Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Mengunjungi Spin Company


__ADS_3

Begitu sampai di ruangan CEO, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Rendi langsung membuka pintunya, asisten CEO hanya bisa tersenyum getir.


Aranka Wijaya CEO SPIN Company yang kebetulan sedang ada tamu, mereka secara reflek menoleh ke arah pintu, ketika pintu ruangan tersebut terbuka.


Aranka terkejut saat melihat Rendi, ia langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Rendi.


"Bos, kenapa anda tidak bilang kalau mau kemari?" tanyanya sopan.


"Aku hanya kebetulan lewat dan mampir ke sini saja, apa aku mengganggu kamu?" Rendi balik bertanya.


"Tidak, tentu saja tidak bos, silahkan duduk." Aranka menyuruh Rendi duduk di kursinya.


Dua tamu Aranka kebingungan saat CEO perusahaan tersebut memanggil seorang pemuda dengan sebutan bos.


Mereka pikir kalau Rendi adalah anak pemilik perusahaan, karena itulah Aranka begitu sopan padanya.


Kedua tamu itu menatap sinis Rendi, mereka yakin kalau Rendi hanyalah anak orang kaya yang berlagak seperti bos, dengan kekuatan Ayahnya, mengingat Spin Company merupakan perusahan elektronik terbesar di Jakarta.


"Siapa mereka?" tanya Rendi setelah duduk di kursi.


Aranka dengan sigap menjawab. "bos, mereka berdua wakil perusahaan Astra Company, untuk mengajukan kerja sama dengan kita."


"Salam tuan." ucap mereka santai pada Rendi.


Rendi mengerutkan keningnya, melihat dari gelagat keduanya, Rendi merasakan ada yang tidak mengenakan hatinya.

__ADS_1


"Boleh aku melihat berkas-berkas yang mereka ajukan?" tanya Rendi sopan pada Aranka.


"Ini, silahkan bos." Aranka mendekatkan berkas-berkas kerjasama yang di berikan pihak Astra Company padanya ke Rendi.


Rendi mengambil berkas-berkas tersebut, meskipun ia masih SMA, tapi dengan otaknya yang sudah berevolusi, ia sudah tahu semua mengenai seluk beluk perusahaan.


Rendi mengerutkan keningnya saat melihat kesepakatan yang ada di dalam berkas tersebut. Ternyata dugaannya benar kalau mereka berdua tampaknya akan menipu perusahaannya.


"Apa kamu sudah membaca berkas ini?" tanya Rendi pada Aranka.


"Sudah bos, kurang lebih semua yang di tawarkan mereka berdua masuk akal, saya rasa tidak ada salahnya menerima mereka sebagai partner kita." jawab Arabia yakin.


Rendi menghela napas. "aku menolaknya, biarkan mereka mencari perusahaan lain saja!"


Seketika semua yang ada di sana terkejut, kedua wakil perusahaan Astra yang tadisl sudah terlihat senang, wajah mereka terlihat cemberut.


"Bocah! Kamu jangan sembarangan mengambil keputusan! Walaupun kamu anak pemilik perusahaan ini, tapi kamu tidak bisa memutuskan dengan sepihak!" salah satu wakil Astra Company meraung marah pada Rendi.


"Benar! Tuan Aranka, saya tidak menyangka kalau perusahaan ini tidak kompeten, dan ada bocah yang berusaha merusak kerjasama kita!" temannya menimpali.


Rendi menyeringai, ia menyenderkan tubuhnya di kursi dan mengangkat kakinya di meja sambil menatap santai kedua pria paruh baya yang ada di hadapannya.


"Bos, apa anda yakin, mereka benar-benar akan memberikan kita keuntungan." Aranka berbisik pada Rendi.


Rendi tidak mendengarkan Aranka, ia mengambil berkas tersebut dan mengambil sebuah kertas yang ada di berkas tersebut.

__ADS_1


"Kalian berdua pikir bisa membodohi ku dengan ini?!" Rendi membasahi kertas tersebut dengan Air.


Seketika tulisan di kertas itu luntur dan menghilang, kertas tersebut merupakan isi detail kontrak perjanjian, dimana di bawahan-nya akan di isi tanda tangan kedua belah pihak.


Aranka terkejut, ia tidak memerhatikan kertas itu dengan baik, sehingga ia tidak menyadari kalau kertas tersebut sudah di manipulasi sedemikian rupa, agar bisa menimbulkan dan menghilangkan tulisan.


Kedua pria paruh baya yang rahasianya terbongkar, mereka mulai panik, keduanya tidak menyangka kalau Rendi akan mengetahui cara liciknya itu.


"Apa kalian masih mau mengelak?" Rendi menurunkan kakinya dari meja dan tersenyum pada kedua pria paruh baya itu.


"Tuan Haryo! apa maksudnya ini!" Aranka meraung marah, ia merasa telah di bodohi oleh keduanya.


"Ka-kami tidak tahu dengan semua ini tuan Aranka, kami hanya menjalankan tugas." Haryo mengelak agar tidak menjadi sasaran kemarahan Aranka.


"Simpan saja semua kebohonganmu di penjara!" Aranka langsung menelpon Security.


Keduanya mau kabur meninggalkan ruang tersebut. Namun, Hendri yang sedari tadi berdiri di balik pintu ruangan tersebut, dengan sigap membekuk mereka berdua.


Rendi berdiri. "lain kali baca dengan teliti berkas kontraknya, kali ini aku memaafkanmu, tapi lain kali aku bisa saja mendepakmu dari kursi nyamanmu!" ucap Rendi seraya pergi meninggalkan Aranka.


"Saya minta maaf bos! Saya berjanji akan lebih teliti lagi!" Aranka membungkuk hormat saat Rendi pergi dari ruangannya.


Rendi berhenti saat tepat di hadapan dua pria paruh baya yang tersungkur di lantai akibat di hajar Hendri.


"Pria tua, biar aku beritahu kalian satu hal, aku pemilik Spin Company, jadi jangan berharap bisa mengelabuhiku!" setelah mengatakan itu, Rendi pergi dari sana.

__ADS_1


Bersamaan dengan kepergian Rendi, Security datang dan langsung menyeret kedua pria paruh baya itu. Aranka hanya bisa terduduk sedih karena bisa kecolongan seperti itu.


__ADS_2