Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Bukan Pencitraan


__ADS_3

Sasa tertidur sampai larut malam untuk melobi pihak perusahaan yang mau bernegosiasi malam itu juga. Tentu Sasa mengalami kendala dari ada yang sudah tutup, hingga mereka tidak menggubris Sasa. Untungnya ada satu perusahaan yang mau bernegosiasi dengan Sasa, sehingga wanita itu sangat senang dan langsung menghubungi Rendi kalau harganya sudah jadi.


Rendi meminta Sasa mengirimkan nomor rekeningnya, dan ia pun langsung mentransfer uang ke Sasa.


Wanita itu terkejut saat Rendi mengirim uangnya lebih satu juta rupiah, dan ada pesan kalau uang tersebut untuknya sebagai tanda terimakasih karena sudah mau bekerja di malam hari.


Sasa yang awalnya kesal dengan Rendi, tentu saja langsung senang, siapa yang tidak senang dapat uang satu juta dengan singkat.


...***...


Ke esokan harinya....


Rendi memapah Ibu Ronal masuk ke dalam mobil yang Hendri bawa, karena ia tahu mobilnya tidak mungkin untuk membawa mereka dan barang-barangnya. Ia menyuruh Rohis dan Hendri untuk membawa barang-barang keluarga itu yang masih layak untuk di masukkan kedalam mobil yang di bawa Hendri.


"Semuanya sudah bos," ucap Hendri mantap.


"Bagus, kita langsung berangkat saja sekarang ke alamat ini." Rendi menunjukkan alamat yang di berikan Sasa kepada dua sopirnya itu.


"Siap bos!" jawab mereka serempak.


Ronal dan Ibunya merasa senang karena mereka akan memiliki rumah sendiri yang di berikan Rendi.


Mereka hanya bisa mengatakan terimakasih kepada Rendi sepanjang jalan dan terus mendoakan Rendi.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, mereka sampai di komplek perumahan yang alamatnya Sasa kirimkan.


Komplek tersebut cukup tertata rapi, rumahnya juga tidak terlalu kecil, menurut Rendi cukup untuk tinggal Ronal dan Ibunya.


Terlihat Sasa sedang berdiri di depan rumah bersama dengan seorang pria yang tidak lain adalah manajer perusahaan property yang menaungi komplek perumahan itu.


"Selamat datang tuan," sapa pria itu dengan sopan, karena ia sudah di beritahu siapa Rendi oleh Sasa.


Rendi mengangguk. "Apa berkas-berkasnya sudah siap?" tanya Rendi langsung.


"Sudah tuan, hanya perlu tanda tangan yang akan menjadi pemilik rumah ini," ucap orang tersebut sambil menyerahkan berkasnya kepada Rendi.


Rendi langsung membuka berkas tersebut dan mengeceknya secara langsung, setelah semuanya tidak masalah, Rendi mengangguk puas.


"Hoam..." Sasa menguap, ia bergegas menutup mulutnya dan memberikan Bolpoin kepada Rendi.


Rendi mengernyitkan dahi, ia mengambil Bolpoin Sasa dan memberikannya kepada Ibu Ronal. Sasa tersenyum getir, ia sadar telah melakukan hal yang tidak sopan di depan bos besarnya itu.


"Bu, tanda tangan di sini!" perintah Rendi lembut.


Ibu Ronal mengangguk, ia mengambil Bolpoin dan tanda tangan di sana. Rendi tersenyum, ia menutup berkas tersebut, memberikannya kepada Ibu Ronal.


"Mulai hari ini, rumah ini milik Ibu, sekarang kalian bisa menjalani hidup baru di sini, dan juga aku sudah menyiapkan perabotan lengkap di dalam dengan sembako yang cukup untuk dua bu...."

__ADS_1


Rendi belum selesai bicara, Ibu Ronal langsing bersimpuh di kaki Rendi dan menangis bahagia, adik Ronal yang melihat orang tuanya menangis, reflek bocah itu juga menangis.


Rendi terkejut, ia bergegas menyuruh Ibu Ronal berdiri, karena tidak semestinya ia memperlakukannya seperti itu.


"Terimakasih banyak Mas Rendi, Ibu tidak tahu harus membalas kebaikan Mas Rendi dengan apa. Ibu hanya bisa berdoa agar Mas Rendi berumur panjang dan rejeki Mas Rendi lancar." ucapnya sambil berlinangan air mata.


"Terimakasih atas doanya Bu, sekarang kita masuk ke dalam, Ibu jangan menangis lagi kasihan dedek juga ikut menangis," ucap Rendi lembut.


Ibu Ronal mengangguk-anggukkan kepalanya, mereka kemudian masuk ke dalam. Rendi menyuruh membawa barang-barang keluarga itu masuk ke dalam rumah juga.


Terlihat rumah tersebut memiliki dua kamar tidur, satu kamar mandi dan Dapur tentunya. Ronal bersama Ibunya sangat senang, apa lagi di sana ada TV juga.


Rendi tidak membelikan mereka kulkas ataupun mesin cuci, karena menurutnya itu akan memberatkan mereka di tagihan listrik, ia lebih memilih memberikan mereka uang untuk membuka usaha kecil-kecilan, sebesar lima belas juta rupiah.


Tentu saja Ibu Ronal sangat senang sekali, Rendi begitu dermawan kepadanya. Ronal juga berjanji akan bekerja keras agar bisa seperti Rendi kelak.


Rendi hanya mengiyakan cita-cita Ronal, ia juga berharap bisa membantu lebih banyak orang lagi. Dari kejadian tersebut Rendi semakin menguatkan tekadnya untuk merubah negaranya tersebut, agar tidak ada lagi orang-orang yang bernasib sama seperti Ronal dan Ibunya.


Setelah semuanya di serahkan kepada Ibu Ronal, Rendi pamit undur diri bersama dengan para bawahannya.


Di dalam mobil, Sasa yang satu mobil dengan Rendi, ia memerhatikan bosnya dengan seksama.


Apa ini sifat asli dia? Terlihat menakutkan dengan saingan bisnisnya, tapi sekarang terlihat dermawan untuk kalangan bawah, jika di negara ini banyak orang sepertinya, kemungkinan negara ini tidak akan carut marut seperti sekarang.

__ADS_1


Sasa mengagumi Rendi di dalam hati, menurutnya orang kaya, seperti Rendi sudah sangat jarang di negaranya, jikapun ada mereka hanya melakukan pencitraan publik, membantu tapi untuk mendapatkan uang, berbeda dengan Rendi yang tulus membantu tanpa banyak orang yang mengetahuinya.


__ADS_2