Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Anak Buah Yang Baik


__ADS_3

Rendi tentu bingung mau menjawab apa, mau bilang dari sistem, tapi ia tidak mungkin mengatakan itu, akhirnya Rendi memilih untuk kembali berbohong.


"Emas-emas itu milik orang tuaku dulu, aku mau menjualnya tapi takut di kira pencuri atau semacamnya, Om dan Tante tahu sendiri bagaimana negeri ini memperlakukan bocah seperti aku." ucap Rendi tidak berdaya.


Suroto dan Lidia mengangguk mengerti, karena jika Rendi menjual Emas itu ke sembarang orang, tanpa bukti yang jelas, tentu orang-orang akan curiga padanya, kalau ia mendapatkan barang itu curian, karena tidak semua orang tahu kalau Rendi memiliki kekayaan di luar nalar, walau usianya masih 17 tahun.


"Jadi kamu mau menjual emas-emas ini, Ren?" tanya Suroto memastikan.


"Kalau Om dan Tante bisa menjualkannya silahkan, nanti aku kasih Om dan Tante 10% dari penjualan emas itu." jawab Rendi mantap.


"Kamu serius Ren?" tanya Suroto bersemangat.


Rendi mengangguk mantap, tentu saja Suroto langsung menyetujui permintaan Rendi, mau bagaimanapun, ia seorang pebisnis, jadi wajar kalau ia tertarik dengan tawaran Rendi.


"Jangan mulai deh, Ayah." tegur Novi tiba-tiba.


Suroto tersenyum, "sayang, Rendi memberikan tawaran yang bagus buat Ayah, lagi pula Rendi juga pasti sudah memiliki uang yang banyak, jadi kalau memberi sepuluh persen, Ayah yakin itu bukan masalah buatnya, benarkan Ren?"


Rendi mengangguk sambil tersenyum, "iya Nov, bener kata Ayahmu, lagi pula kalau aku memegang barang itu lama-lama juga tidak enak juga, aku masih menyimpan beberapa kok."


Suroto dan Lidia saling menatap, mereka tidak tahu lagi harus berkata apa lagi dengan kekayaan Rendi, jika ia masih menyimpan beberapa Emas lagi, berarti bocah SMA itu benar-benar sudah sangat kaya.


Sementara Novi hanya bisa menghela napas, ia juga tidak terlalu mengatur Rendi, karena statusnya belum jelas dengan Rendi.


Kesepakatan dengan Ayah Novi pun tercapai, Rendi menyerahkan penjualan emas-emas tersebut pada Ayah Novi.

__ADS_1


Awalnya Rendi juga menyuruh Ayah Novi untuk menyimpan semua emas itu, tapi ia menolak dan hanya mengambil satu buah untuk di perlihatkan pada kliennya nanti. Rendi akhirnya membawa emas itu kembali ke kontrakannya.


...***...


Rendi sampai di kontrakannya, tapi ia di kejutkan dengan Harisman dan bawahannya yang sudah berkumpul di kontrakannya, padahal mereka sedang membuka kedai nasi goreng dan jarum jam masih menunjukkan pukul sepuluh malam.


Rendi tentu saja mau marah pada mereka, karena ia pikir mereka semua tidak menjalankan dagangannya dengan baik.


"Bos, akhirnya kamu pulang juga, kita da ...."


Plak


Rendi langsung menampar Harisman, sampai ia tersungkur di tanah, padahal ia belum selesai bicara.


"Apa-apaan kalian! Padahal aku sudah mencoba memberikan kalian pekerjaan, tapi ini balasan kalian!" tegur Rendi dengan suara lantang.


Harisman yang tersungkur di tanah, ia memegangi pipinya sambil menundukkan kepala, tidak ada di antara mereka yang berani bicara dengan Rendi.


"B-Bos tenanglah di...."


"Tenang apanya?!" Samiun yang mau bicara juga di hentikan Rendi, ia pun langsung menutup mulutnya.


Semua bawahan Rendi hanya bisa menundukkan kepala, mereka mau bicara tapi takut di gampar oleh Rendi.


Rendi yang melihat mereka ketakutan, ia mencoba mengendalikan emosinya dengan menghirup napas dalam-dalam dan membuangnya.

__ADS_1


"Kenapa jam segini kalian sudah pulang? Bagaimana dengan kedai nasi gorengnya?" tanya Rendi sambil duduk kembali di jok Motornya.


"I-Ini B-o-s." Ajis si gagap memberikan kaleng berwarna merah bekas biskuit pada Rendi.


Rendi mengerutkan keningnya, bertanya, "apa ini?"


"Ha-ha- sil pe-pe-njualan na-na-si goreng b-bos!" jawab Ajis.


Rendi membuka kaleng tersebut, betapa terkejutnya dia saat melihat ada banyak uang di dalamnya, ia langsung melihat ke arah anak buahnya yang masih menundukkan kepala semua.


"Ini uang apa?" tanya Rendi bingung.


Harisman yang tersungkur di tanah ia bangkit, "Bos, itu hasil penjualan nasi goreng hari ini, semuanya sudah habis bos, makanya kami kemari."


Rendi menelan ludah, "habis? Di hari pertama kalian berjualan?"


Mereka semua mengangguk dengan kompak, Rendi menatap Harisman, ia merasa bersalah karena main menampar Harisman begitu saja. Ia pikir kalau mereka hanya bermain-main saat membuka kedai, tapi nyatanya mereka semua telah bekerja keras.


"Maafkan aku, Harisman." Rendi membungkukkan badannya.


"B-Bos jangan seperti ini, aku tidak apa-apa kok, wajar jika bos marah, karena kami saja tidak percaya kalau kedai akan sangat ramai di hari pembukaan." jawab Harisman sambil memegang Rendi agar tidak membungkuk padanya.


Rendi tersenyum ke arah Harisman dan yang lainnya, sebagai permintaan maaf, Rendi mengijinkan mereka berpesta malam ini, asalkan jangan membuat tetangga kontrakan terganggu.


Tentu Harisman dan yang lainnya sangat senang, mereka langsung belanja kebutuhan pesta dari uang yang di berikan Rendi.

__ADS_1


__ADS_2