
Rusdianto yang sudah mensurvei seluruh jalanan kampung Karbal bersama Tomo, ia langsung menuju Alamat yang di berikan Rendi.
Terlihat ekspresi tegang Rusdianto, sehingga membuat Tomo yang menyetir mobil bingung.
Sama setan gak takut, mau bertemu bos malah takut, dasar orang aneh.
Tomo menggerutu di dalam hati, karena atasannya itu memang terbalik dengan dirinya.
Sebenarnya kalau orang cerdas memang berpikirnya seperti Rusdianto, tentu ia tegang akan menemui bos besarnya, karena ia takut salah bicara padanya dan karirnya akan hancur. Walaupun Rusdianto sangat ahli dalam bidangnya, tapi ia sadar kesalahan sedikit saat bertemu bos besar bisa fatal, apa lagi kalau sampai si bos memberitahu perusahaan lain dan mem-blacklistnya, tentu hal tersebut akan jadi mimpi buruk untuknya.
Lima belas menit kemudian mereka sampai di Larangan, tepatnya di alamat yang di berikan Rendi.
Rusdianto menyuruh Tomo memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Fortuner, ia kemudian bertanya pada orang yang lewat alamat yang di berikan Rendi.
Orang tersebut menunjuk gang yang ada di dekat sana, ia di suruh masuk ke sana karena kontrakan Rendi ada di dalam gang.
Rusdianto berterimakasih pada orang tersebut, ia pun langsung mengajak Tomo masuk ke dalam gang.
Sementara itu, Rendi dan Hendri yang sudah selesai mengelap mobil, mereka berdua sedang memakan mie instan di dalam kontrakan.
__ADS_1
"Bos, orangnya belum datang juga?" tanya Hendri sopan.
Baru saja Rendi mau menjawab, terdengar orang yang mengetuk pintu kontrakan, mereka berdua langsung menoleh bersamaan.
"Maaf mau tanya, rumah Tuan Murdianto yang mana yah?" tanya orang tersebut sopan.
Rendi tersenyum. "masuklah, aku tidak memiliki rumah di sini, yang ku punya hanya kontrakan kecil ini."
Rusdianto terkejut, ternyata bocah yang menjawab pertanyaannya adalah bos besarnya, ia bergegas melepaskan sepatunya dan menaruh di depan kontrakan dan kembali masuk lagi.
"Maaf bos, saya tidak tahu ini tempat tinggal anda," ucap Rusdianto sopan dan langsung duduk di lantai.
"Tidak apa, kalian mau makan Mie?" tanya Rendi ramah.
Rusdianto melihat mangkok mie instan Rendi, ia benar-benar terkejut, pemilik salah satu perusahaan konstruksi di Indonesia malah makan mie instan, padahal untuk membeli spagheti dan sejenisnya, ia yakin Rendi mampu membelinya.
Tentu kenyataan tersebut menampar secara tidak langsung Rusdianto, seorang Taipan seperti Rendi saja mau memakan-makanan yang murahan, tapi ia yang kekayaannya jauh di bawah Rendi, terkadang enggan makan-makanan seperti itu.
"Makasih bos, kami sudah sarapan," jawabnya lirih.
__ADS_1
Rendi mengangguk mengerti, ia buru-buru menghabiskan mie instannya dan menyuruh Hendri untuk membawa mangkoknya ke dalam.
"Bagaimana hasil survei kamu?" tanya Rendi serius.
"Begini bos, semua jalan utama kampung Karbal rusak, paling tidak harus di beton kemudian di aspal, agar tidak cepat rusak kembali, untuk jalan di sawah, kita harus buat pondasi sayap kanan dan kiri, agar nantinya jalan tidak mudah amblas, dana yang di perlukan akan sangat banyak, apa bos yakin?" tanya Rusdi memastikan.
"Aku sudah tahu pasti bakal keluar dana banyak, berapa kira-kira untuk pembangunan jalannya?" tanya Rendi lagi.
"Sebentar bos," terlihat Rusdianto menghitung menggunakan kalkulator di dalam Hanphone nya, dengan cepat ia menyelesaikan hitungannya. "kurang lebih delapan Milyar rupiah bos."
Rusdianto mengamati ekspresi Rendi, ia yakin Rendi pasti bakal mundur mendengar dan yang di gelontorkan begitu besar. Namun, pemikiran Rusdianto salah besar, tidak ada kata mundur bagi Rendi.
"Baik, kamu langsung hubungi Sulaeman, dan kamu juga minta data pada pejabat setempat untuk memberikan data warga yang rumahnya tidak layak, aku ingin sekalian membangunkan rumah mereka, ingat jangan masukkan data rumah yang tanahnya sengketa! kita tidak punya waktu untuk mengurusi hal semacam itu!" perintah Rendi tegas.
Rusdianto tertegun, ia tidak menyangka kalau bocah di depannya itu sangat tegas, tindakannya tidak bisa di duga sama sekali.
Pantas saja, di usianya yang masih begitu muda sudah memiliki banyak bisnis besar, ternyata dia benar-benar lugas!
Dalam hati Rusdianto memuji Rendi, ia pun tanpa ragu menerima perintah Rendi dan langsung menghubungi Sulaeman atas apa yang di perintahkan oleh Rendi.
__ADS_1