akan selalu melayaninya dengan baik.


"Baik tuan!" jawab kepala pelayan yang langsung menyuruh satu orang pelayan untuk mengantar Suroto dan Lidia.


Kepala pelayan mengajak Rendi berkeliling sambil menjelaskan apa saja yang ada di sana, dari berapa kamar yang tersedia, kolam renang, ruang kerja pribadi, hingga bar mini pun ada di sana, yang terakhir adalah taman belakang rumah, di sana terlihat begitu asri dan sejuk.


Rendi duduk di kursi bawah pohon taman. "nama kamu siapa?" tanya Rendi lembut.


"Sebastian tuan." jawab Pria paruh baya itu sopan.


Rendi mengangguk. "berapa orang yang bekerja di rumah ini, Sebastian?"

__ADS_1


"Ada empat Security yang akan berganti sif setelah dua belas jam, dua sopir, dua tukang kebun, enam pelayan yang mengurus rumah dan saya tuan." jawab Sebastian lugas.


Rendi manggut-manggut mengerti, ia sekarang tahu seluruh penghuni rumah tersebut. Kalau saja otaknya belum berevolusi, mungkin Rendi akan terkejut sampai pingsan, tapi sekarang Rendi sudah smart, jadi ia tidak terkejut dengan kemewahan yang ia dapatkan.


"Baguslah, kamu boleh kembali bekerja lagi, aku mau beristirahat di sini sebentar." ucap Rendi lugas.


"Baik tuan, saya pamit undur diri dulu." Sebastian membungkuk hormat, ia kemudian meninggalkan Rendi sendiri.


Setelah Sebastian pergi, Rendi langsung berteriak senang." Gila! Ini gila! Aku benar-benar jadi raja sekarang! Nenek, lihatlah cucumu ini yang sekarang seperti seorang raja!"


Sebenarnya dari tadi Rendi ingin mengungkapkan kegembiraannya, tapi ia takut wibawanya turun, karena itulah ia tetap menahannya.


Sementara itu di kamar Suroto dan Lidia, mereka berdua baru selesai membersihkan diri dan mau beristirahat.


"Ayah, ini sudah jelas, kalau Rendi anak orang yang sangat kaya, lihatlah rumah ini yang terbaik di sini, apa lagi harganya mencapai seratus Milyar rupiah!" ucap Lidia bersemangat.


"Kamu benar Bu, kita jangan sampai membiarkan Novi jauh dari Rendi, kalau Rendi bakal pindah ke sini, kita juga bawa Novi pindah kemari!" jawab Suroto yang tidak kalah semangat dengan istrinya.


"Kali ini aku setuju dengan, Ayah." Lidia tersenyum.


Suroto balas tersenyum ke arah Istrinya, karena mereka baru selesai mandi, Suroto langsung menerkam istrinya, kapan lagi bisa bermain di kamar mewah seperti itu, pikirnya.


Mereka berdua pun bergelut di rumah Rendi seperti rumahnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2