
Kenyataan tentang kelompok Komunis memang sulit untuk diprediksi, mengingat mereka bisa berbaur dengan masyarakat umum tanpa adanya perbedaan sama sekali.
Rendi yang dulu hidup di kampunng juga tidak mengetahui kalau ternyata malah sosok pemimpin mereka ada di sana. Namun, Feelingnya sangat kuat sehingga Pria tersebut tanpa tahu apapun berencana pulang ke kampung Halamannya.
...***...
Ke esokan harinya, Rendi sudah bersiap pulang ke kampung. Hanya Novi yang tidak ikut mengingat ia harus melanjutkan studinya.
Rendi juga sebenarnya melarang Mei Ning ikut, tapi mana mau wanita itu ditinggal Rendi, sehingga ia tetap ikut Rendi pulang ke kampung halamannya.
"Ren, aku tidak sabar melihat Ayah dan Ibu terkejut dengan kedatangan ku," ucap Sulis bersemangat didalam mobil.
Rendi tersenyum. "Semoga saja mereka tidak jatuh pingsan."
"Ih... apaan sih, mana ada Ayah dan Ibu pingsan?" jawab Sulis manja.
"Aku cuma bercanda," jawabnya lembut.
Mei Ning hanya menyimak pembicaraan mereka berdua. Wanita itu sangat tahu posisinya, Sulis merupakan wanita pertama di hati Rendi, sehingga ia pun terus mengalah dengannya, demi bisa dekat dengan pria tersebut.
Setelah tiga jam perjalanan, mereka beristirahat disebuah rumah makan yang dulu ketika Rendi pulang juga beristirahat disana.
Baru saja Rendi turun dari mobil, tiba-tiba ada seorang wanita yang menegurnya. "Mas Rendi!" serunya bersemangat.
Rendi sontak saja menoleh, ia mengerutkan keningnya, karena merasa asing dengan orang tersebut.
"Mas Rendi ini saya, pengemis yang dulu mas bantu," ucapnya memastikan.
"Ya ampun, maaf Bu, aku pangling lihat Ibu yang sekarang," jawabnya sambil tersenyum.
"Mas Rendi bisa saja, ini semua juga berkat Mas Rendi, oh ya Mas kalau mau beristirahat di warungku saja, kebetulan sekarang aku buka warung disini," ajaknya sopan.
__ADS_1
"Syukurlah kalau Ibu sudah maju."
Ibu itu mengajak Rendi dan rombongan ke warungnya, di seberang jalan, tampak warung Ibu itu cukup ramai, dia juga sudah memiliki dua orang yang membantunya.
Rendi kagum dengan Ibu tersebut, hanya dalam kurun waktu kurang dari setengah tahun kemajuannya sudah pesat, ia yakin kalau Ibu itu benar-benar serius mau merubah tubuhnya.
"Siapa dia Ren? Kenapa kamu mengenalnya?" tanya Sulis menyelidik.
Rendi tersenyum, ia menggoda Sulis. "Kamu cemburu dengan Ibu-Ibu?"
"Mana ada," jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Rendi mengacak gemas rambut Sulis, ia yakin kalau Sulis pasti cemburu mengingat Ibu tersebut sangat baik dengannya.
"Dulu dia pengemis yang tidak sengaja bertemu denganku, aku memberinya modal, eh ternyata dia sudah sukses sekarang," ucap Rendi sambil duduk di kursi yang ada di warung Ibu tersebut.
"Bos benar Nona, saya yang menjadi saksinya," timpal Rohis mantap.
Rendi menggelengkan kepalanya, ia tersenyum simpul. "Aku membantu mereka bukan mengharapkan imbalan atau apa, yang aku inginkan agar mereka bisa merubah hidup mereka, kalau mereka sukses berarti mereka serius ingin berubah, kalau tidak mereka orang-orang yang memiliki pemikiran dangkal." jawabnya santai.
Sulis mengangguk-anggukkan kepalanya setuju, pada dasarnya ketulusan seseorang membantu sesama itu memang wajib. Tergantung mereka yang di bantu, mau berubah atau tidak, kalau tidak mau bangkit itu salah mereka sendiri, sudah di kasih kesempatan malah bersantai-santai.
Rendi juga seperti itu, ia sadar karena dulu pernah merasakan bagaimana pahitnya kehidupan, karena ia ingin berubah, setelah diberi kesempatan ia sebisa mungkin menjalankannya dan hasilnya negaranya bisa berubah seperti sekarang ini, itu bukti kalau Rendi tidak menyia-nyiakan kesempatan.
"Maaf Mas dan Mbak nya menunggu lama, silahkan nikmati makanan warung aku, mudah-mudahan Mas Rendi dan yang lainnya suka," ucap Ibu itu sopan.
"Terimakasih Bu," jawab Rendi yang dengan senang hati mencicipi makan tersebut.
Sulis dan yang lainnya juga mencicipi makanan tersebut, betapa terkejutnya mereka ketika makanan yang di buat Ibu tersebut ternyata cocok di lidah mereka.
Ibu itu tersenyum puas, ia pamit meninggalkan mereka yang sedang menikmati makanan yang dibuatnya.
__ADS_1
"Pantas saja laris manis, orang masakannya enak seperti ini," celetuk Rohis.
"Aku setuju, ini sangat enak dan aku rasa layaknya dapat tempat yang lebih layak," timpal Sulis.
Rendi tersenyum. "Baguslah kalau kalian suka."
Mereka melanjutkan makannya, setelah selesai, Rendi mau membayar makanan tersebut. Namun, Ibu itu menolak dengan tegas, ia mana mungkin meminta bayaran kepada penolongnya.
Rendi yang tahu kalau Ibu itu pasti tidak mau menerima bayaran tersebut, ia menaruh uangnya dibawah piring tadi ia makan.
Rendi kemudian berterimakasih dan berpamitan kepada Ibu tersebut untuk kembali melanjutkan perjalanan.
"Bu, saya menemukan uang dipiring orang tadi!" seru orang yang membantu di warung.
Mantan Ibu pengemis itu menghela napas sambil melihat uang dua ratus ribu yang diberikan karyawannya. "Dasar Mas Rendi, sudah di bilangin aku iklas," ucapnya tidak berdaya.
Rendi tahu kalau warung juga butuh modal, kalau ia makan gratis disana walau cuma satu porsi, tetap saja keuntungan Ibu itu akan berkurang. Ia juga bukan tipe orang yang memanfaat orang yang sudah di bantunya, lagipula ia juga tidak kekurangan uang sama sekali.
...***...
Sementara itu Rendi kembali melanjutkan perjalanannya. Setelah lima jam perjalanan akhirnya mereka sampai di Brebes.
"Akhirnya, aku bisa melihat kampung halamanku lagi," ucap Sulis senang.
"Aku juga rindu dengan kampung," timpal Rendi sambil menggenggam tangan Sulis.
Sulis merebahkan kepalanya di bahu Rendi, ia sangat senang bisa kembali ke kampung halamannya.
Sayangnya kesenangan mereka hanyalah sesaat saja, karena ada sebuah tragedi besar yang akan mereka hadapi di kampung halaman.
Beruntungnya Novi karena tidak ikut dengan mereka pulang ke kampung, pasalnya pemimpin kelompok Komunis ada di kampung Karbal.
__ADS_1
Rendi yang belum menyadari hal tersebut, ia belum mencium akan adanya bahaya yang sedang mengintai dirinya dan orang-orang yang dicintainya. Pria itu pikir kepulangannya hanya untuk bersenang-senang dan nostalgia dengan masalalu nya dulu, tapi ada sesuatu yang akan membuat dirinya harus mengungkap sebuah kebenaran.