
Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak-tidak, memangnya aku cowo apaan? Sistem tidak adakah kemampuan lain?!" gerutu Rendi kesal.
"Kamu kenapa Ren?" tiba-tiba Mei Ning keluar dari kamar mandi menegur Rendi.
Rendi menoleh sambil tersenyum simpul. "Tidak apa-apa sayang, aku hanya sedang memikirkan kamu," ucapnya tanpa sadar, yang membuat Rendi langsung menutup mulutnya.
Mei Ning tertegun di tempat, ini pertama kalinya Rendi memanggil dirinya dengan sebutan sayang.
Aku sedang tidak bermimpikan? Ini serius Rendi memanggilku sayang, bukan?"
Mei Ning bertanya-tanya dalam hati. Rendi yang mendengar suara hati Mei Ning, jelas saja terkejut dan merutuki kemampuan tersebut. Terlebih mendapatkan kemampuan tersebut pun Rendi tidak perlu merasakan sakit sama sekali dan langsung bisa menggunakannya.
Sialan! Kenapa mulutku tiba-tiba bicara seperti ini, tidak bisa ini, kalau begini aku tidak boleh satu kamar dengannya!
Rendi menggerutu dalam hati, sebelum Mei Ning membuatnya bicara lagi. Rendi bergegas keluar dari apartemen sambil membawa laptopnya.
Mei Ning tersadar karena Rendi tiba-tiba pergi dari kamar, ia tersenyum simpul. "Ih... pakai acara malu-malu segala, membuat aku semakin suka."
Rendi turun ke parkiran, ia masuk ke dalam mobil. Ia menghela napas berat bersandar di kursi mobil.
"Apa gunanya kemampuan ini coba? Kalau begini caranya aku malah bisa kerepotan!" gerutunya kesal.
Rendi terus menggerutu, andai saja Sistem bisa di ajak bicara, pasti ia akan memakinya, karena memberikan kemampuan yang menurutnya tidak berguna sama sekali.
Ketika pria itu sedang menggerutu kesal di dalam mobil, tiba-tiba ia mendengar suara hati seorang wanita yang ada di parkiran.
Jadi Ini apartemen pembunuh yang itu? Lebih baik aku cepat menelpon bos, agar cepat menghabisinya!
__ADS_1
Rendi terkejut dengan apa yang di dengarnya, ia bergegas turun dari mobil dan mencari wanita yang tadi berbicara dalam hati itu.
Rendi menyapu pandangannya ke segala arah, hingga akhirnya ia menemukan seorang wanita di dalam mobil yang sedang akan menghubungi bosnya, pria itu bergegas menghampiri wanita tersebut.
"Hai cantik, sedang menunggu siapa?" tanya Rendi langsung.
Melihat ketampanan Rendi efek dari kemampuan penggoda wanita juga, wanita itu langsung tertarik dengan pria itu.
"Tidak menunggu siapa-siapa, kalau kamu tampan?" jawab wanita itu.
Rendi mengulas sebuah senyum. "Aku sengaj kemari, karena tadi melihat pesona kamu dari mobil, boleh aku masuk?" ucap Rendi sambil mencolek dagu wanita itu.
"Ih... genit yah," rajuknya manja.
"Jadi tidak mau nih pergi denganku?" tanya Rendi sambil menaik turunkan alisnya.
Karena setiap perkataan Rendi seolah sugesti, jadi wanita itu begitu mudahnya terpancing dengan ucapan pria tersebut.
Masa bodo dengan bos, kapan lagi aku bisa bercumbu mesra dengan pria tampan!
Wanita itu berkata dalam hatinya, Rendi tersenyum kecut ketika mendengar itu. Yang membuat Rendi tambah terkejut ketika kaca mobil di tutup pintunya di kunci, kemudian wanita itu langsung menerkam bibirnya.
Rendi membelalakan matanya, ia tertegun sesaat, sebelum akhirnya ia tersadar memegang kepala wanita itu dan langsung mematahkannya.
Wanita itu tewas seketika ketika lehernya patah, Rendi menghela napas lega, ia buru-buru menghapus lipstik wanita itu yang ada di bibirnya menggunakan baju wanita tersebut yang tewas di pangkuannya.
"Sialan, kalau membunuh wanita harus seperti ini, alangkah tidak eloknya diriku ini sebagai pria," gerutunya kesal.
__ADS_1
Rendi mengambil ponsel tersebut, ia menyeringai ketika memiliki ide untuk membunuh Edward dengan mudah, ia turun dari mobil itu Daan menelpon Mei Ning agar turun dari apartemen.
"Cepat turun sayang, aku ada di parkiran," ucapnya lembut dan langsung mematikan ponselnya.
"Gila! Bicara sedikit saja sudah begini, aku harus bagaimana ini? Gawat kalau nanti jalan sama Sulis ada temannya, Arghh...." Rendi mengacak-acak rambutnya sendiri.
Sebenarnya Sistem memberikan kemampuan tersebut agar Rendi terlihat natural ketika di tempat umum dan menggunakan para wanita yang dekat dengan para targetnya.
Kemampuan tersebut juga bisa di kendalikan, kalau Rendi sudah bisa mengetahui caranya. Namun, untuk sekarang pria itu tampaknya akan kesulitan, mengingat ia juga tinggal dengan seorang wanita cantik di apartemennya.
...***...
Mei Ning masuk ke mobil, ia duduk di sebelah Rendi. Wanita itu mengerutkan kening ketika mencium aroma wanita lain di tubuh Rendi.
"Kamu habis darimana? Apa tadi di sini ada wanita?" tanya Mei Ning sambil mengedarkan pandangannya.
"Wanita? Oh tadi ada bawahan Edward mencumbuku terus aku bunuh," jawabnya enteng.
"Mencumbu? Kamu tidak pernah melakukannya denganku dan kamu mencumbu wanita lain? Kenapa tidak bilang pa...."
Tanpa aba-aba Rendi membungkam mulut Mei Ning dengan cumbuan mesra, ia melepaskan pagutannya, memegang dagu Mei Ning sambil tersenyum. "Jangan marah-marah seperti itu, nanti cepet tua," ucapnya lembut.
Wajah Mei Ning merah merona, karena Rendi berinisiatif mencumbunya, padahal sebelumnya tidak pernah seperti itu. Wanita itu mengangguk lirih tanpa berbicara sepatah katapun.
Rendi melepaskan tangannya dari dagu Mei Ning dengan wajah yang seketika berubah sedih, karena tadi ia melakukan itu karena reflek tidak bisa melihat seorang wanita marah padanya.
Hancur sudah harga diriku sebagai pria baik-baik, sudahlah lebih baik aku pasrah saja.
__ADS_1
Rendi sudah tidak bisa berkata-kata lagi, mau menolak kemampuan itupun tidak bisa, akhirnya ia sadar harus menerima kemampuan tersebut, agar tidak membebani dirinya.