Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Ceroboh


__ADS_3

Rohis yang mengejar Rendi, ia bergegas menghampiri pria tersebut dan langsung menonjoknya sampa pria itu tersungkur.


Sontak saja Rendi terkejut dengan tindakan tiba-tiba Rohis. sementara Sulis ia histeris ketika Rohis melakukan itu.


"Aku sudah melihatmu beberapa kali bersama Nona Sulis! Kali ini biar aku yang menghajar mu bajingan!" seru Rohis dengan percaya diri.


"Sam, kamu tidak apa-apa kan?" Sulis memapah pria tersebut.


"Nona, janganlah seperti itu, kasihan tuan Rendi," tegur Rohis tidak berdaya.


Sulis mengerutkan keningnya. "Kasihan apanya?! Kamu kalau bicara hati-hati!" raung Sulis marah.


"Nona, lihatlah siapa yang datang," Rohis menunjuk Rendi yang baru sampai di sana.


Sulis menoleh ke arah Rendi, gadis itu jelas saja sangat terkejut, ia langsung melepaskan pria yang dipanggil Sam itu dan menghambur ke arah Rendi dan memeluknya.


"Rendi! Kenapa pulang tidak bilang-bilang," ucapnya sambil memeluk erat pria yang di kaguminya itu.


Rendi menghela napas, ia melepaskan pelukan Sulis, sehingga membuat gadis tersebut terkejut. Karena tidak biasanya Rendi seperti itu.


"Kamu jelaskan dulu, siapa pria itu?" tanya Rendi dingin.


Sulis mengernyitkan dahi. "Siapa yang kamu maksud?" tanyanya bingung.


"Sulis, aku melihat kamu berangkat bersama dengan pria itu!" suara Rendi sedikit meninggi. Namun, bukannya takut Sulis malah terkikik geli.


"Kamu cemburu dengan sepupuku?" tanya Sulis menyelidik.

__ADS_1


"Eh, sepupu?" ucap Rendi terkejut.


"Halo Mas Rendi, lama tidak bertemu," ucap Pria yang berboncengan dengan Sulis sambil memegang pipinya.


Rendi seketika terkejut, ia tahu siapa pria tersebut karena ketika tinggal di rumah Sulis pria tersebut datang beberapa kali ke sana.


Rohis mulai menelan ludah, rasanya ia ingin mengubur dirinya dalam-dalam ke tanah, agar tidak kena marah bosnya.


"Astaga Samuel! Kamu Samuel kan?" tanya Rendi terkejut.


"Benar Mas, aku Samuel," jawabnya masih memegangi pipinya yang di pukul Rohis.


Rendi menghela napas. "Maaf Samuel, aku kira tadi kamu siapa, dan juga maafkan sopir aku, dia memang sedikit tempramen," ucapnya sambil memelototi Rohis, yang langsung menundukkan kepala.


Rendi kemudian mengajak mereka berdua masuk ke dalam kantor, untuk bertanya lebih detail, kenapa Samuel ada di Jakarta.


Samuel merupakan anak dari adik Kandung Ayahnya Sulis, usia Samuel memang seumuran dengan Rendi dan Sulis.


Mereka bertiga sudah duduk di ruangan manajer, tentunya manajer terpaksa harus keluar dari ruangannya sendiri dan menunggu di luar.


"Jadi kamu kerja di sini juga?" tanya Rendi memastikan.


"Benar Mas, berkat Mbak Sulis saya kerja di sini, awalnya saya ragu tapi Mbak Sulis bilang tidak apa-apa," jawabnya sopan.


"Maaf yah Ren, aku tidak bilang padamu, tapi Samuel sudah menjalankan prosedur pendaftaran kok, aku tidak memasukannya sembarangan," ucap Sulis yakin.


Rendi tersenyum. "Aku percaya padamu, tidak perlu berbicara berlebihan." Sam, semoga betah kerja di sini,"

__ADS_1


"Iya Mas terimakasih," jawabnya sopan.


Mereka berbincang-bincang untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Samuel pamit untuk bekerja, sehingga di ruangan tersebut hanya ada Sulis dan Rendi saja.


"Maaf Sulis, aku tadi sempat ragu denganmu," ucap Rendi tidak berdaya.


Sulis tersenyum simpul. "Tidak apa, dengan begitu aku tahu kalau kamu cemburu padaku."


Pria itu mendekat ke arah Sulis, ia menggenggam tangan gadis itu dan menatap wajahnya dengan serius.


Tentu saja Sulis merasa heran dengan tindakan Rendi, ia bertanya-tanya dalam hati apa yang akan di lakukan Rendi kepadanya.


Jantung Sulis berdegup dengan kencang, walaupun ia gugup dengan apa yang akan di lakukan Rendi, tapi ia tidak akan menolaknya sama sekali dan menyiapkan mentalnya.


"Dengar baik-baik Sulis, untuk beberapa hari kedepan, aku mungkin tidak akan menemuimu, ataupun jika bertemu denganmu aku tidak akan menyapamu...."


"Ren, apa maksudmu?!" Sulis langsung memotong perkataan Rendi dengan wajah sedih.


"Dengarkan aku dulu, aku belum selesai bicara," tegur Rendi.


Tampak mata wanita itu berkaca-kaca, tapi ia mencoba untuk mendengarkan apa yang akan Rendi Katakan.


Rendi mengehela napas. Ia memegang pipi Sulis. "Bisnisku semakin berkembang dan bisa di katakan semakin merajai negeri ini kamu pasti tahu itu bukan?"


Sulis mengangguk lirih, Rendi kemudian melanjutkan. "Ada beberapa orang yang sedang mengincarku untuk menjatuhkan aku, karena itulah aku tidak ingin kamu terlibat, untuk beberapa waktu ke depan aku akan menjauhimu, tapi aku tidak pernah ada niat sedikitpun untuk meninggalkanmu, kamu hanya perlu bersabar sebentar, setelah aku sudah menyelesaikan masalah ini, kita bisa berhubungan lagi seperti biasanya, apa kamu mengerti?"


"Tapi Ren, aku tidak mau jauh darimu," Sulis memeluk Rendi dengan erat, bulir bening langsung mengalir deras dari pelupuk matanya.

__ADS_1


Rendi balas memeluk Sulis, ia tahu kalau wanita itu pasti tidak mau jauh dengannya. "Percayalah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, ini hanya untuk sementara waktu."


Sulis tidak menjawab, ia hanya bisa menangis terisak di pelukan Rendi. Karena gadis itu pikir kalau Rendi akan meninggalkan dirinya untuk selamanya, karena itulah ia berpamitan padanya.


__ADS_2