Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Begitu Banyak Orang Yang Menderita


__ADS_3

Rendi mengajak Rohis pulang ke rumah, karena ia sudah menyelesaikan pertemuannya dengan Fang Guan.


"Tuan, apa kita langsung pulang?" tanya Rohis sopan, saat mobil sudah mulai melaju.


"Kita berputar-putar dulu saja Rohis, siapa tahu ada sesuatu yang bisa membuat aku senang," jawab Rendi malas.


Rohis mengangguk mengerti, ia menjalankan mobilnya tanpa arah, berharap tuannya lepas dari kebosanannya.


Rendi terlihat menatap keluar mobil, entah apa yang ada di dalam pikiran ana itu, sekarang kekayaannya sudah lebih dari yang ia bayangkan. Namun, nyatanya ia masih merasa sedih.


Rendi sebenarnya sedang membayangkan, kalau saja kekayaannya ia dapat saat neneknya masih hidup, mungkin kehidupannya akan sempurna, tapi kenyataan tersebut sudah tidak mungkin ia dapatkan.


Kebahagian Rendi terasa kurang, karena ia tidak memiliki keluarga, hidupnya yang sebatang kara membuat dirinya begitu tersiksa.


"Tuan, kita nongkrong di sini saja yah,"tegur Rohis yang sudah menghentikan mobilnya di parkiran Kota Tua.


Rendi tersadar dari lamunannya, ia melihat tempat tersebut yang lumayan ramai, begitu banyak muda-mudi sedang ada di sana.


Rohis membukakan pintu untuk Rendi, pria itu terlihat tersenyum hangat. Rendi turun dari mobilnya.


"Tempat apa ini, Rohis?" tanya Rendi penasaran.


"Ini Kota Tua, Tuan." jawab Rohis sambil mempersilahkan Rendi berjalan di depan.


Rendi menganggukkan kepalanya, ia menyapu pandangannya ke seluruh tempat tersebut. Ia cukup senang berada di tempat tersebut.

__ADS_1


Mereka berdua berkeliling tempat wisata itu, Rohis dengan patuh mengikuti Rendi dari belakang, sebelum akhirnya mereka berdua bertemu dengan seorang bocah berumur tujuh tahun mengenakan pakaian compang-camping.


"Adik, kamu kesini dengan siapa?" tanya Rendi lembut sambil jongkok.


"Aku sendirian Kak, mau pulang abis ngamen," jawab bocah itu jujur.


"Loh, kemana Ayah dan Ibu Adik?" tanya Rendi menyelidik.


Terlihat wajah bocah itu langsung sedih ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Rendi.


Rendi merasa iba dengan bocah itu, ia yakin kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan.


"Boleh Kakak antar Adik ke rumah?" tanya Rendi lagi.


Bocah itu hanya mengangguk sambil matanya berkaca-kaca. Rendi beranjak dari jongkoknya, ia membawa bocah itu ke mobil.


"Kamu ambil yang kamu suka, dan bilang sama kakak, apa saja yang di rumah kamu tidak ada, oke!" perintah Rendi lembut saat mau masuk ke minimarket.


"Baik Kak!" jawab bocah itu terlihat sangat antusias.


Rendi tersenyum, mereka berdua masuk ke minimarket tersebut, bocah yang mengatakan kalau namanya Ronal itu, ia langsung mengambil banyak Snack dan susu kotak lalu membawanya ke kasir, ia bolak-balik mengambil jajanan tersebut.


Pelayan minimarket mau menegurnya tapi Rendi mengatakan pada mereka kalau ia yang akan membayar semuanya. Sehingga pelayan minimarket hanya menurut dan menjumlah semua yang di beli Ronal.


Rendi mengambil dua kantong beras lima kilogram dan dua botol minyak satu liter, dan juga beberapa merk mie instan.

__ADS_1


Ronal terlihat sudah menunggu di kasir dengan belanjaan yang berjumlah tiga kresek besar.


"Sudah beli jajannya?" tanya Rendi pada Ronal.


"Sudah Kak, aku juga sudah beli susu untuk Ade dan juga buat Ibu, biar Ibu sehat kembali," jawab bocah itu sambil tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang sedikit berwarna kuning.


"Kamu punya Adik? Umurnya berapa?" tanya Rendi memastikan.


"Umurnya dua tahun kak," jawabnya cepat.


Rendi langsung menoleh ke arah kasir. "Mba tolong lihat susu yang dia beli, sesuai dengan umurnya atau tidak? Kalau tidak sesuai tolong Carikan yang untuk umur dua tahun!" ucap Rendi lugas.


"Baik Mas," Kasir tersebut memeriksa susu bubuk yang di beli bocah itu, benar saja itu untuk usia lima tahun ke atas. "Jadi ini di ganti yah Mas?" tanya Kasir itu memastikan.


"Iya Mbak, tolong ambilnya yang besar yah Mbak," tukas Rendi sopan.


"Baik Mas," kasir langsung mengganti susu yang di beli Ronal.


Setelah semuanya sudah di ganti dan di bayar, mereka membawa belanjaan itu keluar, Rohis bergegas membantu Rendi yang terlihat kerepotan karena membawa empat kantong kresek besar.


"Kak, terimakasih banyak yah," ucap bocah itu saat sudah di dalam mobil.


Rendi tersenyum, ia mengusap puncak kepala bocah tersebut. "Sama-sama."


Mobil pun menuju tempat rumah tersebut yang ternyata ada di pinggiran kali, di tambah rumah bocah itu bukan rumah permanen, melainkan sebuah gubuk sederhana, yang terdapat tambalan karung bekas, dan yang lainnya.

__ADS_1


Seketika hati Rendi tersayat, ia mengingat saat dirinya tinggal dengan sang nenek di gubuk reyotnya. Matanya berkaca-kaca, ingin rasanya ia menangis saat melihat pemandangan tersebut.


__ADS_2