Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Pembunuh Yang Cantik


__ADS_3

"Tolong hen-hentikan...." terdengar suara lemah si pembunuh bayaran, dengan sedikit melenguh.


Rendi baru tersadar, ia segera melepaskan tangannya dari benda kenyal itu dan melepaskan pembunuh bayaran tersebut sambil menyalakan lampu.


Ketika lampu di nyalakan, terlihat seorang wanita berpakaian serba hitam terkulai lemas di tempat tidurnya.


Rendi melihat tangannya dan dada wanita itu. "Pantas saja sangat kenyal, ukurannya jumbo seperti itu."


Pembunuh bayaran itu, anehnya tidak bergerak sama sekali di ranjang Rendi, ia malah terlihat terengah-engah di sana. Ternyata wanita itu belum pernah dipegang oleh pria sekalipun, dan kebetulan juga benda kenyal yang di pegang Rendi merupakan titik Vitalnya yang mudah terangsang.


"Kenapa kamu masih bisa bergerak? Padahal aku sudah menyuntikkan racun yang mematikan padamu, " tanya wanita itu dengan suara lemah.


"Racun?" ucap Rendi terkejut, tapi sesaat kemudian ia teringat tadi pagi saat Sistem memberikannya kekuatan kebal terhadap racun. "Jadi ini alasan sistem memperkuat tubuhku?" gumamnya lirih.


Saat Rendi sedang bergumam, wanita itu tiba-tiba menyerang, bukannya membunuh Rendi, ia malah memagut bibir Rendi sambil merangkulnya.


Sontak saja Rendi terkejut, ia membelalakkan matanya dan mendorong wanita itu hingga terjatuh di tempat tidurnya.


"Kamu gila! Tadi mau membunuhku, sekarang mencumbuku, mana harga dirimu!" bentak Rendi kepada wanita itu.

__ADS_1


"Jangan munafik, ayo lakukan, aku sudah tidak tahan, kamu yang memulai, kamu juga yang harus mengakhiri," wanita itu bangkit lagi dan hendak mencumbu bibir Rendi, tapi Rendi langsung memelintir tangannya, mengambil Selimut dan mengikatnya di kasur.


"Apa yang kamu lakukan, ayolah cumbu aku..." wanita itu menggelinjang-gelinjang seperti cacing kepanasan, padahal sudah di ikat.


Rendi begidik ngeri, walaupun wanita itu sangat cantik dengan tubuh aduhai, tapi ia tentu saja tidak ingin melakukannya dengan wanita yang tidak ia cintai.


"Siapa yang menyuruhmu!" bentak Rendi.


"Aku tidak mau bicara sebelum kamu menyentuhku," ucapnya sambil mengeringkan mata.


"Dasar wanita gila!" Rendi meninggalkan wanita itu begitu saja di kamarnya.


Rendi mau menelpon polisi tapi bingung, karena ia tahu kalau polisi di negaranya sangat lambat dalam bergerak. Jadi ia lebih baik tidur di kamar lain saja, karena ia pikir sudah mengikat wanita itu dengan kencang, dan akan mengintrogasinya besok pagi.


Ke esokan harinya....


Rendi bergegas ke kamarnya, betapa terkejutnya dia saat wanita itu sudah tidak ada, selimut yang di gunakan untuk mengikatnya juga sobek.


"Bodoh! Kenapa aku tinggalkan dia begitu saja," gerutu Rendi kesal.

__ADS_1


"Kamu mencariku, sayang?" tiba-tiba wanita itu muncul dan memeluk Rendi dari belakang dengan tubuh basah karena habis mandi.


Bau harum sabun menyeruak masuk ke dalam hidung Rendi, bersama dengan bau tubuh wanita yang berniat membunuhnya semalam itu.


"Apa kamu mau melakukannya pagi ini?" bisik wanita itu manja dengan desiran napas yang sengaja ia hembuskan.


Jantung Rendi berdegup dengan kencang, birahinya muncul, sehingga tanpa sadar ia langsung menindih wanita itu di tempat tidurnya.


Wanita itu tersenyum kepada Rendi, tidak ada perlawanan sama sekali darinya. Bocah berusia delapan belas tahun itu menatap lekat-lekat wajah oriental wanita itu yang hanya mengenakan handuk miliknya.


"Lakukanlah Sayang, aku ini milikmu," goda wanita itu.


Tiba-tiba Rendi teringat dengan Sulis dan Novi, ia menggelengkan kepalanya agar tersadar dan beranjak dari meninggalkan wanita itu.


"Pakai bajumu! Kita akan bicara nanti," ucap Rendi seraya meninggalkan kamarnya.


Rendi menampar pipinya sendiri agar tersadar dan tidak terbuai oleh napsu yang hampir saja membuatnya terjerumus dalam surga dunia yang akan membuatnya lupa dengan nurani.


"Kenapa di jaman sekarang begitu banyak wanita yang merendahkan dirinya?" gumam Rendi sambil menghela napas berat.

__ADS_1


Rendi turun ke bawah, ia menunggu wanita itu keluar dari kamarnya, kalaupun ia pergi, Rendi juga tidak mempermasalahkannya. Namun, ia juga sebenarnya penasaran kenapa wanita itu berusaha membunuhnya.


Wanita itu tidak kabur, ia memakai kaos oblong dan celana pendek Rendi, membuat cetakan tubuhnya terlihat lebih menggairahkan saat menuruni tangga.


__ADS_2