
Setelah bawahannya menutup kedai, Rendi juga kembali ke kontrakannya. Namun, karena ia sudah tidur dari sore hingga jam sembilan malam, ia terjaga sampai jam dua dinihari, sebelum ia akhirnya kembali terlelap lagi.
Kehidupan Rendi memang sudah sangat nyaman, mungkin kekurangannya hanya keluarga saja, ia sering merasa kesepian jika sedang sendirian, tidak ada tempat untuk dirinya bersandar saat lelah.
...***...
Pagi-pagi di rumah Novi, ia sedang sarapan pagi bersama kedua orang tuanya.
"Nov, Ayah minta nomor Rendi, ada sesuatu yang mau Ayah bicarakan dengannya." Suroto buka suara sambil menyiapkan sesuap nasi kedalam mulutnya.
"Bicara apa, Ayah?" tanya Novi penasaran.
"Masalah emas kemarin, rencananya Ayah akan ke Jakarta mengajak Rendi, untuk menemui teman Ayah di sana."
"Loh, tapi Rendi kan masih sekolah, Ayah?"
"Itu Maslaah gampang buat dia, Ayah yakin Rendi bakal di ijinkan beberapa hari tidak masuk sekolah."
Lidia yang ada bersama mereka hanya menyimak pembicaraan Anak dan Suaminya itu, sebelum akhirnya ia juga ikut bicara.
"Perusahaan Rolex yang ada di Jakarta mau melihat emas yang Ayah ceritakan, kami rencananya akan pergi besok, benarkan Ayah?" ucap Lidia lembut.
__ADS_1
Suroto tersenyum, "seperti itulah, jika kerjasama ini berhasil, Rendi bakal memiliki koneksi di luar, bukankah itu bagus?"
"Apa aku boleh ikut, Ayah?" Novi terlihat memelas.
"Bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Suroto pada anaknya itu.
"Rendi saja boleh iku, masa aku tidak sih? Kan aku juga bisa minta ijin." jawab Novi meyakinkan orangtuanya.
"Mana bisa? Rendi dan Ayah akan melakukan bisnis, lah kamu di sana mau apa?" Suroto tidak mengijinkan anaknya.
"Benar Nak, kami pergi ke Jakarta juga buat bisnis, kamu biasanya juga tinggal di rumah." ucap Lidia lembut.
"Tapi Ayah, Ibu ...." terlihat mata Novi berkaca-kaca.
Novi hanya bisa menghela napas kasar, ia mau tidak mau harus menuruti perintah kedua orangtuanya.
Gadis itu memberikan nomor Rendi pada orang tuanya, ia kemudian bergegas berangkat sekolah, daripada kesal melihat wajah Ayahnya, yang tidak mengijinkannya ikut ke Jakarta.
Suroto tanpa ragu menghubungi Rendi, sementara itu Rendi masih tertidur di kontrakannya.
Mendengar bunyi dering Ponselnya, ia terbangun dan mengangkatnya. "Halo."
__ADS_1
"Halo Ren, ini Om!" terdengar suara Suroto di seberang telepon.
Rendi langsung membuka matanya lebar dan bergegas duduk. "iya, ada apa yah Om?"
"Besok Om akan ke Jakarta untuk membahas emas kamu dengan kenalan Om, apakah kamu bersedia ikut dengan Om ke Jakarta?" tanya Suroto lembut.
"Tapi Om, aku kan sekolah." jawab Rendi pongah.
"Gampang itu, kamu tinggal ijin, bilang saja kamu ada bisnis yang harus di urus, Om yakin guru kamu bakal ngerti, kok." Suroto meyakinkan Rendi.
Rendi terlihat berpikir sebentar, ia kemudian teringat dengan rumah mewahnya, ia pikir ini kesempatan untuk dirinya melihat rumah mewah tersebut.
"Baiklah Om, aku akan ikut!" jawabnya mantap.
"Bagus, besok Om bakal jemput kamu!" Suroto langsung mematikan ponselnya.
Rendi tersenyum sambil melihat ponselnya, "Sistem memang keren, di tahu saja kalau aku ingin melihat rumah mewahku!"
Rendi sangat yakin, kalau ajakan Suroto bukan hanya kebetulan, mengingat Sistem telah melakukan semua keinginan Rendi dengan baik. Karena itulah Rendi berpikir kalau Sistem sengaja mengatur semua itu untuk dirinya.
"Astaga, aku kesiangan!" wajah sumringah Rendi berganti dengan wajah tergesa-gesa, saat melihat jam dinding sudah hampir menunjukkan pukul tujuh pagi.
__ADS_1
Rendi bergegas mandi, bersiap-siap dan langsung pergi ke sekolahnya dengan buru-buru.
Saking buru-burunya Rendi lupa kalau pintu kontrakannya tidak di kunci sama sekali.