
Rendi yang tahu kalau pria sepuh itu yang membuat hidupnya berubah, ia meyakini kalau sosok tersebut bukanlah orang jahat.
"Kakek, sebenarnya siapa? Dan kenapa Kakek memberikan saya kekayaan dan kekuatan seperti sekarang?" tanya Rendi memastikan.
Pria sepuh itu mengusap jenggot putihnya, "Rendi Murdianto, dulu kamu adalah pria yang hidupnya sangat menyedihkan, kamu di reinkarnasi untuk mendapatkan kehidupan yang layak, karena kelalaianku dalam mencarikan kamu raga untuk bereinkarnasi, kamu terlahir di keluarga yang sangat menyedihkan, semua itu salahku karena saat mengantar rohmu dalam keadaan mabuk."
Pria sepuh itu terlihat sangat bersedih, ia kemudian melanjutkan, "aku lupa rohmu berada di keluarga mana, selama ini aku mencari-cari kamu, dan baru bertemu sekarang, Sistem Spin adalah mukjizat pemberian sang pencipta untukmu, dengan benda itu, aku harap kamu bisa hidup bahagia, agar aku bisa sedikit meringankan dosaku, maafkan aku Rendi."
Pria sepuh tersebut tiba-tiba berdiri dan membungkuk hormat pada Rendi.
Rendi yang masih mencerna kata-kata pria sepuh itu, ia hanya tertegun di tempatnya, karena di dunia modern seperti itu, mana ada yang namanya reinkarnasi.
"Terus, kakek ini sebenarnya siapa?" tanya Rendi pongah.
"Dewa Reinkarnasi, aku memanggilmu ke sini untuk menyampaikan permintaan maaf ku, aku harap kamu bisa memaafkan aku Rendi." ucap Pria sepuh itu tulus.
"Jadi Kakek, sengaja memberikan benda itu padaku?" tanya Rendi memastikan.
"Begitulah, aku harap kamu bisa memanfaatkannya dengan baik, ingat jangan serakah!" setelah mengatakan itu Pria sepuh perlahan menghilang.
"Kakek, Kakek! Tunggu aku masih mau bicara lagi!" Rendi berusaha meraih pria sepuh itu.
Cemol!
__ADS_1
"Eh ... kok empuk?" ucap Rendi yang sudah kembali tersadar dari alam bawah sadarnya, dan terbangun dari tidurnya.
Bukannya melepaskan tangannya, Rendi malah semakin gemas mencengkram benda kenyal yang ada di tangannya.
"Ren ... emmhh...." terdengar ******* dari dua orang gadis yang sebelah gunung kembarnya di pegang oleh tangan Rendi masing-masing.
Rendi baru sadar, ia melihat Novi dan Sulis yang wajahnya terlihat memerah, ia kemudian melihat tangannya, Rendi menelan ludah, bukannya langsung melepaskan ia semakin gencar memainkannya.
"Rendi!" kedua gadis itu kehilangan kesabaran dan menampar Rendi bersamaan, sehingga terciptalah cap lima jari di pipi Rendi.
Sebenarnya kedua gadis itu membiarkan Rendi barusan bukan karena apa, mereka mengira kalau Rendi tidak sengaja melakukan hal tersebut, tapi setelah Rendi semakin gencar memainkan gunung kembarnya, baru mereka tersadar, kalau itu sudah salah.
"A-du-duh ...." Rendi memegangi kedua pipinya yang memerah, ia meringis kesakitan karena tamparan kedua gadis tersebut sangat keras.
"Hahahaha ...." tiba-tiba terdengar suara gelak tawa dari arah pintu.
Novi dan Sulis mengerutkan keningnya, mereka berdua saling menatap dan mengangguk bersamaan. Keduanya berdiri dan mendekati Samiun.
Bang
Aduh
Samiun yang sedang tertawa, ekspresinya wajahnya langsung seperti orang yang sedang menahan sakit perut, saat masa depannya di tendang bersamaan oleh Novi dan Sulis.
__ADS_1
Rendi yang melihat itu menelan ludah dan memegangi pusakanya, ia yakin itu sangat sakit dan mules tentunya.
"Tertawa lagi, coba!" hardik Novi sambil menyilangkan tangannya di depan dada dan menatap Samiun dengan tajam
"A-mpu-n m-bak b-os." ucap Samiun terbata karena menahan sakit.
Rendi menghela napas, "Kalian berdua sudahlah, kasihan dia." tegur Rendi pada kedua gadis yang selalu bersamanya itu.
"Kamu juga mau?!" Sulis memelototi Rendi.
Reflek Rendi menggelengkan kepalanya, ia tidak mau nasibnya sama seperti Samiun, walaupun bisa melawan, tapi kekuatannya bukan untuk menyakiti seseorang.
Novi dan Sulis membuang muka, mereka berdua pergi ke dapur, Rendi menghela napas lega, ia beranjak dari duduknya dan mendekati Samiun.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rendi sambil mengulurkan tangannya.
"Tidak apa-apa, apanya bos? Telurku sepertinya mau pecah ini, mana hanya dua butir lagi." jawab Samiun tidak berdaya.
Rendi tersenyum getir, ia tahu kalau rasanya pasti sampai ke seluruh tubuh, ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi Samiun.
Rendi memapah Samiun untuk berdiri, kemudian membawanya masuk, agar tidak meringkuk di depan pintu kontrakannya.
"Ada apa kamu kemari?" tanya Rendi pada Samiun yang sudah duduk bersender di dinding.
__ADS_1
"Anu bos, kata bos Harisman, kita gak boleh mencari uang kotor lagi, seperti parkir liar dan sebagainya, aku kemari mau minta di cariin bos pekerjaan, soalnya aku jadi tulang punggung keluarga bos, sudah tiga hari ini aku gak dapat uang, adik-adik kasihan mau jajan saja gak bisa." ucap Samiun sendu.
Rendi terkejut dengan pernyataan Samiun, ia tidak menyangka jika bawahannya itu yang tampangnya sangar tapi bodoh, sangat bertanggung jawab, sehingga membuatnya merasa iba terhadapnya.