
Rendi menghela napas setelah selesai menelpon, ketiga wanitanya tentu saja langsung menoleh kearahnya.
"Siapa yang menelpon Ren?" tanya Sulis yang duduk dekat Rendi.
"Malik, dia menyuruhku datang ke Istana," jawabnya malas.
"Pak Presiden? Ada apa memangnya?" tanya Novi penasaran.
"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Rendi menggendikkan bahunya.
"Kalian berdua ini malah menanyakan hal yang tidak perlu, bukankah sudah jelas, kalau pak presiden menelpon karena ada sesuatu yang penting. Tentu kalian tahu posisi Rendi sebenarnya," celetuk Mei Ning tiba-tiba.
Sulis dan Novi mengangguk mengerti, mau bagaimanapun mereka kurang lebih sudah tahu kalau Rendi yang menjadi pelopor pembebasan negara mereka dari jerat para koruptor.
"Nanti kamu belajar berjalan lagi sama Bibi yah, setelah urusanku selesai nanti aku langsung kembali," ucapnya lembut kepada Sulis.
"Iya tidak apa-apa kok," jawab Sulis sambil tersenyum.
Mereka kembali melanjutkan makannya, setelah selesai Rendi berpamitan untuk pergi ke Istana. Pria itu tidak naik kendaraan sama sekali, ia lebih memilih berlari daripada harus terjebak macet nantinya.
__ADS_1
Walaupun Jalanan kota Jakarta mulai dibenahi, tapi tetap saja jalanan yang biasa bertumpuk kendaraan di jam berangkat kerja pasti macet.
Malik sebenarnya sedang mengebut proyek pembenahan jalan. Namun, dalam masa tiga bulan dirinya menjabat menjadi Presiden, itu sudah menunjukkan hal positif, tapi semuanya masih dalam proses.
Bukan tidak mungkin jika kelak Jakarta akan terlepas dari kemacetan. Kebijakan-kebijakan yang dibuat Malik diantaranya agar bisa mengurangi kemacetan dan banjir di Jakarta. Bahkan tidak tanggung-tanggung Malik menggelontorkan dana Triliunan dari sakunya dan Rendi untuk membangun kota tersebut agar lebih baik lagi.
Pemukiman kumuh mereka gusur dan perbaharui kembali, mereka yang memiliki surat kepemilikan tanah resmi akan diberi rumah gratis baru nantinya, sementara mereka yang tidak memiliki surat tanah, akan diberikan potongan harga 70%, artinya pemerintah sekarang benar-benar peduli ingin merangkul rakyatnya.
Proyek itu semuanya sedang berjalan serempak dengan pembangunan di daerah-daerah lainnya.
Tidak ada korupsi, semua data pengeluaran akan di audit, bahkan pemborong sekalipun harus jelas memberikan pekerjaan mereka kepada orang yang tepat.
Orang-orang Malik semuanya setia, mereka tahu kalau bosnya menginginkan negaranya agar maju, karena itulah semuanya saling merangkul satu sama lain, agar tidak ada dusta diantara mereka.
Rendi sudah sampai di Istana. Karena Malik tahu kalau Rendi akan datang dengan cepat tanpa mobil, pria yang menjadi orang nomor satu di negaranya tersebut sudah menunggu di depan Istana.
"Ada apa sebenarnya Malik," tiba-tiba Rendi udah ada didepan Malik.
Sontak saja Malik dan para Mentri yang menunggunya terkejut, karena Rendi tiba-tiba muncul seperti hantu saja.
__ADS_1
Malik mengusap dadanya, walaupun ia sudah terbiasa melihat keanehan Rendi sewaktu melawan para pembunuh bayaran, tapi tatap saja ia merasa kaget.
"Lebih baik kita bicarakan didalam tuan Rendi," ucap Malik sambil mempersilahkan Rendi masuk kedalam Istana.
Rendi mengangguk, ia berjalan masuk terlebih dahulu, dengan di ikuti Malik dan para Mentri yang merupakan orang-orangnya.
Pemandangan tersebut sangatlah ambigu, mengingat seharusnya orang nomor satu di negaranya yang berjalan didepan, tapi ini Rendi yang tidak memiliki jabatan apapun malah berjalan didepan mereka semua.
Jika ada wartawan yang melihat, pasti mereka akan langsung memberitakannya tujuh hari tujuh malam.
Mereka semua masuk kedalam Istana, tampak Rendi duduk didekat Malik, awalnya ia disuruh duduk ditempat Presiden. Namun, Rendi menolak, mau bagiamana pun, ia harus menghargai Malik di hadapan bawahannya.
"Aku tidak suka berbasa-basi, cepat katakan ada apa sebenarnya?" tanya Rendi memastikan.
"Tuan Lihatlah ini," Malik membuka laptop dan memperlihatkan sebuah Video percakapan seseorang yang mengatakan akan menginvasi Negaranya.
Rendi mengerutkan keningnya, ketika melihat Video tersebut. "Darimana kamu mendapatkan Video ini?" tanya Rendi memastikan.
"Bawa dia masuk!" perintah Malik kepada bawahannya.
__ADS_1
Seorang pemuda seusia Rendi dibawa masuk dengan tangan diborgol. Ketika Rendi melihat pemuda tersebut ia membelalakan mata terkejut.
"Kamu!"